PEMIMPIN DUNIA

PEMIMPIN DUNIA
Surat


__ADS_3

Setelah desa Purnasukla bebas. Aku dan Cahaya memutuskan pergi ke kota. Mengumpulkan pundi-pundi uang untuk persiapan pernikahan kami. Tepat di hari Jumat aku menikah dengannya. Untuk pertama kalinya impianku terwujud. Menikah dengan wanita yang paling aku cintai. Sungguh aku benar-benar bahagia sekali. Tak pernah terpikirkan sebelumnya akan mendapatkan wanita secantik dan setangguh dia. Menghabiskan waktu bersama dengannya. Dan kabar baiknya juga aku bekerja di kantor perusahaan ternama. Sedih rasanya membagi waktu dengan dirinya dan pekerjaan. Tapi setidaknya aku menafkahinya dengan uang yang halal.


Hari berganti Minggu dan Minggu berganti bulan. Akhirnya kabar bahagia datang darinya. Ia positif hamil. Tak tahu seberapa bahagia rasanya. Tapi ada hal yang ia sembunyikan dariku. Ternyata kehamilannya mengancam nyawanya. Ia tak pernah bercerita atau membahas ini sebelumnya padaku. Sampai pada saat ia melahirkan anak pertama kami. Ia meninggal dunia. Hari dimana aku sangat hancur sekali. Ia menitipkan pesan padaku untuk menjaga malaikat kecilnya. Seperti ini kejadiannya.


"Maaf Pak, istri Bapak tidak tertolong," ucap dokter wanita berusia sekitar 30 tahun


"Apa?! Dokter tolong periksa lagi!" ucapku mendesak. Aku masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter tersebut. Baru saja aku mendapat berita bahagia atas kelahiran putriku malah sekarang aku mendapatkan berita duka.

__ADS_1


"Pak, kami sudah memeriksanya. Istri Bapak sudah pergi." Dokter tersebut menjelaskan berkali-kali tapi aku masih keras kepala. Aku tidak benar-benar percaya dengan ucapannya.


Kemudian datang dokter berkaca mata dengan rambut botak ditengah. Ia memeriksakan istriku kembali untuk membuktikan padaku yang keras kepala ini mengenai kabar duka tersebut.


"Istri Bapak sudah meninggal," katanya meyakinkanku. "Ini diakibatkan penyakit kanker darah yang dideritanya."


"Kau sudah gila, kami menyembuhkan orang sakit bukan menyembuhkan orang yang sudah meninggal." Kata dokter tersebut geram.

__ADS_1


Ucapan dokter tersebut membuatku duduk kembali di dekat istriku. Inilah titik terendah di dalam hidupku. Aku menjadi ingat kata-kata ibu dari orang yang aku bunuh waktu itu. Ia berkata "Kau akan kehilangan orang yang paling kau sayangi seperti apa yang aku rasakan." Mungkin ini karma untukku. Tuhan, ini benar-benar menyakitkan. Baru 1 tahun aku benar-benar hidup bersamanya dan menjadi suaminya kini dia meninggalku. Air mata penyesalan dan kesedihan jatuh di pipiku. Kemudian suster memberikanku malaikat kecil yang sangat mirip dengan ibunya. Putriku tersayang. Aku bahkan belum menyiapkan nama untuknya.


Dokter botak berkaca mata itu mendekatiku. Mengusap-usap punggungku. Pada saat itu posisiku pada saat itu sedang menggendong putriku sambil menangis. Laki-laki sekuat dan sehebat diriku bisa menangis juga.


"Ada rahasia yang selama ini belum aku katakan padamu, Riyaz," ucapnya pelan. Aku mengusap air mataku dan menatapnya serius.


"Istrimu tidak benar-benar sembuh waktu itu dan aku sudah memperingatkan padanya untuk tidak hamil, itu akan mengancam nyawanya tapi dia tetap ingin melahirkan anaknya." ucapnya sambil mengatur nafas.

__ADS_1


"Ini ada titipan surat yang ia buat. Aku tidak berani membacanya dan aku tidak tahu persis isinya apa." Dokter tersebut memberikanku banyak surat. Surat yang selama ini ia tulis di masa kehamilannya.


__ADS_2