
“Nino, jangan nakal ya! Belajar yang rajin, Mommy pulang dulu. Nanti siang, Mommy akan suruh taxi yang tadi jemput Nino.” Zivanya mengelus rambut putranya itu lalu mencium keningnya.
“Ya, Mom. Nino janji gak akan nakal,” ucap Nino. Setelah itu, Nino masuk ke dalam kelasnya dan Zivanya, Valencia juga Mei segera kembali.
Sebelum pulang, Zivanya mengajak Mei dan putrinya mampir ke supermarket terlebih dulu. Zivanya ingin membeli buah, katanya.
“Mei, kita ke supermarket dulu ya! Aku mau beli buah, di tukang sayur tadi pagi gak jualan buah. Khusus sayur mayur saja,” kata Zivanya pada Mei.
“Iya, mbak. Kebetulan, Mei juga mau beli kerupuk ikan. Hehee,”
Zivanya menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir, kenapa pengasuh putrinya itu tidak pernah bosan dengan yang namanya kerupuk ikan yang berasal dari Palembang itu.
“Kamu kok gak bosan-bosan sih, Mei. Sama kerupuk ikan?” tiba-tiba Zivanya merasa penasaran dan menanyakan langsung pada Mei.
“Rasanya enak, mbak. Cocok buat lalap makan, apa lagi di cocol sama sambal teri. Beuhhh, enaknya! Cowok cakep di depan mata mah lewat!” makin geleng-geleng kepala Zivanya mendengar jawaban yang keluar dari mulut Mei.
“Ada-ada saja, kamu Mei.”
Tak terasa, kini Zivanya, Mei dan juga Valencia sudah tiba di depan supermarket.
“Pak, tunggu di sini ya! Saya mau belanja dulu sebentar,” ucap Zivanya kepada sopir taxi.
“Iya, Neng.”
Zivanya memasuki supermarket itu bersama Mei dan anaknya. Mereka segera memilih buah-buahan dan juga makanan lainnya.
“Mei!” panggil Zivanya.
“Iya, mbak. Kenapa?”
“Tolong ambilkan mie instan ya, beberapa bungkus. Takutnya, nanti pengen makan sesuatu pas kebangun malam-malam,” kata Zivanya.
Mei mengangguk, ia paham betul dengan Zivanya yang kerap kali bangun malam dan mengacak-acak lemari makan untuk mencari sesuatu yang ia inginkan.
“Mommy, apakah Mommy melupakan Valen?” gadis kecil itu berkacak pinggang sambil menatap Mommy nya dengan intens.
__ADS_1
“Tentu saja tidak, Zivanya ingin ice cream yang banyak kan?” Zivanya mencolek dagu putrinya yang sedang pura-pura marah itu.
“Ya! Mommy benar, Valen ingin ice cream yang banyak,” Valencia tersenyum, hingga membuat Zivanya semakin gemas dengan tingkah putri kecilnya itu.
.
.
.
“Mei, sore ini. Kamu yang masak ya,” kata Zivanya.
“Iya, mbak.” Balas Mei sambil mengeluarkan daging dari dalam kulkas.
“Aku kedepan ya, mau nyapu,” ucap Zivanya lalu meninggalkan Mei seorang diri di dapur.
Zivanya menyapu ruang tengah dan ruang depan hingga ke teras rumah. Ia tidak menghiraukan sekelilingnya.
Sedangkan di rumah sebelah, pria yang tadi pagi melihatnya. Kini, sedang melihatnya lagi.
“Woh, kamu! Dasar anak durhaka,” kata Si Bapak yang bernama Jamaludin itu.
“Rendi serius, kalo bapak masih di sini! Rendi teriak manggil ibu yang lagi masak di dapur,” ancam Rendi lagi. ABG yang berusia 18 tahun itu.
“Bocah semprul! Gak tau apa ya. Kalau bapaknya lagi cuci muka, ehh cuci mata,“ omel Pak Jamal sambil masuk kedalam rumah.
Setelah Pak Jamal masuk kedalam rumah, kini tinggalah Rendi sendiri yang berada di teras rumahnya. Ia memandangi lekuk tubuh Zivanya yang aduhai itu.
“Busyettt body-nya! Aduhai betol, belum pernah aku liat perempuan secantik dia,” guman Rendi.
“Samperin ah.. Barangkali bisa kenalan,” ucap Rendi. Lalu, ABG itu mendatangi Zivanya yang tengah menyapu teras rumah.
“Hay, mbak!” sapa Rendi setelah ia sampai di pekarangan rumah Zivanya yang berukuran 4x2 setengah meter itu.
“Iya!” Zivanya yang hanya mengenakan tentop dan juga celana pendek dengan rambut tergerai itu kembalikan tubuhnya ke arah orang yang memanggilnya.
__ADS_1
“Edan!” saat melihat penampilan sexy dan juga wajah cantik Zivanya. Rendi spontan mengatakan kata gila.
“Ada apa, Dek?” tanya Zivanya pada Rendi.
“Enggak ada apa-apa, Cuma mau kenalan sama tetangga baru,” kata Rendi dengan kikuk.
“Oh! Kalau gitu, kenalin, saya Zivanya.” Zivanya memindahkan sapu yang ia pegang ke tangan kirinya, lalu tangan kanannya ia ulurkan pada Rendi.
“Saya Rendi,” balas Rendi. ABG itu dengan cepat menyambar tangan Zivanya yang terulur ke arahnya. “Oiya, mbak tinggal sama siapa aja di sini?” tanya Rendi. ABG itu benar-benar kepo dengan hidup Zivanya.
“Sama adik angkat dan juga kedua anak saya,” jawab Zivanya.
“Ber empat aja. Lah, suami mbak kemana?”
“Saya singgel parent, suami saya sudah meninggal,” jawab Zivanya.
Saat Rendi hendak bertanya lagi, Valencia memanggil-manggil Zivanya.
“Mom.. Mommy!” panggil Valen.
“Maaf ya, anak saya manggil. Saya tinggal masuk dulu, lain kali kita ngobrol lagi!” Zivanya segera berjalan masuk, meninggalkan Rendi seorang diri di tetas rumahnya.
Rendi yang sendirian, tersenyum-senyum sendiri. “Dia janda, aku harus bisa dapatin mbak Zivanya. Walaupun dia janda, tapi boddynya aduhai banget dan wajahnya itu udah kayak artis india Alisha panwar, cantik banget dah. Kaya bidadari!”
Rendi pun pulang dengan perasaan berbunga-bunga, ia sangat senang bisa berjabat tangan dengan janda anak dua itu.
“Dari mana?” tanya Ibu Rendi saat Rendi memasuki rumah.
“Dari rumah janda, ehh janda. Maksud Rendi, dari rumah mbak Vanya, tetangga baru kita,” kata Rendi kepada ibunya.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG!