My Future Husband

My Future Husband
Membuat Joe Marah


__ADS_3

Kinara duduk termenung membayangkan bagaimana nasibnya besok.


Apa semua ini miliknya akan dirampas oleh Joe. Semua ini sudah melanggar hak asasi manusia.


Wajah Kinara adalah wajah yang sudah dititipkan oleh Tuhan ke Kinara. Maka semua tentang tubuh dan wajah Kinara sudah menjadi hak utuh buat Kinara.


Kenapa semua menjadi seperti ini? Padahal Kinara tidak pernah merasa punya musuh.


Jika memang cinta yang membuatnya seperti ini. Maka Kinara dengan lapang dada akan mengikhlaskan kepergian Sean. Walaupun harus merasakan sakit.


Jika memang jodoh maka Kinara akan bertemu lagi dengan Sean. Tapi jika menang bukan Sean yang menjadi jodoh di bumi dan di surga maka Kinara siap mengikhlaskan kepergian Sean.


Bagaimana pun Kinara tidak akan mudah. Ia pasrahkan akur cerita hidup nya pada Tuhan. Hidup di dunia itu hanya sesaat. Jika mati bukan karena hendak Tuhan, Kinara juga tidak mendapat dosa.


Lamunan Kinara tersentak saat mendengar pintu dibuka.


Para pasukan Red Blood yang ada di dalam ruang bawah langsung berdiri memberikan salam. Berbeda dengan Kinara dia hanya duduk di atas alas batu besar.


Tubuhnya sangat lemas sekarang. Pantas saja sebab dari ia kabur hanya diisi oleh buah-buahan. Itu belum makan sama sekali makanan yang berkharbohidrat.


Mata Kinara menatap dua orang yang sedang berjalan ke arahnya. Joe tersenyum menyapa Kinara kejauhan.


Huft!


Sandiwara aja terus. Bathin Kinara dongkol melihat senyum dramatis dari Joe.


Dari lubuk hati Kinara saja sudah tau jika wanita itu hanya memanfaatkan saja. Itu tidak lebih dari ketulusannya. Namanya saja Joe, gadis bermuka dua.


"Gimana kabar Lo?." Tanya Joe duduk disamping Kinara. Dia tersenyum menelisik tubuh Kinara apakah ada yang terluka.


Pandangan matanya terfokus pada luka disekitar leher Kinara. Merah dan membiru, jika diobati tidak butuh hanya satu atau dua hari.


Kinara membalas senyum Joe. Dia harus ikuti semua sandiwara Joe sekarang. Apapun itu agar wanita itu tidak curiga.


"Gue baik."


"Kinara gue minta maaf soal tadi." Ucap Joe.

__ADS_1


"Tidak apa. Semua sudah berlalu jadi lupakan saja." Saut Kinara tersenyum lebar.


Apa dia tidak marah? Kenapa hati Kinara baik sekali. Sudahlah jika dia tidak marah maka tak perlu repot-repot gue bujuk dia. Bathin Joe.


"Apa ini sakit?." Tanya Joe hendak meraih luka di leher Kinara. Ia merasa kini melihat luka itu.


Di leher Kinara ada luka yang melingkar di sekitar lehernya. Warnanya merah dan biru. Sepertinya luka itu lebam dan tampak sangat nyeri.


Joe berpikir apa dia tadi sekuat itu menekan leher Kinara. Perasaan tidak seperti itu. Tapi kenapa lukanya begitu parah dan mengerikan.


Lain kali Joe harus berhati-hati. Jika dokter besok tau tentang tindakan kekerasan disini. Semua rencananya akan gagal total. Jika rencananya di undur Joe tidak bisa. Ia sudah terlanjur janji dengan Sean.


Dalam waktu tiga hari itu Joe ingin Kinara sudah bertukar wajah. Dan dalam waktu singkat itu pasti wajahnya sudah kering dari luka operasi plastik.


"Tidak! Ini hanya luka kecil masih bisa gue tahan " jawab Kinara kesal.


"Maafin gue. Gue nggak sengaja." Jawab Joe.


Kinara menggangguk cepat. Dia berusaha untuk tersenyum ikhlas tapi tidak bisa.


Dalam hatinya ingin sekali membalas perbuatan Joe. Tapi tidak sekarang, waktunya belum tepat. Tunggu sampai keadaan membaik. Baru dia bisa membalas apa yang Joe lakukan.


