
Tiga hari berlalu Li dan Zain kerjaan setiap harinya hanya mengelilingi daerah kampung itu dengan berjalan kaki, selama tiga hari penuh Li dan Zain mengelilingi kampung itu sudah tau jalan-jalan yang ada di sana dan menembus ke mana
Pagi itu setelah bangun Li duduk di balkon rumahnya bersama Zain sambil melihat orang lalu lalang di Jalan, kebetulan balkon rumah milik Li itu mengarah ke jalan yang menghubungkan pasar dan kampung harapan
"Lihat orang-orang kampung ini setiap hari mereka Bekerja untuk mendapatkan penghasilan di pasar"kata Zain
"iya itu adalah mata pencaharian mereka, kalo tidak berjualan di pasar dari mana mereka akan mendapatkan penghasilan untuk menghidupi diri dan keluarga mereka"kata Li
"Begitu susahnya hidup di kota-kota besar seperti ini, lebih baik jika hidup di kampung-kampung kecil"kata Zain
"Saudara Zain, di kampung-kampung kecil adalah tempat dimana orang-orang bisa hidup dengan nyaman, tapi kehidupan di kampung Kecil hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sedangkan untuk meningkatkan taraf hidup Akan sangat susah makanya mereka yang ada di kota lebih baik bertahan dan berusaha di kota dari pada di kampung, dan mereka juga bisa memberikan pendidikan pada anak-anak mereka jika berada di kota, jadi jangan salah"kata Li menjelaskan panjang lebar
"benar kata saudara Li kehidupan di kampung memang nyaman tapi hanya sebatas itu itu saja setiap harinya"kata Zain
Li dan Zain asik berbicara satu sama lain di atas balkon rumah sambil melihat orang lalu lalang di jalan itu
"Hai saudara Li dan Zain"teriak Rino siang itu mendatangi Li dan Zain menggunakan motor, Rino tepat berhenti di depan gerbang kecil rumah Li sambil melambaikan tangan
"Itu saudara Rino, ini sudah tiga hari mungkin SIM sudah jadi"kata Zain melambaikan tangannya
"Saudara Rino tunggu sebentar kami akan turun"kata Li dengan suara cukup keras
Setelah itu Li dan Zain turun ke bawah karena melihat kedatangan Rino
"jadi bagaimana saudara Rino apa SIM nya sudah jadi"tanya Li saat sudah berada di depan Rino
"sudah ini SIM saudara Li dan KTP , dan ini SIM saudara Zain dan KTP "kata Rino menyerahkan SIM dan KTP milik Li dan Zain
__ADS_1
"Wah ini beneran sudah jadi, bagaimana kami harus berterima kasih"kata Zain
"iya bagaimana kami akan berterima kasih padamu saudara Rino"kata Li
"Sudah cukup Kamu membantuku dan keluargaku jadi tidak perlu lagi memberikan apa-apa, dan sudah banyak uang yang kedua saudara berikan padaku"kata Rino menolak lagi pemberian Li dan Zain
"saudaraku ini sudah memberikan banyak uang padamu jadi aku belum memberikan apa, terimalah ini"kata Zain memberikan potongan emas seperti bola seukuran bola bisbol dan Zain langsung menaruh mas itu di tangan Rino
"a a a a apa ini"kata Rino terkejut melihat mas begitu besarnya di tangannya sampai bergetar
"Hei saudara Rino sadarlah itu hanya mas"kata Zain menenangkan Rino
"hahaha saudara Zain apa kau tau jika sebesar itu kau berikan itu harganya mencapai satu milyar lebih, dan itu mas murni dan tidak ada campuran bisa mencapai harga Satu milyar lima ratus juta lebih"kata Li
"aku tidak tau tapi milikku masih tersimpan sekitar seribu lebih seperti itu"kata Zain terus terang
"Apa"kata Rino terkejut mendengar kata-kata Zain dan Rino gemetar
