My Future Husband

My Future Husband
BAB 71


__ADS_3

Febri mulai kembali ceria seperti dulu. Ia bersyukur Arkan selalu membantunya untuk mengobati lukanya. Febri terdiam menyirami tanaman di hadapannya. Arkan pergi bekerja sedangkan Cessa sekolah. Ia hanya di rumah seorang diri. Keningnya berkerut melihat beberapa tanaman miliknya. Ada yang berbeda ada bunga mawar kuning disana. Setaunya ia tidak pernah membeli itu. Jadi siapa yang menaruhnya? Febri menghentikan kegiatan siram menyiramnya. Ia begitu penasaran dengan mawar kuning itu.


Febri menghabiskan masa sedihnya dengan menanam bunga selama ini. Febri berjongkok untuk melihat bunga itu. Ia terkejut mendapati sebuah surat yang tertulis disana. Tangannya bergetar membuka surat itu. Ia penasaran dari siapa?


*****Selamat ulang tahun ke-28 tahun untuk Bunda :)


Sekarang Alwan sudah mau SMA bunda jangan khawatir lagi. Alwan bahagia disini. Bunda jangan sedih lagi. Suatu saat nanti Alwan akan kembali menemui Bunda, Cessa dan Papa. Alwan sayang kalian.


Love

__ADS_1


Alwan*****


Jantung Febri berdebar membaca itu. Febri menghapus air matanya tanpa sadar. Ia tidak mengira jika Alwan yang akan memberikan ini. Rasanya bahagia sekali, tapi ia ingin bertemu Alwan anak laki-lakinya. Jika Alwan yang memberi ini berarti anaknya itu masih ada di Indonesia. Febri masuk ke dalam rumah. Ia mencari kunci mobil, ia akan ke rumah Thomas untuk mencari Alwan. Ia harus membawa anaknya kembali atau paling tidak ia ingin bertemu anaknya itu. Bayangkan hampir bertahun-tahun mereka tidak bertemu. Sekarang mungkin waktunya. Ia akan bertemu anaknya.


Febri masuk ke dalam mobil mengendarainya cepat. Ia tidak peduli apapun, yang terpenting sekarang ia harus ke rumah Thomas. Pasti Alwannya berada di sana. Tanpa mempedulikan orang-orang di jalan Febri mengendarai mobil tersebut ugal-ugalan. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi bertemu Alwan. Bahkan ia tidak sadar ada sebuah truck yang muncul tiba-tiba. Semua terjadi begitu saja. Suara tabrakan dan benturan bergema di jalan raya. Febri menahan rasa sakit. Hingga kegelapan merengutnya. Bahkan sampai kapanpun ia tidak bisa bertemu dengan Alwan. Mungkin ia memang tidak ditakdirkan bertemu dengan putranya.


*****


Ia begitu terkejut mendapati polisi menghubunginya dan mengatakan bahwa istrinya kecelakaan. Saat ini dokter sedang merawatnya di dalam. Cessa ia titipkan pada ibunya. Apa yang membuat Febri kebut-kebutan hingga membahayakan dirinya sendiri. Alwan masih belum mendapatkan jawabannya. Tangannya gelisah berharap Febri baik-baik saja. Ia tidak bisa memanfaatkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa dengan istrinya.

__ADS_1


"Bagaimana dok keadaan istri saya?" tanya Alwan melihat dokter keluar dari ruangan Febri.


"Sekarang istri anda tak sadarkan diri. Tapi ia baik-baik saja. Mohon maaf pak, kami belum bisa menyelamatkan janin yang berada di dalam kandungan istri anda." mendengar hal itu Arkan terdiam.


"Bayi??"


"Istri anda hamil dengan usia kandungan 4 Minggu." Rasanya tubuh Arkan remuk mendengar itu. Ingin sekali Arkan membunuh dirinya sendiri. Ia seperti ingin meledak. Ia malu dengan dirinya sendiri. Dia bukan suami yang baik. Bisa-bisanya dia harus kehilangan buah cintanya lagi. Bahkan ia tidak bisa apa-apa disaat Febri terbaring tak berdaya disana. Arkan meluruh ke lantai. Ia menangis, rasanya tubuhnya tak berdaya. Apa yang harus ia katakan pada Febri nanti tentang semua kejadian ini? ia saja tak bisa menerima semua hal ini. Bagaimana dengan istrinya yang rapuh itu yang bahkan lukanya belum sembuh?


****

__ADS_1


kalau kalian baca I Remember pasti kalian akan baca bagian dimana Febri keguguran 2 kali :'( ya ini adalah waktu yg kedua.. aku nulis ngikutin alur yg di I remember


baca cerita aku Jdulnya "My Protective Police" dan "My Posesive CEO"


__ADS_2