
Satu jam kemudian.
Kinara melenguh bangun dengan mata bengkak. Badanya rasanya lemah tak berdaya. Untuk berdiri saja tidak mampu.
Kinara menatap langit-langit atap dengan helaan nafas panjang. Dia mendengar semua keributan di luar tadi. Kinara juga mendengar semua ucapan Darma.
Terimakasih Tuhan, karena akhirnya operasi ini bisa gagal. Bathin Kinara tersenyum lemah.
Wajahnya masih pucat. Mungkin ini efek samping dari di bius. Tubuh Kinara benar-benar tidak bertenaga.
Tiba-tiba pintu terbuka dengan lebar. Dengan lemah Kinara melihat wanita yang sedang berdiri.
"Ada apa?." Tanya Kinara lemah. Pasti Joe akan marah kepadanya karena sudah mengagalkan rencana.
Joe tersenyum mengerikan. Wanita itu berpenampilan sangat mengerikan. Bahkan Joe sama sekali tidak memperlihatkan senyuman lagi.
Kinara tersenyum mengernyitkan dahinya. Joe membawa pisau. Apa Joe akan membunuh Kinara.
Seketika jantung Kinara semakin berdetak tak karuan.
"Kinara." Panggil lirih Joe dengan tatapan maut. Senyumannya semakin mengerikan.
"Joe......jika Lo menginginkan kematian gue lakukan sekarang." Ucap Kinara lemah. Menatap Joe dengan perasaan campur aduk. Antara rela dirinya mati dan juga perasaan lain yang mengganggu pikirannya.
"Gue memang mau Lo mati!! Tapi gue mau nyiksa Lo sebelum mati." Ucap Joe tertawa pelan.
Kinara mencoba untuk duduk saat Joe mendekati brangkarnya. Tubuhnya bergetar hebat seiring detak jantung yang terus berdengup.
Jujur saja Kinara takut. Akan tetapi rasa takut itu terus menjalar. Wajah Kinara tegang tatkala melihat Joe mengarahkan pisau ke wajahnya.
Srek!
"Awshh." Desis Kinara merasakan perih yang dalam. Darah segar mengalir deras di pipinya.
Pisau itu mengesek keras diatas pipi Kinara. Dari semula pipi tidak terluka sekarang menjadi terluka.
Kinara menyentuh darah yang terus menetes. Rasa perih semakin terasa. Kinara berpikir sepertinya luka ini sangat dalam.
"Bagaimana? Apa rasanya sangat sakit!!." Tanya Joe dengan santainya.
Di ujung pisau masih ada sisa darah segar yang menempel. Joe dengan gampangnya mengambil darah itu dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya.
Kinara menatap ngeri Joe. Bukankah rasanya tak enak. Tapi dia hanya diam tanpa protes sedikitpun. Sekarang rasanya tubuhnya masih lemas untuk menjawab.
"Kinara Lo tau gue bukan orang baik! Jangan buat gue tambah kejam." Sentak Joe.
__ADS_1
Tapi Kinara hanya diam. Mulutnya Rasanya tak sanggup lagi untuk berbicara. Tapi dia tidak mau terlihat lelah.
"Apa mau Lo?." Tanya Kinara cepat. "To the poin aja!."
Joe tersenyum miring menatap Kinara. Dia suka dengar Kinara merintih kesakitan. Apalagi sekarang di wajah Kinara sudah ada jejak luka di pipi.
"Lo ternyata tidak takut, Kinara." Ucap Joe.
"Tapi benar juga sih. Luka ini......." Joe menyentuh luka Kinara dengan keras. Spontan Kinara menghindari Joe sembari meringis kesakitan.
Rasanya perih bercampur nyeri bersatu di dalam kulitnya.
"Lo tau, gue bukan gadis lemah Joe." Ucap Kinara.
"Ya! Setelah ini Lo harus buktikan ke gue, apa yang Lo barusan Lo katakan." Jawa Joe.
Dia kembali mengarahkan pisau itu di leher Kinara. Senyumannya semakin mengerikan. Entah kenapa dia masih marah dan sebal. Ingin sekali membunuh Kinara. Tapi itu bukan keputusan yang tepat, Joe masih ingin bermain-main dengan Kinara dahulu.
Besok adalah waktu yang tepat untuk memberikan surprise ke Sean. Joe ingin laki-laki itu merasa jijik dengan penampilan Kinara. Maka dari itu dia memutuskan untuk melukai Kinara.
