
Arkan menurunkan ego-nya, jujur ia tidak ingin memohon pertolongan Dikau. Pria yang menjadi saingannya dalam merebut hati Febri. Tapi ia sudah buntu, ia tidak mampu menemukan Febri dimanapun. Ia yakin jika pria berkacamata itu tahu dimana istrinya. Apalagi pertengkarannya kemarin terjadi karena pria di hadapannya ini. Pasti Febri meminta pertolongan pada Dikau, jika istrinya itu meminta pertolongan pada teman-temannya pasti akan lebih mudah. Arkan tinggal mengancam akan memberikan nilai E di mata kuliahnya. Namun tak ada satupun teman Febri yang tahu keberadaan gadisnya.
"Bisakah kamu memberitahu dimana Febri?" Tanya Arkan dengan memohon. Ia tidak bisa menahan lagi. Ia tidak mampu kehilangan Febri. Hidupnya terasa hampa dan hatinya sakit.
Dikau menyeringai melihat raut frustasi milik Arkan. Biasaya pria itu hanya akan menunjukkan wajah sombong, tapi sekarang lihatlah pria itu memohon bahkan mengemis padanya. Dikau yakin pria itu tidak tidur nyenyak selama berminggu-minggu untuk mencari istrinya.
"Aku akan melakukan apapun." ujar Arkan pada Dikau. Ia berjanji akan melakukan apapun asal bisa bertemu dengan Febri. Ia akan mengeluarkan apapun yang ia punya. Ia sudah menyerah. Ia hanya ingin Febri seorang. Ia butuh Febri di dalam hidupnya.
"Tidak perlu seperti itu, ayo ikuti aku." Ujar Dikau.
Ia tidak ingin terlalu lama bermain drama. Ia juga tidak ingin terjebak di antara dua orang ini. Walaupun dihatinya masih mencintai Febri, tapi hatinya tidak sejahat itu untuk memisahkan anak dengan orang tua kandungnya. Karena Dikau tahu rasanya, ia pernah dibuang dan tidak diinginkan. Ia tidak ingin anak Febri merasakan itu, meski Dikau bisa saja bertanggung jawab untuk membahagiakan Febri. Tapi ia tahu bahwa hati gadis itu bukan untuknya, ia hanya tidak ingin menambah kesedihan Febri dengan memaksanya menjadi miliknya lebih baik ia yang yang mengalah. Ia menyerah dan membiarkan kedua orang ini menyelesaikan masalahnya.
"Kamu serius?" Arkan menatap Dikau tidak percaya.
"Ikut atau tidak aku beritahu sama sekali," Dikau mengatakan itu lagi. Ia mulai jengah karena di tatap seperti dia adalah seorang pembohong padahal ia ingin membantu pria di hadapannya ini. Ia sudah jengah dengan drama dua pasang suami istri ini.
Arkan tergugu langsung mengikuti Dikau, untung saja tadi Al sudah ia titipkan pada ibunya. Jadi ia tidak kerepotan, lagi pula ia tidak ingin Febri marah karena melihat Al. Gadis itu belum sanggup menerima Al sebagai anaknya. Ia tersenyum lega, sedikit lagi dan Febri akan kembali lagi dalam pelukannya.
__ADS_1
*****
Suara ketukan pintu membuat Febri terjaga dari lamunannya. Dikau pasti datang untuk menemuinya. Berhari-hari terkurung di Villa ini membuatnya merindukan Arkan, walau ia masih membenci pria itu. Pria yang tidak peka, bahkan tidak mencarinya. Padahal ia sengaja kabur, agar Arkan menderita karena kehilangannya, namun nyatanya pria itu sedang bersenang-senang dengan anaknya. Itulah yang ada dipikiran Febri selama ini.
Ia juga masih syok atas anak yang berada di kandungannya. Ia berjanji tidak akan meminta Arkan bertanggung jawab, yah meskipun mereka sudah menikah. Tapi Febri ingin merawat anak ini sendiri, ia tidak ingin hidup bersama pria itu.
