
Febri masuk ke dalam rumah, ia melihat Arkan duduk bersila di kursi. Febri terdiam ia menatap Arkan takut, Arkan tidak mengetahui kepergiannya tapi Febri merasa bersalah pergi diam-diam tanpa meminta izin Arkan. Tapi Arkan menyambutnya dengan senyuman hangat, entah kenapa hati Febri merasa sakit melihat senyum manis itu.
"Kamu sudah pulang sayang," ucap Arkan lembut.
"Iya,"
"Kemari," Arkan menepuk pahanya mengisyaratkan Febri untuk duduk disitu. Walau Febri merasa sedikit risih, karena ia jarang bersentuhan dengan Arkan secara fisik.
Febri menuruti perkataan Arkan, Arkan memeluk Febri erat. Ia menghirup aroma Febri mencari ketenangan.
"Tadi saya habis dari rumah sakit, ibu penyakit jantungnya kambuh." Febri terdiam, ia merasa tambah bersalah mengetahui ibu Arkan sakit tapi dia malah bersenang-senang dengan pria lain.
"Saya tidak pernah tahu ibu sakit, padahal ibu selalu terlihat kuat di mata saya." Febri bergerak memeluk Arkan menenangkan, ketika ia merasa arkan akan menangis. Mereka terdiam beberapa lama. Hingga Arkan melepaskan pelukannya namun tangannya mengengam tangan Febri erat. Seolah mencurahkan rasa sakitnya saat ini, Arkan terlihat begitu rapuh di matanya.
__ADS_1
"Ibu baik-baik saja?" tanya Febri pelan, Arkan mengangguk menjawab itu, ia menarik Febri agar kepalanya bersender di pundaknya.
"Kamu tahu hanya dengan memeluk kamu saja, kemarahan saya langsung pudar entah kemana, untuk marah saja aku tak mampu, rasanya hanya ingin melindungi kamu tanpa ada mau menyakiti kamu" ujar Arkan.
Febri terdiam, ia bisa merasakan detak jantung Arkan yang berdebar begitu kencang di dekatnya dan anehnya jantungnya juga ikut berdebar merasakan pergerakan itu.
"Febri, kamu mendengarnya bukan?" tanya Arkan, tangannya bergerak menuntun Febri untuk merasakan debar jantungnya.
"Saya benar-benar tulus mencintai kamu Febri." Febri mendengar kalimat yang tak lagi asing di inderanya, ia bingung harus menjawab apa. Ia dilemma, ia merasa jahat karena telah mempermainkan dua pria baik.
Mata Arkan menatap Febri, begitu juga dengan Febri matanya berkaca-kaca penuh penyesalan. Mereka menatap cukup lama, hingga Arkan mencium kening Febri lembut dan lama.
"Saya hanya tidak suka ada yang menyentuh milik saya, selain saya." Kalimat Arkan membuat Febri terdiam. Apakah Arkan tahu tentang Dikau yang mencium keningnya? Febri hanya bisa diam.
__ADS_1
"Ibu melihat kamu dengan Dikau," mata Febri membulat mendengar itu.
"Maaf," Febri menunduk, ia siap menerima kemaharan Arkan, ia siap menerima semua cacian dari Arkan. Karena ia memang pantas mendapatkannya.
"Tidak apa-apa," Arkan tersenyum mendengar itu. Febri takjub mendengar itu, ia kira Arkan memarahinya tapi yang ia dapat adalah senyum manis milik Arkan, seolah-olah itu bukanlah hal besar yang perlu di perdebatkan.
"Love you," bisik Arkan lirih sambil memeluk Febri erat.
"Maafkan aku," hanya itu yang bisa Febri katakana, Febri sedih, ia tidak bisa berkata-kata. Namun melihat perilaku lembut Arkan padanya membuatnya tambah merasa bersalah. Seharusnya Arkan menghukumnya bukan memeluknya seperti ini. Apalagi ia lah yang membuat Ibu Arkan sakit. Kenapa harus ada pria sebaik Arkan? Dan pria itu masih bisa tersenyum di hadapannya. Kenapa pria itu masih berkata mencintainya walau dia telah menyakitinya begitu dalam. Ini semua karena kebodohannya.
**
jangan lupa follow Instagram author @wgulla_
__ADS_1