My Future Husband

My Future Husband
Harapan Joe


__ADS_3

Dito menatap Kinara dengan wajah datarnya.


"Gue juga udah selesai. Setelah bereskan piring ini, gue akan mandi." Ujar Kinara tersenyum.


Dia berdiri hendak meraih piring dan gelas yang baru saja ia pakai. Tapi dengan cepat Bimo menahan tangan Kinara.


"Tidak perlu! Biar nanti pasukan lainnya saja yang bereskan semua ini." Ucap Bimo.


Dito segera mendekati Kinara. Lalu melepas tangan yang mencekal tangan Kinara.


"Lebih baik mandilah, Kinara." Ucap Dito tegas menatap Kinara dengan tajam.


Kinara mengerti dan langsung berlari ke arah pintu kamar mandi. Dia takut melihat tatapan Dito yang tidak seperti biasanya. Padahal biasanya Dito akan menatap Kinara dengan kehangatan dan juga lembut.


Mungkin Dito sedang kecapean untuk mengurus semua itu. Karena tak ingin merusak suasana hati Dito dan Bimo. Kinara memutuskan untuk menuruti ucapan Dito.


Mungkin mandi pagi akan membuat tubuh Kinara semakin fresh. Siapa tau dengan hal itu Kinara jauh lebih tenang dan juga tidak tegang seperti saat ini. Operasi plastik itu memang mengerikan.


*


*


*


Bimo diajak oleh Dito ke ruangan yang akan dilakukan untuk operasi plastik nanti.


Disana sudah ada Joe dan juga Darma. Bimo dan Dito segera mendekat siapa tau dokter itu perlu bantuan lagi.


Joe sedang duduk di brangkar. Di ruangan itu ada dua brangkar dan satunya lagi nanti akan digunakan oleh Kinara.


Wajah Joe sedang dibersihkan oleh Darma. Dokter pria itu nampak telaten dan steril membersihkan wajah Joe. Takutnya akan ada kuman yang menempel di wajah.


Dokter Darma kembali menatap Dito dan Bimo bergantian. Raut wajah yang sangat menyeramkan. Darma memutuskan kontak mata dan melanjutkan aksinya.


Sesudah membersihkan wajah Joe. Darma kembali ke alat-alatnya. Dia hanya sendirian di tempat itu. Karena Dito dan Bimo mengancam untuk tidak membawa orang lain selain Darma sendiri.


Padahal melakukan operasi plastik itu tidak mudah. Butuh bantuan ditengah kesibukan Darma nanti. Tapi yasudah gak papa.


Semoga nanti operasi plastik bisa berjalan dengan lancar. Harap Darma.

__ADS_1


"Ada apa? Apa gadis itu sudah mandi?." Tanya Joe begitu tenang. Dia duduk bersandar menatap dua anak buahnya itu.


"Dia sudah mandi! Mungkin sebentar lagi sudah selesai." Jawab Dito.


"Ya. Setelah itu cepat antar dia kesini, dia akan segera di cek oleh dokter Darma." Ucap Joe.


"Baiklah. Biar gue susul."


"Hmm." Dehem Joe singkat.


Dito mengangguk lalu berpamit untuk menyusul Kinara. Takutnya nanti Kinara akan kabur lewat kamar mandi. Walaupun di kamar mandi sama sekali tidak ada celah untuk keluar.


Bimo masih setia berada di samping Joe. Dia menunggu Joe memberikan perintah untuk dilakukan nanti.


Sepertinya putri begitu yakin jika operasi ini akan berhasil, tapi entah kenapa gue rasa akan gagal! Gadis itu, dia diam pasti dengan sejuta akal liciknya. Bathin Bimo memerhatikan Joe.


Dia meragukan jika Kinara akan diam saja saat wajahnya diambil. Walau sekarang dia tidak menolak, apa bisa menjamin dia mau?.


Pada dasarnya operasi plastik itu jangan asal lihat dulu kondisi tubuh pasiennya. Kamu mungkin pernah melihat sebagian orang yang jauh lebih cantik atau tampan pascaoperasi plastik. Namun, ada juga yang wajahnya justru terlihat mengerikan pascaoperasi. Dengan kata lain, prosedur operasi plastik bisa saja mengalami kegagalan. Nah, sebelum memutuskan untuk melakukannya, ada berbagai hal yang harus dilakukan.