Ketika Febri membuka pintu yang ia dapati bukan wajah Dikau melainkan pria yang telah membuatnya menangis berhari-hari. Sialan! Kenapa pria itu bisa menemukan dirinya. Febri mengutuk Dikau yang telah memberitahu Arkan keberadaaanya. Baru saja ia ingin menutup pintu menghalangi pria itu masuk. Namun Arkan dengan sigap masuk ke dalam kamar Febri tanpa menutupnya.
Pria itu memeluk Febri erat tak mempedulikan penolakan Febri. Yang berulang kali mencoba melepaskan pelukannya.
"Aku rindu kamu," ujar Arkan sendu. Ia menatap Febri penuh kerinduan bahkan matanya berkaca-kaca saking terharunya bisa melihat Febri lagi di hadapannya. Ia tidak menyangka Febri sekarang ada di hadapannya. Ia tidak ingin menjauh dari Febri lagi. Baginya Febri adalah segala-nya. Ia ingin memeluk gadis itu lagi seperti dulu. Lalu tinggal dengan anak-anak mereka.
Jantung Febri berdetak mendengar itu, tapi kesadarannya mulai kembali ia tidak ingin terjebak dalam rayuan milik Arkan. Cukup, ia tidak ingin bersama dengan orang yang tidak pernah menganggapnya ada, dari ia kecil bahkan dewasa. Febri sudah mengingat semuanya bahkan ia ingat kenapa ia kecelakaan semua itu karena pria ini yang lebih memilih temannya dari pada dirinya dan pria ini juga pergi ketika dirinya di rawat di rumah sakit. Ia kecewa, karena Arkan tidak pernah benar-benar mencintainya. Pria itu hanya ingin mempermainkannya. Tanpa Febri sadari airmatanya turun mengenai pipinya.
Arkan yang melihat itu tertegun, tangannya mengusap airmata Febri.
"Maaf," ujar Arkan dengan memohon. Ia tahu disini ia yang salah. Tapi tidak adakah kesempatan untuknya memperbaiki semua ini. Ia ingin kehidupan yang lebih baik.
__ADS_1
"Maafin mas sayang.." hanya itu yang bisa Arkan katakan. Ia sudah kelu dan tak mampu mengatakan apapun lagi. Ia rela melakukan apapun asal Febri kembali lagi padanya.
"Kamu jahat, aku benci kamu." Febri menekan dada Arkan kencang. Berharap bisa lepas dari kungkungan pria itu. Usahanya sia-sia, Arkan makin mendekapnya erat. Seakan-akan tidak ingin kehilangan Febri.
"Kamu pasti sudah mengingat semua kenangan kita dari kecil bukan. Maafkan aku semuanya salahku, andai aku tidak egois waktu itu. Aku juga salah telah meninggalkanmu ketika kamu terbaring di rumah sakit, aku hanya takut kehilanganmu dan merasa jika kehadiranku hanya akan membuatmu sial. Sampai saat itu aku memutuskan untuk pergi jauh bahkan menikah dengan wanita yang tidak kucintai, tapi aku selalu berusaha belajar mencintai wanita itu." Hati Febri merasa diremas mendengar penjelasan Arkan, ia menggeliat ingin menjauh namun Arkan menahannya.
"Biarkan aku menceritakan semuanya hingga selesai." Ujar Arkan meminta kesempatan pada Febri. Rasanya ia sudah tidak mampu lagi bertahan tanpa gadis itu di sisi-nya. Ia tidak ingin kehilangan Febri jauh lebih lama lagi.
"Tolong Febri... sayang... beri aku kesempatan sekali lagi.... Tolong paling tidak dengarkan aku menceritakan semuanya. Tubuh Arkan meluruh di bawah Febri. Ia sudah tidak tahu lagi cara apa yang bisa ia lakukan agar Febri mau berbicara padanya lagi.
***
jangan lupa follow Instagram author ya @wgulla_
love you ♥️♥️♥️♥️
jangan lupa dukung cerita ini terus vote and Coment dari kalian ♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1