Setidaknya tidak ada orang lain yang bisa mendapatkan Sean selain Joe. Jika itu tidak bisa terjadi maka tidak ada juga yang boleh memiliki Sean seutuhnya.
"Semakin jauh Lo misahin gue dan Sean. Maka kami akan bertemu sebagai jodoh yang ditakdirkan oleh Tuhan." Ucap Kinara di sela-sela rintihannya.
"Persetanan dengan jodoh!!! Argh!!." Pukul Joe pada pipi Kinara.
Tubuh Kinara ambruk dengan keras. Untung tubuhnya hanya terhuyung di kasur.
Pipi Kinara semakin panas. Joe memukul dengan keras. Bahkan di tangan Joe masih tersisa darah yang dia buat tadi.
Sangat mengerikan sekali. Tapi Kinara berusaha bangkit untuk duduk.
Walau sakit tapi Kinara masih bisa bertahan. Mau membalas tindakan Joe tapi tenaganya kurang kuat.
"DITO!!!." Teriak Joe menggema di ruangan itu.
Air mata Kinara berjatuhan seiring ulah Joe yang semakin menjadi-jadi.
Joe terus memukul Kinara dibagian yang menurut Joe menarik.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
__ADS_1
Suara gaduh sangat terdengar keras di ruangan operasi itu. Suara rintihan dan teriakan kesakitan memenuhi ruangan bernuansa putih.
Kinara terus menangis menahan semua rasa sakit di sekujur tubuhnya. Rasanya nyeri dan perih semakin menjadi satu.
Joe menyeringai melihat air mata Kinara. Dia semakin suka suara teriakan dan tangisan itu. Memang sejak dahulu Joe suka menyiksa orang dan sangat menyukai rintihan rasa sakit.
Gadis itu seolah tidak memiliki hati. Padahal sesama cewek harusnya dia tau jika rasa sakit itu ada. Apa Joe tidak takut dengan karma.
"Gimana Kinara!!? Apa Lo masih kuat?." Bentak Joe dengan suara tinggi. Dia senyum remeh ke arah Kinara. Melihat tubuh Kinara yang sudah terpenuhi luka lebam.
Hatinya sangat suka sekali melihat kesedihan di wajah Kinara.
"Sampai kapanpun Lo tidak akan bahagia Kinara. Lo harus mati." Ucap Joe.
"Kenapa? Apa mau Lo Joe?." Tanya Kinara dengan tangisannya.
"Apa salah gue? Gue sama sekali tidak pernah kenal Lo. Tapi, apa?......Lo malah bertindak seolah gue pernah melakukan kesalahan dengan Lo " seru Kinara dengan suara tergugu.
"Lo adalah wanita yang dicintai Seandra!! Dan itu adalah kesalahan BESAR." Jawab Joe penuh penekanan.
"Kali begitu cara Lo salah!!." Ucap Kinara "Lo harusnya membuat semakin mencintai Lo. Tapi kenapa Lo malah buat seperti ini. Lo tau kan......Sean tidak suka tindakan kejahatan."
"Diam!!." Bentak Joe dengan keras.
Tapi Kinara tidak menyerah, dia terus berkata sesuai yang ada di pikirannya. Joe salah melangkah. Di dunia bawah ini akan membuat hidup Joe tersiksa kedepannya.
"Tinggalkan semua dendam Lo Joe. Lo ambil Sean dengan cara baik."
"Maksud Lo, dengan cara bersaing dengan Lo?."
"Jika itu bisa. Tidak semua harus dilakukan dengan hal kotor Joe." Ucap Kinara.
"Baiklah. Besok Lo akan ketemu dengan Sean." Jawab Joe singkat.
"Sean? Kenapa?." Tanya Kinara bertanya.
Joe tersenyum " gue akan kasih surprise ke dia. Akan gue pastikan Lo suka itu." Ucap Joe. Dia melirik Kinara dengan tatapan tajam.
"Jangan coba kabur, atau Lo mati "
Tubuh Kinara dilempar begitu saja oleh Joe ke atas kasur. Kinara terlentang dengan meringis kesakitan.
Joe langsung pergi keluar. Menutup pintu dengan erat-erat. Dari dalam Kinara mendengar suara kunci berdetik.
Mama...... Papa, Kinara takut........ Bathin Kinara.
__ADS_1