
Arkan mematikan mesin mobilnya. Ia menghela napas lelah. Hari ini sungguh melelahkan, ia mengajar hampir lebih dari 5 kelas. Ia jadi tidak sabar bertemu istri dan anaknya. Hanya bertemu mereka rasa penatnya hilang. Arkan keluar dari mobil yang telah ia parkirkan di garasi tepat di samping mobil istrinya. Ia tersenyum ia sudah tidak sabar lagi bertemu keluarganya.
Ketika Arkan mengetuk pintu, keningnya berkerut. Tidak ada satupun yang membukakan. Tangannya terulur memegang gagang pintu. Ia terkejut mendapati pintu tidak terkunci. Ceroboh sekali istrinya. Padahal ia sudah mengingatkan untuk mengunci pintu agar tidak ada maling masuk. Mengingat sekarang banyak sekali maling berkeliaran.
Arkan menatap sekeliling rumah ini sepi sekali. Kemana perginya orang-orang? Arkan meneliti setiap sudut rumah. Ia tidak menemukan apapun. Bahkan kehadiran anak dan istrinya tidak ada.
"Cessa... Febri... sayang kalian dimana?" Seru Arkan sambil mencari anak-anaknya.
Jantung Arkan berdebar dengan kencang tidak menemukan tanda-tanda kehidupan. Ia menelan ludah. Ia takut anak dan istrinya kenapa-kenapa. Jantungnya bergemuruh mencari mereka. Apa ada maling masuk? mengingat tadi pintunya tidak di kunci.
__ADS_1
"Cessa..."
"Febri!!!"
Teriak Arkan tapi tak mendapat satupun sahutan. Nafas Arkan terengah-engah. Ia hampir saja mengobrak-abrik barang namun suara nyanyian menghentikan nya. Ia menatap takjub ke arah Febri dan Cessa yang tanpa salah telah membuatnya khawatir. kedua orang itu bernyanyi.
"Happy Birthday Papa Arkan..."
"Happy Birthday.. Happy Birthday... Happy Birthday papa Arkan..."
__ADS_1
Tubuh Arkan luruh jatuh ke bawah. Ia menatap ke dua orang yang sedang mengerjainya itu. Ia tidak menyangka jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Ia tidak mengira jika ia akan di kerjai seperti ini. Ada sedikit rasa haru dan kesal. Terharu karena ia di beri kejutan di hari ulang tahunnya. tapi Kesal karena mereka hampir membuatnya gila karena takut. Ia kira ia akan kehilangan mereka sekarang. Arkan menghela napas.
Febri menghampiri Arkan untuk meniup lilin. Ia membawa kue tersebut di tangannya.
"Ayo papa titip lilin.. make a wish juga..." seru Cessa dengan ceria. Ia mencium pipi kanan Arkan sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Arkan terharu, apalagi Febri menatapnya penuh cinta.
Arkan kemudian meniup lilin kue ulang tahun. Lalu ia mengucapkan make a wishnya di hadapan anak dan istrinya.
"Aku harap istri dan anak-anak ku akan terus bahagia dan berada di sisiku sampai kita di pertemukan di surga kembali." Febri terharu mendengar itu. Ia memeluk Arkan setelah menaruh kue di atas meja. Diikuti juga dengan Cessa mereka saling memeluk satu sama lain. Walau ada sedikit rasa kehilangan di hati mereka. Tidak ada kehadiran Alwan. Alwan mereka tidak ada disini. Andai saja ada Alwan maka mereka akan lebih lengkap. Pasti mereka akan menjadi keluarga yang sempurna dan penuh kebahagiaan seperti dulu.
__ADS_1
"Ayo potong kuenya pa.." Rengek Cessa yang sudah tidak sabar untuk memakan kue yang sedari tadi menggodanya.
Arkan terkekeh, ia mengelus kepala Cessa sayang. Lalu ia menggendong anaknya itu di depan. dan juga menggandeng tangan Febri untuk kembali ke meja untuk memotong kue. Dengan lincah Arkan melakukan itu. Ia bersyukur setidaknya masih ada Cessa dan Febri. Andai saja tidak ada mereka hidupnya akan semakin suram. Mengingat ia hampir sjaa pernah kehilangan mereka. Arkan tersenyum penuh arti.. Serta berterima kasih pada Tuhan...