
"Savira, bolehkah aku bertanya?" tanya Febri pada Savira sahabat baik nya sejak masuk kuliah. Savira ini menikah muda sejak semester satu. Jadi bisa dipastikan pengalaman gadis itu tentang pernikahan sangatlah banyak di banding diri nya. Savira juga anggun dan lemah lembut apalagi Savira juga awalnya tidak diakui sebagai istri oleh suami nya. Pasti Savira mempunyai pemahaman yang besar tentang arti pernikahan dan cinta.
Savira tersenyum kemudian mengangguk, mereka sedang duduk di perpustakaan. Jadwal mata kuliah mereka hari ini ada yang libur. Disinilah mereka, dengan Rintik hujan membersamai mereka berdua. Febri menghela napas, awalnya ia ragu, namun mengingat kisah cinta Savira dan Rakan membuatnya tersentuh, dengan kesabaran Savira yang tetap bertahan mencintai Rakan, walau Rakan berulang kali menyakitinya.
"Kenapa kamu masih menghormati Rakan, disaat Rakan selalu menyakitimu?" kadang Febri bingung dengan sifat Savira yang selalu baik terhadap orang-orang yang selalu menyakitinya, bahkan suami-nya sendiri. Savira menggenggam tangan Febri lembut. Bola matanya bersinar membuat Febri iri, kenapa harus ada wanita se-sholihah Savira?
"Karena aku meyakini, disaat Rakan datang memintaku pada orangtuaku. Dia menunjukan diri jika dia berani mengambil tanggung jawab orangtuaku terhadapku. Sejak saat itu aku menjadikannya sandaranku, penopang hidupku tugasku hanyalah taat dan patuh kepadanya." Jawab Savira. Hal itu terdengar begitu bodoh di pikiran Febri.
"Walau orang itu menyakiti kamu?" sambung Febri.
Savira mengangguk membenarkan.
"Membohongi kamu?"
Lagi-lagi Savira mengangguk.
"Kamu memang dibutakan oleh cinta Savira." Febri menghela napas. Ia tidak habis pikir dengan Savira yang begitu Naif dengan cinta. Bahkan tetap bertahan dalam rumah tangga yang menyakitkan. Jika ia jadi Savira ia tidak akan sanggup menjalani semua itu. Ia akan memilih bercerai dan mundur.
"Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Savira, kamu terlalu baik dalam menilai seseorang. Kamu selalu berpikir positif," ujar Febri memikirkan kepolosan Savira.
"Prasangkamu itu sama seperti prasangka tuhan, aku mempercayai hal itu. Kita akan lelah jika trus-trusan berperasangka buruk, maka berprasangkalah yang baik-baik. Lalu perbaikilah ibadah kita maka Tuhan akan memperbaiki hidup kita dan melindungi kita," ujar Savira seakan menjawab keraguan yang Febri miliki.
__ADS_1
Febri terdiam, entahlah akhir-akhir ini dia selalu berprasangka buruk. Tapi Febri mendapatkan point utamnya tentang hubungannya saat ini dengan Arkan.
Ponsel Febri berdering, senyum Febri mengembang membaca pesan dari Arkan untuknya.
-Aku tunggu di pintu luar perpustakaan ya-
Febri kemudian memeluk Savira erat.
"Terimakasih," ujar Febri lembut.
Kemudian Febri pamit pulang, langkah kakinya bergerak keluar dari perpustakaan. Jantung Febri berdebar melihat Arkan berdiri di luar sana sambil menggenggam payung berwarna hitam. Pria itu terlihat senang melihatnya, Febri berlari-lari kecil menghampiri Arkan. Arkan langsung memayungi Febri agar tidak terkena hujan. Febri malah merebut genggaman payung itu, dengan member kode pada Arkan agar dia saja yang memayungi pria itu.
Febri menggenggam payung, hari ini entah kenapa hujan turun dengan derasnya. Padahal hari masih siang, untungnya dia sudah tidak memiliki jadwal mata kuliah begitupun dengan Arkan. Febri memayungi Arkan yang berjalan di sampingnya, awalnya Arkan menolak, Arkan ingin dia yang memayungi Febri namun Febri bersihkeras yang memegang payungnya.
