PEMIMPIN DUNIA

PEMIMPIN DUNIA
AULA PUSAKA


__ADS_3

Li berjalan menuju aula pusaka, tak berapa lama Li sampai di aula pusaka dan melihat Nina dung sedang melayani banyak orang yang ingin menukar buku juga di sana.


"Nin master Ada di mana"tanya Li


"Kakakku sedang latihan di Ruang Latihan"kata Nina melihat Li sejenak dan melanjutkan melayani orang yang ingin menukar buku.


Li pun naik ke atas dan menuju ruang latihan array, Li menunggu di luar karena tidak ingin mengganggu latihan Cakra.


Tak lama Li menunggu Cakra keluar dari ruangan latihannya.


"Kenapa kamu hanya menunggu di luar dan tidak masuk"kata Cakra melihat Li berdiri di depan pintu keluar.


"Aku tidak ingin mengganggu master berlatih saja"kata Li


"Ayo kita bicara di aula pertemuan saja"kata Cakra ajak Li.


Li dan Cakra kemudian duduk di aula pertemuan.


"Ada apa datang kemari"tanya Cakra kepada Li


"aku ingin masuk ke lantai teratas untuk melihat buku tingkat Langit, mungkin ada buku jurus yang aku butuhkan di sana, ini ada sedikit buah untuk master"kata Li sambil mengeluarkan sepuluh buah darah di atas meja.

__ADS_1


" Buah darah yang sangat langka"kata Cakra sambil memandang buah itu dengan terkejut.


Setelah itu Cakra mengajak Li menuju ke lantai tiga atau lantai teratas tempat buku tingkat kekuatan ilahi dan fana surgawi tingkat Langit di simpan.li berjalan dan melihat sekeliling Rak buku jurus di ruangan itu.


Li berencana mencari buku jurus tentang elemen cahaya selain tentang kecepatan dan Li juga mencari buku tentang mempelajari elemen kegelapan dan buku jurus elemen kegelapan.


Li terus berjalan dan mencari dua buku yang dia inginkan, setelah beberapa waktu Li sudah menemukan tiga buku, Satu tentang jurus cahaya dan dua tentang elemen kegelapan setelah itu Li keluar dan melihat Cakra di depan pintu masuk ruangan itu.


"mmmm buku elemen cahaya dan kegelapan, sebenarnya berapa elemen yang kamu kuasai Li "tanya Cakra saat melihat Li membawa buku elemen cahaya dan kegelapan


"Apa master tidak akan membocorkan ini jika aku tunjukkan"kata Li


"aku akan merahasiakannya coba tunjukkan di tanganmu saja "kata Cakra


"sudah master sebaiknya kita keluar dan aku akan menukarnya Seperti biasa di bawah, aku tidak ingin merugikan master"kata Li


"baiklah terserah kamu, tapi aku yakin Nina akan memanggilku lagi jadi ayo kita ke sana bersama-sama"kata Cakra.


Cakra dan Li turun ke bawah untuk menukar buku yang Li bawa, Li melihat sudah tidak banyak lagi orang yang ingi menukar buku jadi Li dan Cakra duduk di tempat pelayanan itu sambil menunggu orang selesai menukar buku.


"Sudah habis ini Nin"kata Li menyerahkan buku dan menyuruh Nina menaruhnya di timbangan buku.

__ADS_1


lalu Li menaruh beberapa potongan emas tapi buku itu masih lebih berat dan Li mengeluarkan lagi dan lagi emas sampai penuh di tempat penimbangan itu dan masih lebih berat buku itu, Cakra dan Li sudah menduga itu.


"bagaimana kalo emas ini aku ambil dan menggantinya dengan buah darah, master"kata Li


"Terserah kamu saja, malahan jika buah itu satu saja aku yakin buah itu akan lebih berat"kata Cakra dengan senang karena buah darah itu pungsinya banyak sekali.


Benar saja apa yang Cakra katakan baru saja Li menaruh satu buah darah, ternyata satu buah darah itu masih lebih berat dari buku itu.


"Aku akan berikan lima belas buah darah agar seimbang satu buku lima buah"kata Li sambil menaruh empat belas lainnya ke timbangan itu.


Saat Nina ingin menyentuh buah itu Cakra langsung mengambil buah itu dengan cepat dari timbangan itu.


"Hahaha Kakak kira aku tidak punya buah itu ini aku punya juga di dalam gelang ku"kata Nina tertawa sambil menunjukkan buah yang sama kepada Cakra.


"dari mana kamu mendapatkannya"kata Cakra kepada Nina dengan sedikit curiga


"Li yang memberikannya padaku"kata Nina santai menjawab pertanyaan Cakra.


"ouh jadi sekarang sudah jadi pacar, kapan kalian menikah"kata Cakra


baaaammmmmmmm

__ADS_1


bukan jawaban yang Cakra terima dari Nina adiknya malah tinjuan di perutnya yang Cakra terima apa lagi itu menggunakan jurus jadi Cakra memegang perutnya sedikit sakit, Li sendiri yang melihat perdebatan kakak beradik itu menjadi heran seperti anak kecil.


Li kemudian pamit untuk kembali ke perumahannya karena waktu sudah sore.


__ADS_2