Sama seperti Joe yang dia lakukan. Tahap demi tahap Joe lakukan agar semua bisa berhasil dengan baik. Dia bisa mendapatkan wajah Kinara, yang cantik dan mulus itu.


Tapi Bimo hanya bisa menghela nafas panjang. Mau protes seperti apa pun tidak akan pernah di gubris oleh Joe.


Joe bukan gadis yang penurut. Justru ia sering main suka sendiri tanpa memikirkan akibat. Itu yang buat pasukan Red Blood benci sifat Joe.


"Ngalamun apa?." Tanya Joe menatap Bimo. Sejak tadi hanya menatap ke satu arah.


"Tidak! Saya hanya berpikir seperti apa proses operasi ini nanti." Jawab Bimo.


Joe tersenyum "tenanglah! Semua akan baik-baik saja. Bukan begitu dokter Darma?!." Tanya Joe.


Darma yang sedang memilih dan memilah alat-alat untuk operasi seketika terhenti. Matanya melihat Joe dan Bimo dengan gugup.


"Te-tentu saja." Jawab Darma terbata-bata. Rasanya mengerikan sekali harus diawasi oleh anggota mafia. Jika salah sedikit saja nyawa Darma yang akan jadi balasannya.


"Nah! Dokter Darma saja seperti itu yakinya, Bimo! Kamu jangan buat gue jadi takut begini dong." Keluh Joe.


Bimo tersenyum canggung ke arah Joe. Tak tega juga jika mood Joe tiba-tiba hancur. Padahal gadis itu sudah berusaha untuk tenang dan rileks.

__ADS_1


"Pak Bimo, sepertinya anda harus keluar. Biarkan nona putri menunggu disini, agar pikiranya lebih tenang." Ujar Darma pelan.


Dia tidak ingin banyak resiko yang akan di tanggung jika gagal. Melakukan operasi itu semudah membelah dan menjahit luka.


Tapi masih ada bagian rumit lainya. Harus berhati-hati juga. Jika gagal maka akan berpengaruh ke syaraf.


Banyak sekali efek ke gagalan jika pasca melakukan operasi plastik di sekitar wajah.


"Baiklah. Saya akan nunggu di luar saja kalau begitu." Pamit Bimo. "Putri saya kembali."


Joe mendongak menatap Bimo dengan tersenyum "silahkan."


Setelah keluar Darma kembali berkutat dengan alat-alatnya. Memastikan semua sudah siap dengan baik.


Joe hanya duduk dengan tenang diam dalam hati yang sebernanya sangat tak menentu. Dia juga takut, tapi sebisa mungkin bisa bersikap tenang.


Operasi ini demi kebaikan Joe. Setelah ini dia akan bertemu dengan Sean dan bahagia bersama Sean. Itu harapan Joe.


"Dokter, apa semua sudah siap?." Tanya Joe.


Darma segera menatap wajah Joe. Karena tak sopan juga jika harus berbicara membungkungi Joe.


"Sebentar lagi nona. Apa pasien satunya sudah selesai?."


"Belum." Jawab Joe. "Lama sekali dia!."


Joe sudah tak sabar melakukan operasi plastik. Tapi sepertinya Kinara malah sengaja mengulur waktu agar operasi dilakukan semakin lama.


"Tenang putri. Waktu masih lama, jika tergesa-gesa saya takut hasilnya tidak memuaskan." Pinta Darma.


Joe mengangguk. Dia memang harus lebih tenang sekarang. Karena hasil nanti akan memengaruhi wajahnya.


"Baiklah. Gue akan nunggu sampai dia selesai. Semoga tidak lama." Jawab Joe.


"Jika lama saya juga siap menunggu."


"Ya. Gue udah bayar besar, tak patut jika dokter sendiri yang tergesa-gesa!." Sinis Joe dengan mata tajamnya.


Darma sendiri melihat itu dengan ketakutan. Sepertinya ia harus berbicara hati-hati dengan Joe. Takutnya jika ucapan Darma akan membuat Joe sakit hati.

__ADS_1


"Maaf jika ucapan saya salah putri." Ucap Darma dengan ketakutan. Sungguh ini kali pertama dia menangani pasien mafia. Beberapa kali Darma menelan slavinanya untuk lebih tenang.


__ADS_2