PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 99


__ADS_3

Satu jam lebih, Arya, Zivanya dan Danu duduk di depan ruangan operasi itu. Akhirnya suara tangisan bayi terdengar nyaring di telinga mereka.


“Alhamdulillah,” ucap Zivanya sembari mengeratkan pelukannya pada Arya.


“Alhamdulillah,” Arya dan Danu ikut mengucap syukur.


Tak lama kemudian, dokter dan satu orang perawat keluar dengan menggendong anak Danu dan Kinanti yang sudah di bersihkan.


“Bagaimana, dokter?” Zivanya segera bangkit dari duduknya. Dan mendekat pada Dokter juga suster.


“Alhamdulillah, anak nya laki-laki. Sehat dan tidak kurang suatu apapun,” kata Dokter.


“Alhamdulillah ya allah,” ucap Arya, Danu dan Zivanya.


Tanpa kata lagi, Zivanya mengambil alih bayi yang ada di dalam buaian perawat itu. “Ya tuhan, tampan sekali. Hidungnya kaya hidung Danu, bibirnya juga,” guman Zivanya tanpa sadar. Arya yang mendengar gumanan istrinya itu menjadi mendelik lebar. Istrinya telah mengakui sendiri, bahwa Danu itu tampan. Tak suka, sungguh tak suka. Itulah yang ada di dalam pikiran Arya saat ini. Tapi, di dalam keadaan seperti ini. Bukan saatnya untuk marah atau pun uring-uringan.


“Bayi nya sehat dan tidak kurang suatu apapun. Tapi-“


“Tapi Apa dokter?” tanya Danu.


“Tapi, ibunya belum sadarkan diri. Mungkin setengah jam lagi dan sebentar lagi, pasien akan di pindahkan ke ruang rawat.”


“Semoga Kinanti cepet sadar, gimana jadinya aku dan bayiku tanpa dia,” batin Danu. Ia teramat takut, Kinanti akan meninggalkan nya.


“Danu, kamu gak mau gendong anak kamu?” Zivanya mengakat bayi Kinanti dan Danu. Dan mendekatkan bayi itu ke wajah Danu.


“Ma-ma-mau lah, tapi Kinanti,” ucap Danu dengan penuh rasa khawatir.


“Jangan khawatir, dokter kan udah bilang. Setengah jam lagi dia mungkin bakal sadar,” kata Zivanya.


Mendengar perkataan Zivanya, Danu mengambil alih bayinya dengan pelan dari gendongan Zivanya. “Yeah! Cowok,” guman Danu dengan sangat pelan. Tapi, masih terdengar oleh Zivanya.


Tanpa aba-aba, Zivanya menarik dan memutar telinga Danu. “Ouchh!” rintih Danu. Membuat Arya yang sedang menghubungi Mei, segera menoleh dan terkejut.


“Van, tolong lepas. Kamu kenapa tiba-tiba jewer aku?!” Danu yang sedang menggendong putranya itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali diam sembari menahan rasa panas dan sakit di telinganya.

__ADS_1


“Sayang, kenapa? Lepasin Danu?” tanya dan pinta Arya pada istrinya itu.


“Ini, beng. Danu gak suka karena anaknya cowok. Kalo gitu, nanti bayinya kita bawa pulang aja,” kata Zivanya. Ia belum melepaskan tangannya dari telinga Danu.


“Kamu denger?” pertanyaan bodoh keluar begitu saja dari bibir Danu.


“Kamu pikir aku tuli?” Zivanya semakin kesal setelah mendengar pertanyaan Danu.


Mendengar hal itu, Arya hanya bisa geleng-geleng kepala.


.


.


.


Satu jam kemudian, Kinanti sudah sadar. Arya, Danu dan Zivanya sudah minta izin untuk masuk kedalam ruangan rawat Kinanti.


Kinanti belum boleh makan apapun, karena ia belum buang angin sama sekali.


Jadi, ia harus menahan lapar dan hausnya, hingga ia bisa buang angin.


“Bodoh! Danu emang bodoh!” Zivanya memukul kepala bagian belakang Danu. Membuat Danu begitu terkejut.


“Kamu kok memukul kepalaku?” protes Danu.


“Mana ada orang abis lahiran gak sakit, sakit lah!” Zivanya bersungut-sungut. Membuat Kinanti tersenyum kecil.


“Sayang, udah. Jangan berisik, kasian Kinanti,” bisik Arya. Mendengar bisikan suaminya, Zivanya pun diam.


“Hallo, Mommy, hallo Daddy!” sapa Valencia yang tiba-tiba menyembulkan kepalanya di pintu ruang rawat itu. Tampak, di belakang nya ada Willy dan Mei.


“Hallo, sayang!”


“Ini untuk Mommy!” Valencia memberikan sebatang coklat yang ia bawa kepada Kinanti. Membuat Zivanya dan Arya tersenyum bangga.

__ADS_1


“Terimakasih sayangnya, mommy,” ucap Kinanti pelan. Ia tersenyum pada Valencia sembari menerima sebatang coklat itu.


Setelah memberikan coklat itu pada Kinanti, Valencia menempel pada Danu. “Daddy, bagaimana?” Valencia menanyakan sesuatu kepada Danu dengan pelan. Membuat, Arya, Zivanya, Mei, Willy dan juga Kinanti yang terbaring lemah penasaran.


“Dedek nya cowok,” bisik Danu.


“Yeah.. Cowok,” volume suara Valencia membesar. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu mengerti, dengan apa yang kedua orang itu bicarakan.


“Hust!” Danu menutup mulut Valencia. “Jangan keras-keras, nanti Valen di jewer Mommy Zivanya seperti Daddy,” kata Danu. Valencia pun menggeleng.


“Kenapa adiknya laki-laki? Kan Valen gak jadi punya teman main,” ucap Valen dengan lirih.


“Valen, gak boleh bicara kayak gitu. Mau laki, mau perempuan, semuanya sama. Dia tetap adik Valen, apakah Valen gak mau bersyukur?” tegur Arya dengan suara lembut.


“Mau, Daddy. Valen sangat bersyukur kok,” kata Valencia sembari mendekati Kinanti. “Terimakasih, mommy sudah kasih adik pada Valencia.”


Kinanti tersenyum menanggapi ucapan gadis kecil itu. “Tuhan, semoga aku bisa mendidik anakku seperti Mbak Zivanya dan Bang Arya.” Batin Kinanti.


"Aku boleh gendong bayinya gak? Kata orang, biar cepet ketularan," kata Mei tiba-tiba sembari tersenyum malu.


"Kalo kamu gak sering nolak pas aku ajak main kuda-kudaan. Pasti udah lama jadi, yank," kata Willy.


Pletak! Arya menjitak kepala Willy, membuat Willy meringis. "Ada anak kecil, bisa gak kalau ngomong di filter dulu!"


"Main kuda-kudaan? Valen mau dong, di ajak main kuda-kudaan," kata Valencia. Membuat Willy menelan ludah dengan susah payah. Arya pasti akan memarahinya jika sampai ia salah bicara lagi, pada Valencia. Begitu pikir Willy.


.


.


.


BERSAMBUNG!


*

__ADS_1


Sembari nunggu update, mampir di karya kakak online neng yang ada di bawah ini ya!



__ADS_2