My Future Husband

My Future Husband
BAB 72


__ADS_3

8 tahun kemudian...


Febri menatap Alwan haru. Febri terkejut melihat sosok yang ia rindukan. Putranya telah kembali, meskipun ia tak pernah menunjukan rasa rindunya pada siapapun tapi Febri setiap malam selalu mengenang putranya yang pergi tanpa alasan. Bertahun-tahun Febri hidup dalam luka kehilangan banyak cinta. Tapi ia mencoba bangkit untuk kuat. Karena Arkan dan Cessa ia bangkit untuk bertahan dan berhenti mengharapkan Alwan ia hanya bisa berdoa anak laki-lakinya itu akan kembali padanya suatu saat nanti. Sekarang ia muncul bebannya terangkat sudah. Akhirnya dari sekian waktu.


"Maafkan Al bunda." Ujar Alwan sambil memeluk lutut Febri. Febri menghapus air matanya di pipinya. Ia langsung memeluk putranya itu.


"Maafkan Al, Al pembunuh."


"Al tenanglah, lebih baik kita bicarakan di dalam. Nanti banyak tetangga yang lihat." Febri membujuk Alwan agar pria itu masuk ke dalam rumah.


Mereka duduk di ruang tamu minus dengan Arkan yang sibuk mengurusi mahasiswanya skripsi. Alwan menunduk, kemudian ia menatap Febri sendu. Cessa yang duduk di sebelah Alwan menggenggam erat tangan Alwan di balik meja yang membatasi mereka.


"Alwan minta maaf. Karena Alwan bunda harus keguguran." Febri menggeleng mendengar ucapan Alwan.

__ADS_1


"Kamu tidak salah Al, bunda tidak pernah membenci kamu. Maafkan bunda juga." Alwan mendongak menatap Febri senang. Ia sama sekali tidak berpikir seperti itu. Justru ia menyayangi Alwan. Pasti disana Alwan menjalani hari begitu berat.


"Jadi bunda tidak marah sama Alwan." Febri menganggukkan kepala.


"Bunda setiap hari menunggu kamu datang mendatangi bunda, bunda kira kamu tidak ingin menemui bunda lagi. Bunda kira kamu membenci  bunda." Alwan menggeleng, ia melepas genggaman Cessa. Berjalan mendekat ke arah Febri berlutut di depannya sembari menaruh kepalanya di pangkuan Febri.


"Alwan tidak pernah membenci bunda. Bunda satu-satunya ibu yang Alwan miliki yang sudi merawat Alwan disaat mama Alwan sendiri membuang Alwan." Febri mengelus rambut Alwan sayang. Anak laki-lakinya yang ia rindukan akhirnya pulang kembali ke pangkuannya.


"Sekarang kamu sudah dewasa, bunda menyesal tidak berada di samping kamu. Waktu itu bunda benar-benar frustasi ketika kamu  pergi meninggalkan bunda. Bunda berpikir sepanjang malam apa salah bunda, bunda pikir kamu merasa bersalah karena bunda keguguran. Bunda khawatir jiwa kamu tertekan karena itu."


"Jadi bunda sudah tahu jika aku yang-"


"Mengirimi bunda bunga setiap bunda ulang tahun." Sambung Febri membuat Alwan terkejut. Bunga yang Febri kira awalnya pemberian Dikau ternyata itu dari anaknya  sendiri. Alwan bangkit dan duduk di sebelah Febri.

__ADS_1


"Jadi bunda tidak marah sama Alwan lagi."


"Tidak." Febri mengusap pipi Alwan kemudian mengecup keningnya sayang. Alwan tersenyum senang.


"Bunda." Ujar Alwan lirih. Ia ragu untuk mengutarakannya, namun melihat Cessa yang menatapnya berbinar membuatnya percaya diri.


"Sebenarnya ada yang ingin Alwan sampaikan selain permintaan maaf."


Febri mengernyitkan dahi menatap Alwan ingin tahu.


"Ada apa lagi, al?"


"Alwan ingin melamar Cessa sebagai istri Alwan." Febri diam, ia menatap Alwan datar. Senyumnya menghilang tanpa sebab, hal itu membuat Alwan sendu melihat ekspresi Febri yang berubah. Ia tidak menyangka jika Alwan akan melamar Cessa. Ada rasa tidak rela bagaimanapun mereka kakak adik. apakah itu wajar? Febri mendesah.

__ADS_1


"Bunda." Panggil Alwan.


"Beri bunda waktu untuk berpikir," setelah mengucapkan itu Febri beranjak pergi meninggalkan Alwan dan Cessa yang termenung sedih. Ia butuh waktu berpikir.


__ADS_2