
Keesokan paginya Li terbangun cukup pagi, setelah mandi Li duduk di balkon rumah sambil menunggu Zain untuk bangun, sambil duduk berpikir cukup lama sampai jam delapan pagi baru Zain dan Susi keluar dari rumah bersama
Li melihat langkah Susi yang terlihat mengangkang sedikit membuat Li mengernyitkan keningnya
"Pagi saudara Li"kata Zain dengan senyuman melihat ke arah Li duduk di balkon rumah
"pagi saudara Li"kata Susi juga dengan sedikit malu dan duduk di teras rumah bersama dengan zain
"Pagi sepertinya ada yang terjadi semalam"kata Li melihat ke arah Zain dan Susi
"Saudara Li jangan berpikir macam-macam, kami tidak melakukan apapun"kata Zain menolak kecurigaan Li
"hahahah hahahaha Aku tidak mengatakan kalian berdua macam-macam, kenapa kamu berpikir begitu saudara Zain"kata Li menggelengkan kepalanya sambil tertawa lepas
"Ah sudahlah, kamu juga sering melakukannya"kata Zain menatap Li yang tertawa
"Oh benarkah aku tidak ingat itu"kata Li berpura-pura
"ah sudahlah, Kapan kita akan kembali ke kediaman"kata Zain
"Nanti sore bagaimana"kata Li
"apa ada perlu lagi di tempat ini"tanya Zain
"tidak ada, aku hanya akan duduk di sini sampai sore"kata Li
"Jangan dengarkan orang gila itu, sebaiknya kita keluar cari makanan sayang"kata Zain memegang tangan Susi dan mengajaknya keluar
Zain dan Susi keluar meninggalkan Li sendirian di rumah, Zain dan Susi berjalan di pasar mencari makanan, sampai banyak makanan yang di beli oleh Zain
sekitar jam sepuluh siang baru Zain dan Susi kembali dengan membawa kantong dalam jumlah sangat banyak dan kantong itu berisi berbagai makanan dan minuman yang di beli di pasar
"Ini untukmu"kata Zain melemparkan Dua kantong kepada Li yang duduk di atas balkon rumah
"Terima kasih"kata Li setelah menerima dua kantong itu dan meletakkannya di atas meja sebelahnya sambil membukanya dan makan
"Ngomong-ngomong Setelah kembali kekediaman apa yang kita akan lakukan saudara Li"tanya Zain yang duduk bersama Susi di teras depan rumah
"itu yang aku pikirkan dari tadi pagi sampai sekarang tapi belum menemukannya"kata Li
"bagaimana kalo kita membangun bisnis sendiri"kata Zain
__ADS_1
"Bisnis apa, bukankah di kota ini semua bisnis sudah ada, untuk peluang saja kalian berdua tidak akan punya"kata Susi
"Nah dengar kata calon istrimu itu"kata Li
"terus apa yang akan kita lakukan, apa kita akan bergabung ke group keluargamu"kata Zain
"Aku juga tidak tau, kenapa terus menanyakannya padaku"kata Li Sambil makan dan cukup kesal dengan pertanyaan Zain
"hahahaha akhirnya kamu kesal juga"kata Zain tertawa dengan bahagianya
"Kamu memang berencana membuatku kesal dari awal"kata Li menatap Zain tajam'
"Bagaimana kalo kita membangun tambang"kata Zain
"tidak mungkin, Asal kau tau group keluargaku hampir punya semua tambang, jadi itu tidak mungkin"kata Li menolak usulan Zain
"Kalo perdagangan bagaimana"kata Zain
"apa lagi perdagangan, mall besar di ke empat kota Besar ada semua milik keluargaku dan sangat terkenal"kata Li
"Hotel bagaimana"kata Zain
"Apa lagi hotel, di kota ini saja keluargaku punya banyak hotel dan kamu lihat di kota lain hotel golden sebelumnya juga punya keluargaku"kata Li
