
Li dan Zain berjalan masuk ke dalam kampung harapan itu yang terlihat pemukimannya masih jauh tertinggal dari daerah yang lainnya , tapi pemukiman itu masih menggunakan perumahan zaman dulu dan banyak bangunan zaman dulu di pemukiman tersebut seperti rumah adat dan sebagainya
Banyak orang di jalan itu berjalan di jalanan kesana kemari karena sibuk menuju pasar dan sebagainya di lorong itu seperti sebuah lorong yang di penuhi rumah di sisi kiri dan kanan jalan itu
"Apa kalian mencari Penginapan atau rumah sewa di sini"tanya seorang pemuda yang mungkin seumuran dengan Li dan Zain
"iya benar kami mencari rumah untuk tiga tahun karena kami sedang berkuliah di universitas dekat sini dan dari mana saudara tau"kata Li
"Ouh itu , karena kedua saudara terlihat kebingungan dan terlihat seperti orang baru disini"kata pemuda itu
"Iya kami baru disini, nama saya Li dan ini saudara jauh saya Zain"kata Li memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan
"maaf saya lupa memperkenalkan diri, nama saya Rino penduduk di tempat ini"kata Rino menyambut uluran tangan Li dan Zain bergantian sambil memperkenalkan diri
"bisakah saudara Rino merekomendasikan rumah terdekat dari universitas dunia bisnis"kata Mao bertanya pada Rino
"Mari ikut saya di sebelah sana ada beberapa rumah terdekat dari universitas dunia bisnis, tapi apakah saya boleh bertanya apa kalian berdua akan berkuliah di sana"tanya Rino sambil mengajak Li dan Zain berjalan menuju tempat yang di tuju
"Iya kami berdua baru akan masuk di sana sebagai mahasiswa baru nanti setelah satu bulan"kata Li
"Oh jadi Kalian akan berkuliah di sana, saya juga berkuliah di sana tapi biaya sangat mahal disana untuk saya dapat beasiswa dan saya mahasiswa tahun kedua di sana"kata Rino
"jadi saudara Rino senior kami di universitas nantinya, mohon kerja samanya"kata Zain
"ngomong-ngomong kalian berdua mengambil jurusan apa"tanah Rino
"aku mengambil jurusan kewirausahaan dan ini saudara saya mengambil jurusan bisnis digital, kami juga mendapat beasiswa untuk masuk ke sana"kata Zain berbohong masalah beasiswa
"ouh bagus jadi kalian hanya perlu pokus berkuliah saja sama sepertiku Dan hanya mencari makan saja di sini,ngomong-ngomong kalo boleh tau kedua saudara berasal dari mana"kata Rino sambil bertanya dan memberhentikan langkahnya
"Kami berasal dari desa yang sangat jauh dari kota maju terus di desa bunga di pedalaman"kata Zain berbohong tapi memang desa itu benar ada dan Zain menjawab seperti itu karena pernah ke desa itu
"sangat jauh, Maaf kita asik mengobrol, ini Rumah pertama coba kedua saudara periksa jika menyukainya bisa memilih rumah ini, jika tidak kita bisa lanjut ke rumah selanjutnya"kata Rino
"bisakah kita masuk"kata Li melihat sekeliling dan rumah itu berada tidak jauh dari pasar dan tidak jauh dari universitas tepat di dekat simpang jalan itu
__ADS_1
"Bisa"kata Rino kemudian mengeluarkan kunci rumah itu dan membukanya
Li dan Zain pun masuk ternyata rumah itu bertingkat satu ,di lantai bawah hanya ada ruang tamu kecil, kamar mandi satu dan dapur, kemudian Li dan Zain naik ke atas bersama dengan Rino di lantai atas ada dua kamar tidur dan di atas hanya ada dua kamar tidur dan balkon untuk bersantai yang mengarah ke jalan di perempatan jalan itu.
