
JANGAN LUPA DENGER LAGUNYA YG DIATAS BADAI PROJECT MELAMARMU
Arkan menatap Febri kesal, wanita itu masih sibuk dengan ponselnya. Arkan menduga pasti Febri sedang mengirim pesan dengan Dikau. Arkan langsung menghentikan mobilnya mendadak, dan itu membuat Febri terkejut.
"Ada apa mas?" ujar Febri menatap Arkan bingung, karena berhenti mendadak.
"Berikan ponsel mu," jawab Arkan.
"Apa?"
"Ponselmu berikan padaku,"
"Tapi mas," Febri menolak.
Arkan menghela napas, ia tidak suka di tolak seperti ini.
"Saat sedang bersama saya, jangan pernah berani memikirkan ataupun berhubungan dengan orang lain."
Febri tertegun, "Sayang," Arkan mencoba melembutkan suaranya.
"Saya ingin membuat kamu jatuh cinta pada saya, jika raga kamu disini tapi pikiran kamu melayang entah kemana, lalu apa gunanya kamu memberikan kesempatan pada saya." Arkan menatap Febri.
Febri memberikan ponsel itu dengan ragu, Arkan mengambilnya cepat kemudian di masukkan dalam dashboard mobil lalu menguncinya.
"Anak pintar," ujar Arkan sambil mengusap kepala Febri.
Kemudian mobil Arkan kembali melaju melintasi jalan raya.
*****
Febri menatap Arkan bingung, ketika pria itu menghentikan mobilnya di rumah. Bukankah pria itu sendiri yang ingin mengajaknya berkencan, lalu untuk apa harus ke rumah. Arkan. Arkan terkekeh melihat raut wajah Febri yang kebingungan. Arkan memang sengaja mengajak kencan itu di rumah mereka. Arkan ingin melakukan suatu hal yaitu membangkitkan ingatan Febri tentang masalalunya.
Febri dulu sempat kecelakaan, itu semua karena kebodohannya. Karena ia tidak ingin menyakiti Febri, Arkan memilih untuk pergi meninggalkan Febri, bahkan ia baru tahu jika Febri kehilangan ingatannya. Ketika pertama kali melihat Febri ia ragu jika itu Febrinya, karena wanita itu tidak mengenalinya. Namun setelah permintaan ibunya untuk menikahi Febri, ia barulah sadar jika Febri itu memang Febrinya.
Arkan tidak ingin jadi pengecut seperti dulu, ia akan membuktikan pada Febri jika ia memang pantas untuk Febri.
Arkan menutup mata Febri dengan ikatan, membimbingnya menuju halaman belakang rumah. Febri terdiam, ia penasaran dengan hal yang ingin Arkan tunjukkan padanya.
Arkan membuka penutup mata itu, ia tersenyum melihat rawut wajah Febri yang kebingungan melihat gambar dampu(demprak) di belakang rumah mereka. Febri kebingungan melihat permainan yang biasanya di mainkan anak-anak tersebut, Arkan langsung membalikan badannya menghadap Febri tepat di atas dampu tersebut. Permainan ini adalah permainan yang sering mereka mainkan dulu.
"Ayo kita main," ajak Arkan.
"Tapi mas," tolak Febri merasa aneh dengan tingkah Arkan.
Arkan langsung mengenggam tangan Febri, kakinya diangkat satu. Arkan meloncat mundur karena tubuhnya yang terbalik dengan arah, sedang Febri ia meloncat ke depan. Sesungguhnya hatinya berdebar berada sedekat ini dengan Arkan. Tapi lama kelamaan dia menikmati bahkan di saat ia akan jatuh Arkan berusaha menangkapnya. Febri tidak berhenti menerbitkan senyum di bibirnya. Mereka melompat lagi kali ini ke kotak yang berisi dua jadi kedua kaki mereka harus menginjak bumi. Febri meraskan dejavu, ia seperti pernah merasakan seperti ini.
Kedua kaki Febri dan Arkan menginjak bumi, Febri menelan ludah merasakan ke dekatan seperti ini. Tidak ada jarak diantara mereka, hal itu membuat Febri gugup hingga mereka terjatuh. Febri jatuh di atas tubuh Arkan.
"Maaf," Ujar Febri ia ingin bangkit, namun Arkan menahannya. Membuat mereka masih berada di posisi tersebut, Febri bersemu malu. Di jarak sedekat ini ia bisa melihat ketampanan Arkan yang baru ia sadari, mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang begitu penting di hidupnya, tapi entah siapa Febri tidak bisa mengingatnya.
"Ada yang ingin aku tunjukkan," ujar Arkan sambil menggenggam tangan Febri erat.
Arkan langsung menarik Febri hingga ia tidur di sebelahnya. Mereka tiduran di teras belakang tanpa alas. Langit sore itu begitu indah, warna jingganya menyelimuti langit. Arkan menunjuk pemandangan itu, lalu mulut Arkan bergerak bernyanyi walau suaranya tidak bagus tapi ia tetap mencoba menyelesaikan lagunya. Hembusan angin menerpa mereka.
Di ujung cerita ini
__ADS_1
Di ujung kegelisahanmu
Kupandang tajam bola matamu
Cantik dengarkanlah aku
Febri menatap Arkan dalam, ia memiringkan tubuhnya begitu juga dengan Arkan. Tangannya mengenggam tangan Febri erat. Ini kali pertama Febri mendengar suara Arkan bernyanyi.
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini ku tak ragu
Ku sungguh memintamu
Febri tersipu, ketika mendengar lagu itu, ia penasaran Arkan tahu dari mana lagu seperti itu. Karena ia jarang sekali melihat Arkan bernyanyi.
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu ku ingin melamarmu
Febri terkesiap ketika Arkan mengatakan hal iu bukankah mereka sudah menikah. Lalu untuk apa Arkan melamarnya lagi. Tiba-tiba Arkan mengecup bibirnya kemudian matanya dan keningnya, Febri terdiam merenungi hal itu.
"Maafkan saya kemarin yang melamarmu dengan cara yang tidak benar." Febri menatap Arkan menunggu kelanjutannya.
"Febri, jadilah pasangan hidupku, jadilah ibu dari anak-anakku, membuka mata dan tertidur di sampingku. Maukah kamu menjadi istriku?" ujar Arkan.
Febri tanpa sadar mengangguk, Arkan tersenyum senang kemudian memasangkan kalung itu ke leher Febri. Arkan memeluk erat Febri yang di sampingnya. Febri seakan lupa dengan Dikau, yang dia ingat hanya Arkan
"Kita mulai semuanya dari awal," lalu Arkan memberikan ciuman di bibir Febri penuh cinta.
"Tinggal satu cara lagi," bisik Arkan dalam hati. Ia akan melakukan hal itu setelah ini, lagi pula meminta hak sebagai seorang suami tidak ada salahnya.
Di ujung cerita ini
Di ujung kegelisahanmu
Kupandang tajam bola matamu
Cantik, dengarkanlah aku
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
__ADS_1
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
Aku tak setampan Don Juan
Tak ada yang lebih dari cintaku
Tapi saat ini 'ku tak ragu
'Ku sungguh memintamu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Kuingin melamarmu
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku (di sampingku)
Aku tak main-main (main-main)
Seperti lelaki yang lain
Satu yang kutahu
Oh, satu yang kumau
Kuingin melamarmu
Project band- Ku ingin melamarmu
***
__ADS_1
jangan lupa follow Instagram author ya @wgulla_
love you ♥️♥️♥️♥️