
"Suster!" teriakku.
"Iya Tuan," menunduk dan tak berani untuk menatap mataku.
"Jaga Cahaya baik-baik! Jika terjadi sesuatu padanya kau akan kubunuh," ucapku mengancamnya. Dia bergidik bahkan bulu ditangannya berdiri mendengar ancaman ku.
Aku melihat ke arah Cahaya kemudian aku mencium keningnya kembali.
"Aku akan segera kembali," aku berbisik di telinganya. Dia tersenyum kepadaku sampai membuat hati ini berdegup kencang.
Dengan tak menunda waktu lagi, aku keluar dari rumah sakit. Aku menuju penjara. Membuka sel penjara tersebut.
"Apakah kau sudah memaafkan, ayah?" tanya Sauqi gembira. Wajahku terlihat datar. Aku tersenyum menyeringai kemudian menarik bajunya dan menempelkan dia di tembok.
"Aku akan menghukummu," ucapku dengan wajah geram. Aku ikat dia dan mengeretnya ke pusat keramaian di desa.
"Hari ini aku umumkan!" Suaraku terdengar lantang membuat penduduk desa mulai berkerumun.
"Bahwa aku akan membebaskan desa ini," ucapku yang disambut sukacita oleh para penduduk. Walaupun ada beberapa yang tidak percaya.
__ADS_1
Aku mengikat Sauqi di pohon besar.
"Mau sampai kapan? Mau sampai kapan kau terus mengejar dunia?" tanyaku sambil melayangkan pukulan kearah perutnya.
"Huek!" ucap Sauqi memuntahkan darah.
"Mau sampai kapan? Mau sampai kapan kau membuat kerusakan?" Pukulan mendarat di pipinya membuat pipinya memar dan berdarah.
Semua penduduk yang menyaksikan terheran-heran denganku. Ada apa? Mengapa Riyaz yang merupakan orang yang paling setia pada Sauqi kini ingin membunuh Sauqi.
"Cukup, Riyaz!" katanya dengan suara lirih.
"Kau memfitnah ayahku, sehingga ayahku dibunuh oleh penduduk desa." Ucapku dengan suara serak. Aku sedang menangis.
"Ti-tidak, bukan-bukan aku Riyaz, penduduk desa yang kejam." Ucapnya mencoba berbohong.
"Kau berbohong!" Aku memukul perutnya beberapa kali.
"Lepaskan aku, Riyaz. Tolong lepaskan aku." Ia memegang kepalanya karena pusing akibat pukulan ku.
__ADS_1
"Tuhan merindukanmu ayah. Tuhan merindukanmu." Aku memegang pipinya dan menghempaskannya dengan kasar.
"Tuhan sudah tidak sabar ingin menyiksamu," Aku mengeluarkan pedang yang membuatnya ketakutan. Tubuhnya bergetar.
"Temui ajalmu," Aku menunjukkan pedang. Ku lihat pedang itu yang sangat tajam. Dengan sekali tebasan. Tubuhnya terpotong menjadi dua.
Semua orang bersorak-sorai kesenangan. Sekarang iblis kejam sudah tidak ada lagi di desa. Salah satu pria melihatku dan kemudian ia memelukku.
"Maafkan aku dan penduduk desa yang tidak percaya dengan ayahmu. Kami gelap mata karena geram atas tindakan itu. Tapi ternyata dia tak bersalah. Maafkan aku Riyaz!" ucapnya menangis haru. "Andai aku dan penduduk desa percaya pada ayahmu mungkin desa Purnasukla tak akan seperti ini."
"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu dan orang-orang yang telah membunuh ayahku."
Kematian Sauqi membuat penduduk desa bergembira. Rasa aman telah kembali di desa. Wajah murung mereka kini telah mulai menunjukkan senyumnya.
Aku kembali ke penjara. Penjara yang dibuat oleh iblis bernama Sauqi. Aku Membebaskan orang-orang yang tak bersalah. Setelah itu aku datang ke pabrik produksi narkoba dan minuman-minuman keras. Aku membakar pabrik itu hingga hangus tanpa sisa. Uang yang dikumpulkan Sauqi yang mencapai 50 Terliun telah aku bagikan seluruhnya pada penduduk desa. Rumah besar itu aku tinggalkan. Semua anak buah ayah Sauqi telah mati di tanganku.
Aku orang yang telah memberikan kontribusi pada ayah Sauqi kini malah menjadi ancaman untuknya. Tapi aku bersyukur, Tuhan memberiku hidayahnya melalui Cahaya.
Sedangkan penduduk desa menuju tempat peristirahatan ayahku. Meminta maaf karena mengaku bersalah telah membunuh ayahku yang tak berdosa. Karena sebuah Fitnah, penduduk desa dengan tega membunuh ayahku.
__ADS_1