"a a a apa ini beneran saudara Li"tanya Rino masih tidak percaya akan emas yang ada di tangannya dengan masih gemetaran
"terima saja, tapi setelah dari sini sebaiknya saudara Rino menjualnya dan uangnya masukkan bank agar lebih aman dan bisa saudara Rino gunakan uang itu nanti jika ingin membangun usaha atau membantu kedua orang tua saudara Rino membuka usaha baru"kata Li
"Aku akan turuti apa yang saudara Li bilang, terima kasih banyak saudara Zain memberikan ini padaku"kata Rino hendak bersujud di kaki Zain tapi Zain langsung menangkap Rino agar tidak bersujud
"Sama-sama saudara Reno, dan gunakanlah emas itu seperti yang di katakan saudara Li"kata Zain memegang pundak Rino
Rino terlihat meneteskan air mata bahagia karena di berikan emas itu oleh Zain, akhirnya Rino meminta untuk pamit pergi
__ADS_1
"lain kali jangan seperti itu saudara Zain, emas dan berlian di dunia sangat mahal harganya, bukan berarti aku melarang mu memberikannya pada orang lain tapi lihat sendiri hasilnya orang itu sampai gemetar karena bahagia"kata Li setelah kepergian Rino
"Mau bagaimana lagi, aku tidak bisa memberikan uang kepadanya"kata Zain
"hah...... Ini untukmu "kata Li mengeluarkan satu koper berisi uang dan memberikannya pada Zain
"Bukankah ini isinya dua ratus juta, bagaimana kalo aku memberikan saudari Li emas untuk menukarnya"kata Zain menerima koper dari Li
"tidak perlu, aku masih punya banyak emas seperti itu jumlahnya mungkin juga seribu lebih dan juga berlian seribu lebih"kata Li
"ouh jadi berikan yang saudara Li berikan pada bibi pelayan di kediaman juga saudara Li punya banyak, kalo aku hanya punya beberapa ratus saja"kata Zain
"iya tapi aku menyesal memberikannya pada bibi pelayan waktu itu, harga berlian sebesar itu setelah aku cek di internet hampir satu triliun lebih sedangkan yang kecil saja begitu mahalnya, kalo sampai bibi pelayan menjualnya mereka bisa kaget dengan uang yang begitu banyaknya dari harga berlian itu, tapi bagaimana aku tidak bisa mengambilnya kembali"kata Li menjelaskan pada Zain
"sudah sampai kapan kita akan di sini, ini sudah sore"kata Zain
"ya sudah ayo kita masuk saja dan besok kita jadi pergi ke universitas untuk menemui Susi dan berkeliling melihat universitas"kata Li mengajak Zain untuk masuk ke rumah
Setelah masuk rumah Li dan Zain duduk di Ruang bawah dan berbincang bersama apa yang akan mereka lakukan besok, sampai malam hari Li dan Zain berbincang di ruang bawah sambil duduk di kursi
"Lain kali saudara Zain jangan seperti kejadian tadi sore, karena bisa membuat orang gemetar seperti itu, kalo saudara Zain membutuhkan uang bilang saja padaku"kata Li
"baiklah, ini saja sudah cukup dan mungkin tidak akan habis"kata Zain
"ouh benarkah, dan kenapa dari tadi saudara Zain tidak memasukkannya ke gelang ruang"kata Li
"Aku akan masukkan sekarang"kata Zain lalu memasukkan koper itu
__ADS_1
"ini sudah malam , aku kemar dulu untuk berbaring"kata Li berdiri dan berjalan ke atas di mana tempat kamarnya berada meninggalkan Zain sendirian di ruang bawah
Zain pun karena merasa bosen sendirian di ruang bawah, naik ke atas menuju kamarnya, di dalam kamar Li berbaring memikirkan banyak hal sampai tertidur tanpa sadar, begitu juga dengan Zain yang ada di kamarnya