
Ingin sekali aku pergi dari sini. Jika aku kuat mendorong mobil ini aku akan membawanya ke bengkel lain. Batin Dilah.
"Kenapa diam, masih terpesona dengan wajahku?" Eldo menaikkan turunkan alis matanya. Ia menggoda sang mantan.
Ih... Menyebalkan, aku bahkan membenci wajah itu.
"Cepat perbaiki mobilku!" bentak Dilah.
Dengan gerak cepat Eldo langsung memperbaiki mobil sang mantan kekasih. Setelah 1 jam, mobil tersebut bisa di hidupkan.
"Sudah Selesai," Eldo tersenyum, memperlihatkan cekungan di pipinya.
"Ini, ambil sebagai upah." Dilah memberikan uang yang begitu banyak. Tapi Eldo menggelengkan kepalanya.
"Masih kurang?" Dilah mengambil tasnya dan membuka dompet yang berada di dalam tas.
"Ini," Dilah menambah uang tersebut. Eldo menggelengkan kepalanya membuat Dilah semakin marah.
Dilah mengambil uangnya kembali. Ia menambah jumlah uang tersebut untuk diberikan kepada Eldo. Uang yang ia berikan benar-benar banyak.
"Itu gratis untukmu." Eldo tersenyum lagi.
"Gratis? Kau ini sombong sekali ya. Tak mau menerima uangku. Memangnya berapa gajimu, sok sekali kamu ya!"
Dilah memanggil Piyan, Dilah berpikir Piyan pemilik bengkel tersebut.
__ADS_1
"Eh... Kamu, pemilik bengkel!" panggil Dilah. Piyan menunjuk dirinya sendiri. Ia juga heran mengapa dipanggil Dilah pemilik bengkel padahal Eldo pemiliknya.
"Iya, kamu!"
"Iya Mbak, ada keluhan apa?" tanya Piyan dengan sopan.
"Ini karyawan kamu, sok sekali dia tidak mau dibayar." gerutu Dilah.
Piyan menahan tawanya, jika dia tertawa mungkin dia akan dipecat. Ia menggigit bibirnya dan menghela nafas.
"Dia pemiliknya, Mbak. Bukan saya!" Piyan menunjuk Eldo.
Eldo menanggapinya dengan tersenyum-senyum manis. Ketika Dilah sedang marah, aura kecantikan Dilah terpancar.
"Oh... Jadi kamu pemiliknya." Dilah semakin kesal. Dilah memutar bola matanya.
"Dilah, kau tak mengenaliku?" tanya Eldo dengan wajah yang memelas. Sama seperti waktu SMA dulu ketika Eldo tak punya jawaban untuk mengerjakan soal ujian. Ini lah triknya untuk mendapatkan rasa kasihan dari Dilah.
Bahkan wajah itu masih sama dengan yang dulu. Aku membenci wajahmu yang sedang memelas seperti itu. Aku jadi teringat penghinaan dan penghianatan yang kau lakukan Eldo. Dilah membantin.
"Tidak, aku tidak mengenalimu. Aku baru kenal kau semalam." Dilah membantah.
"Kau berbohong padaku, apakah kau membenciku?" tanya Eldo sedih.
Iya, iya, iya. Aku membencimu. Sangat! Sangat membencimu.
__ADS_1
"Iya," jawab Dilah. Sontak Dilah menutup mulutnya. Jawaban singkatnya itu seolah-olah telah memberitahukan pada Eldo siapa dirinya yang sebenarnya.
"Maafkan aku, maafkan aku. Aku bodoh! ya, aku bodoh telah menyakitimu. Aku masih sayang padamu." Eldo bersimpuh di depan Dilah.
"Kau ini sedang bicara apa? Aku membencimu karena kau mengaku-ngaku sebagai mantan pacarku lalu kau tak mau dibayar." jelas Dilah. Ia mengembuskan nafas lega karena berhasil mengambil alih keadaan. Ia hampir ketahuan.
Eldo merasakan hal berbeda, disatu sisi pikirannya mengatakan bahwa Dilah yang ada dihadapannya adalah orang asing. Tapi, disisi lain hatinya mengatakan bahwa yang berada dihadapannya adalah mantan kekasihnya.
"Kau boleh berbohong kepada pikiranku bahwa kau bukan mantan pacarku. Tapi hatiku tak bisa kau bohongi. Hatiku yang tak pernah mencintaimu kini telah mencintaimu. Selamat! kau berhasil membuatku jatuh cinta. Kata-kataku yang dulu kutarik kembali."
Dilah geleng-geleng kepala. Ia berakting seperti tak mengetahui masa lalunya.
"Sudah gila ya Bos kalian ini," ucap Dilah kesal. Para karyawan Eldo tertawa terbahak-bahak.
"Sudahlah Bos, ikhlas kan Fina yang sudah menikah dengan direktur obat masuk angin. Jangan mengira Nona yang cantik ini adalah mantan Bos. Ini diluar nalar Bos." jelas Wildan.
"Iya Bos, tak mungkin dia mantan pacar Bos. Walaupun Bos anak orang kaya tapi bukan berarti Nona cantik itu mantan Bos," ucap Pyan menimpali.
"Sungguh! Aku tak berbohong!" Eldo berusaha menyakinkan anak buahnya.
"Sebaiknya Bos dibawa ke psikiater untuk cek kejiwaan."
"Aku kasihan dengan Bos Eldo, semenjak ditinggal menikah oleh Fina dia jadi begini. Mungkin kejiwaannya terganggu." ratap Rudi sedih.
"Iya, doakan saja dia baik-baik saja." sambung Reyhan.
__ADS_1
"Aku tidak gila!" bentak Eldo pada anak buahnya.