Tatapan Joe menggelap tak menyangka jika Kinara akan menyindirnya. Tapi semua amarah itu Joe Tahan. Ia tidak mau melukai Kinara sebelum hari operasi plastik itu berjalan lancar.


"Apa maksudnya Kinara? Gue tidak mungkin melakukan itu." Kilah Joe cepat.


Kinara tertawa sinis. Tapi itu di dalam hatinya.


"Bagiamana dengan mereka Joe?." Tuding Kinara melihat penjara bawah tanah ada beberapa orang kesakitan. Bahkan luka di tubuhnya masih belum kering.


Kinara tau jika semua orang itu disiksa habis oleh Joe. Tapi Kinara pura-pura bodoh agar Joe tidak tersinggung saat menanyakan.


Dan sekarang waktunya Kinara bertanya itu. Dia menunjuk orang-orang yang terluka disana. Apalagi bau anyir darah di ruang bawah sangat tercium kuat. Itu tanda jika disitu ruang penyiksaan.


"Apa mereka disini untuk berobat Joe? Atau malah sebaliknya?." Ucap Kinara tersenyum miring.


Dito menggeleng kepalanya untuk menghentikan aksi bicaranya. Ia tak ingin Kinara terluka lagi. Memang Kinara itu gadis yang nakal sudah beberapa kali dikasih tau tetap saja membangkang.

__ADS_1


Hal itu sama sekali tidak dihiraukan Kinara. Ia malah menantang Joe dengan tatapan tajamnya.


"Kinara...... sebaiknya Lo tutup mulut Lo dan bungkam semua itu seolah tidak tahu apa-apa!! Gue pergi dulu, jangan lupa makan dan istirahat yang cukup." Pamit Joe dengan tatapan gelapnya. Dia menahan rasa amarahnya itu di dalam hatinya.


Jika saja Joe tidak sabaran. Maka dengan mudah bisa saja Joe memukul Kinara dengan cepat.


"Terimakasih Joe atas perhatian anda. Gue berharap semua ini tulus dari hati ke hati." Saut Kinara cepat.


Joe menghentikan langkahnya dengan dada bergemuruh hebat.


Bertemu dengan Kinara selalu saja membuat Kinara murka.


"Istirahatlah Kinara, tiga hari lagi gue akan kembalikan Lo." Ujar Joe menatap Kinara dengan tajam. Lalu berbalik meninggalkan Kinara lagi..


Sudah cukup sehat rupanya Kinara. Dia memang bukan gadis yang lemah. Joe sekarang ingin menenangkan diri di kamar.


Setelah itu baru istirahat. Kinara memang selalu merusak mood Joe. Padahal tadi Joe datang dengan hati yang gembira tapi sekarang dia harus keluar dengan muka gelapnya.


Dito segera mendekati Kinara dengan tatapan iba.


"Sudah gue bilang jangan pernah membantah ucapan Joe, Kinara." Kata Dito duduk di sebelah Kinara. Menatap wajah Kinara dengan rasa khawatir.


Kinara membalas itu dengan senyum lebarnya. Sepertinya berada di tempat sini mebuat Kinara semakin berani bertindak.


"Ini kenyataan Dito. Gue tanya sama Joe, jika dia tidak salah kenapa harus marah?." Ucap Kinara dengan entengnya.


"Jangan pernah berucap apapun jika Joe tidak bertanya!!." Tegas Dito. Dia hanya tak ingin Joe tidak bisa menahan amarahnya.


"Kenapa?! Bahkan gue nggak pernah takut jika Joe yang bung gue dengan tangannya sendiri Dito......"


"Tidak!! Lo dengar Joe bilang apa tadi? Tiga hari lagi dia akan kembalikan Lo Kinara. Bersabarlah dikit saja." Ucap Dito memohon.


"Baiklah Dito. Gue mau makan, apa Bimo sudah tiba?." Tanya Kinara menyudahi tawanya.


Dito melirik jam arlojinya itu untuk memastikan berapa lama lagi Bimo tiba.


"Sebentar lagi. Tunggu saja nanti dia akan datang. Apa Lo udah lapar?."

__ADS_1


"Iya Dito. Kasian cacing-cacing gue disini udah kelaparan." Saut Kinara dengan cemberut.


Dito terkekeh dengan hal itu. Kinara itu cantik gadis yang mandiri dan pemberani. Dito selalu betah jika harus bercanda gurau dengan Kinara. Baginya itu semua seperti penyejuk pikirannya disaat capek.


__ADS_2