"Ah sudahlah semua yang kamu tanyakan sudah ada perusahaan besar milik keluargaku"kata Li tidak mau lagi menanggapi Zain
"Terus apa bisnis yang belum ada"kata Zain juga ikut bingung
"Bisnis yang belum ada hemmmm"kata Li sambil berpikir
Akhirnya karena tidak menemukan bisnis yang akan di bangun, Li , Zain dan Susi terdiam tak ada yang bicara satu sama lain dan berpikir masing-masing memikirkan bisnis yang bagus, Zain dan Susi hanya berbicara berdua tanpa menghiraukan Li
"Hemmmmm Hemmmmm"gumam Li sambil berpikir
"Apa saudara Li memikirkan sesuatu"tanya Zain melihat Li bergumam
"Ada tapi nanti aku ceritakan, Aku mau keliling kampung dulu apa kalian akan ikut"kata Li sambil berdiri
"Bukankah kemarin kita berkeliling"Kata Zain Melihat Li
"Kemarin, Iya kemarin kita hanya berkeliling pasar bukan kampung harapan"kata Li sambil berbalik dan turun dari atas balkon rumah
__ADS_1
"Saudara Li, Aku tidak ikut dan akan menunggu di sini"kata Zain ketika melihat Li sudah keluar dari pintu rumah
"Baiklah, tapi kamu harus beritahu Susi kalo kamu punya yang lain, biar nanti itu tidak jadi masalah"kata Li sambil berjalan keluar menuju ke gerbang kecil rumahnya
Li berjalan sendiri untuk keliling kampung harapan, meninggalkan zain dan Susi di rumah, di jalanan kampung Li berjalan melihat sekitaran rumah, banyak orang kampung yang mengenali Li menyapa Li, Li sendiri menyapa mereka dengan mengatakan bahwa sore nanti akan sudah kembali ke kampung halamannya , yang sebenarnya Li maksud akan kembali ke kediaman keluarga Rettes tempat kakeknya berada
"Apa maksud saudara Li, Zain"tanya Susi setelah kepergian Li
"sial saudara Li mengapa harus mengungkit itu sekarang"kata Zain dalam hatinya sambil terdiam mendengar kata-kata susi
"Kenapa kamu diam,Zain"kata susi melihat Zain yang terdiam
"maaf sayang tapi kamu jangan marah"kata Zain
"Hmmmmmm"gumam Susi mendengar perkataan Zain dengan curiga
Tin tin
Tin tin
Suara klakson mobil dari luar pintu gerbang di jalanan dekat tempat Susi dan Zain berada, siapa lagi kalo bukan Diah dan Dina yang datang ke rumah Zain karena Zain sering mengajak dua wanita itu ke rumahnya
"Suara klakson mobil, dan suaranya ada dua dan berbeda"kata Susi mendengar suara klakson dua mobil yang di luar rumah
"Hah sial semoga saja ini tidak menjadi pertanda buruk"kata Zain dalam hatinya karena tau persis suara klakson dua mobil tersebut
Baru saja Zain berpikir seperti itu dua wanita memasuki gerbang kecil rumah tempat Zain dan Susi berada
"Zain siapa dia"tanya Dina saat baru masuk gerbang rumah
"Apa kamu selingkuh Zain"kata Diah saat baru masuk juga
"Siapa kalian"kata Susi melihat Diah dan Dina yang belum di kenalnya
"Bukankah kamu Susi Surya dari keluarga Surya, kenapa kamu bisa ada di sini"kata Dina menatap Susi
"iya aku ingat kamu Susi dari keluarga Surya"kata Diah
"Zain siapa mereka"kata Susi menatap Zain tajam
Zain yang mendengar ucapan ketiga gadis tersebut merasa bingung akan menjelaskan mulai darimana cerita tentang ketiga wanita di hadapannya sekarang
__ADS_1
"Huhhhhhhh bisakah kalian berdua duduk dulu"kata Zain Menenangkan ketiga wanita tersebut
"Baiklah mari duduk dulu saudari Diah"kata Dina mengajak Diah duduk