Li, Zain dan Rino turun ke bawah dan di depan rumah itu hanya ada halaman kecil yang tidak jauh dari jalan utama perempatan itu
"ini rumah yang bagus saudara Rino, untuk sewa pertahunnya berapa"tanya Li setelah melihat sekeliling rumah kecil itu
"Untuk perbulan sewanya Lima ratus ribu, dan untuk pertahunnya setelah di potong menjadi lima juta lima ratus, untuk tiga tahun jadinya setelah di potong, aku kasih harga murah untuk kedua saudara, Jadi hanya perlu Membayar lima belas juta saja"kata Rino sambil mengeluarkan kontrak rumah itu di belakang bajunya
Ada kontrak satu bulan, dua bulan dan seterusnya sampai sepulu tahun lebih atas rumah itu
"jika aku membeli rumah ini berapa kiranya yang Saudara Reno inginkan"kata Li
"maaf rumah ini bukan milik saya tapi milik ayah saya, Ayah saya hanya menyuruh saya menyewakannya"kata Rino
"Ayahmu pemilik rumah ini"kata Zain
"iya, dia kepala desa di kampung harapan ini dan sekarang dia berjualan di pasar"kata Rino
"Begini saja aku akan ke pasar sebentar memanggil ayahku yang sedang berjualan, bisa saudara tunggu sebentar"kata Rino berjalan pergi dengan senangnya
"baik kami akan menunggu"kata Li
"saudara Li dari mana kita mendapatkan uang untuk membeli rumah ini"tanya Zain
"oh tenang, sebelum ke sini aku sudah menyuruh bibi Riska mencairkan uang satu milyar untuk hidup di luar"kata Li
"terus kartu Bank saudara Li, apa di tinggalkan"kata Zain
"tentu tidak, aku selalu menyimpannya di gelang ruang milikku"kata Li sambil menuju kursi dan meja di depan rumah itu dan duduk disana begitu juga dengan Zain
Setelah berbicara seperti itu Li mengeluarkan koper dari gelang ruangnya yang biasa tempat orang menaruh berkas-berkas penting dan menaruhnya di atas meja
"ini berisi dua ratus juta pas tidak kurang tidak lebih"kata Li
__ADS_1
"apakah uang sebanyak ini untuk membeli rumah ini"kata Zain
"aku tidak tau mungkin lebih"kata Li
Li dan Zain asik berbincang di dapan rumah kecil itu menunggu kedatangan Rino yang pergi memanggil ayahnya,tak beberapa lama Rino dan ayahnya datang ke tempat Li dan Zain berada
"Paman"kata Li dan zain terkejut melihat penjual yang sebelumnya tempat Li dan Zain membeli baju adalah kepala desa kampung harapan
"aku kira siapa yang ingin membeli rumah ternyata tuan berdua, terima kasih sebelumnya atas pemberian tuan, maaf sebelumnya saya Riko Kepala desa di kampung harapan ini"kata Riko memperkenalkan dirinya
"iya sama-sama paman, semoga anak paman cepat sembuh, nama saya Li dan ini saudara saya Zain, dan tolong paman jangan panggil aku dan saudaraku ini dengan sebutan tuan, aku merasa tidak enak"kata Li memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Riko
"Jadi Kalian berdua yang ingin membeli rumah ini, Anak Li dan Zain"kata Riko
"Iya paman, bagaimana masalah harganya"tanya Li
"Rumah ini dulu aku beli sembilan puluh juta serta tanahnya dua tahun lalu, jadi karena kalian berdua membutuhkannya, aku akan menjualnya seharga saat aku membelinya, tapi aku takut jika kawasan ini suatu saat nanti di gusur dan di jadikan area perkotaan dan kalian rugi membeli rumah ini"kata Riko
"mmmmm apa rencana penggusuran itu pernah terjadi paman"tanya Li
"pernah, tapi dengan Sertifikat tanah asli dari penduduk kampung kami berhasil mempertahankan Agar tempat ini tidak di gusur"kata Riko
"Berarti, sertifikat yang di buat oleh orang yang ingin menggusur tempat ini palsu"kata Li
"benar,mereka mampu membuat sertifikat palsu dan mengerahkan polisi untuk menggusur tempat ini, tapi untung ada pengacara yang mengajukan sidang agar tempat ini tidak di gusur"kata Riko
"baiklah walaupun begitu, aku ingin tetap membeli rumah ini, dan ini uangnya di dalam koper ini, dan tolong paman siapkan sertifikatnya atas namaku, ini Poto KTP milikku"kata Li menunjukkan koper itu
"Baik aku akan periksa uangnya dulu"kata Riko
"begini saja, paman jika ku berikan ini jangan menolaknya, ini uang isinya dua ratus juta pas tidak kurang tidak lebih, karena paman sudah membeli rumah ini dua tahun lalu jadi rumah ini aku bayar dua kali lipat"kata Li sambil membuka koper itu
"tidak bisa begitu anak Li, atau begini saja di sebelah rumah ini ada rumah satunya lagi itu akan aku buat juga Atas milikmu dan mungkin suatu hari anak Li membutuhkannya dan harga rumah sebelah itu lima puluh juta kurang lebihnya"kata Riko
"baiklah jika itu keputusan Paman Riko aku akan menerimanya, ini uangnya"kata Li memberikan koper itu
__ADS_1