"Kak Dikau," ujar Febri bingung. Apa yang pria itu lakukan disini?
Dikau berdiri tanpa pelindung apapun bahkan kemejanya sudah basah terkena air hujan. Wajah Dikau terlihat sendu menatap Febri, Febri baru menyadari jika Arkan memeluk pinggangnya. Arkan menatap Dikau tajam, seolah-olah ingin membunuh pria itu.
"Ayo kita pergi," ujar Arkan pada Febri. Ia malas melihat Dikau lagi-lagi mengusik rumah tangga-nya. Apa Febri belum memberitahu soal pernikahan nya pada Dikau. Arkan mengeram kesal memikirkan hal itu. Namun ia sekuat tenaga untuk bersabar. Ia harus tenang menghadapi semua ini. Ia juga tidak bisa menyalahkan Febri terus.
Febri terdiam, ia meneguk ludahnya. Febri mengangguk kemudian mereka melewati Dikau yang masih terdiam di sana di bawah rintikan hujan. Febri merasa bersalah pada Dikau, tapi ia juga tidak bisa melawan Arkan.
__ADS_1
Setalah berhasil menuntun Arkan masuk ke dalam mobil Febri berbalik ia ingin masuk ke dalam mobil namun melihat Dikau yang masih berdiri di sana menatapnya penuh harap, membuat Febri menghampiri Dikau. Febri tidak tega melihat keadaan Dikau yang seperti itu. Ia tidak peduli lagi jika Arkan marah padanya.
Arkan yang melihat itu terpancing emosi namun tetap sabar, ia duduk di balik kemudi memperhatikan ke duanya. Jujur Arkan cemburu dan tidak suka melihatnya. Melihat Febri yang masih menyimpan rasa khawatir untuk pria selain dirinya.
Febri memayungi Dikau, hal itu membuat Dikau mendongak dan menatap Febri. Gadis kecil itu berusaha melindungi dirinya dari hujan yang membuat kuyup hatinya.
"Maaf," ujar Febri lirih.
Mereka terdiam lama, sambil menatap satu sama lain.
"Apakah kamu mencintai Arkan?" tanya Dikau dalam rintik hujan. Melihat kedekatan mereka tadi membuat Dikau menyimpulkan seperti itu. Dikau tidak pernah melihat binar mata Febri yang begitu Indah ketika tersenyum pada Arkan tadi, Dikau tidak pernah mendapatkannya.
Febri mengangguk pelan. Ia akui ia telah jatuh cinta pada Arkan. Katakan ia brengsek karena awalnya menerima Dikau namun pada akhir nya ia meninggal kan pria itu lagi. Febri akui suami nya itu adalah cinta sejati nya.
Dikau menghela napas, "Apakah aku tidak ada kesempatan lagi?" Dikau menatap Febri penuh harap. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Febri. Ia sudah terlanjur jatuh cinta pada gadis itu. Gadis yang sudah menarik perhatian-nya. Cinta pertama nya dan ia berharap bisa menjadi cinta terakhir nya. Bolehkah Dikau berharap seperti itu pada Febri?
Febri menggeleng pelan, ia sebenarnya tidak tega melihat raut sedih milik Dikau tapi ia harus jujur, ia tidak ingin menyakiti siapapun lagi.
"Maaf, Febri minta maaf." ucap Febri sekali lagi dengan penuh penyesalan.
Febri menggenggam tangan dikau, hal itu tak luput dari pengamatan Arkan membuat Arkan kesal. febri menyerahkan payung itu pada Dikau untuk di genggammnnya kemudian Febri berlari meninggalkan Dikau sambil menangis untung saja hujan jadi tidak ada yang tahu jika ia menangis. Febri merasa bersalah pada Dikau, tapi ia mencoba menguatkan hatinya jika keputusannya yang ia ambil saat ini adalah tepat.
__ADS_1
Febri menerobos hujan tidak memperdulikan bajunya yang basah hingga mencapai mobil Arkan. Febri sempat menengok ke belakang, Dikau masih disana dengan payung yang tadi di genggaman melihat kepergiannya.