
Melihat Valencia yang di tarik Nino sudah sampai di dekat pintu rumah. Danu pun berjalan meninggalkan gerbang kediaman Arya.
“Huh.. Begini rupanya jika pernah berbohong, untuk meyakinkan orang lain saja sangat sulit. Karena pada dasarnya, sekali merusak kepercayaan orang lain. Maka akan sulit mengembalikannya.” Danu berjalan dengan pelan, ia menundukkan kepalanya. Sesekali kakinya menendang sampah ataupun barang yang ada di jalanan Ber-aspal itu.
Cukup jauh sudah ia melangkah. Tiba-tiba dari arah belakangannya, terdengar suara Valencia yang memanggil-manggil namanya.
“Daddy.. Daddy..” teriak gadis kecil itu.
Danu menoleh, tampaklah Arya yang berjalan dengan Valencia yang berada didalam gendongannya.
Danu tersenyum, pria itu berbalik arah. Ia segera berlari menghampiri Arya dan Valencia.
“Valen!” Danu berjongkok dan merentangkan tangannya pada Valen yang baru saja diturunkan oleh Arya dari gendongannya.
“Daddy,” kata Valencia sembari memeluk leher Danu.
“Maafkan Daddy ya, Daddy sudah jahat pada Valen, Mommy dan Kak Nino,” ucap Danu sembari mendekap tubuh kecil Valencia.
“Arya, terimakasih sudah memperbolehkan aku bertemu dengan Valencia,” kata Danu pada Arya yang berada di hadapannya. Arya hanya menanggapi dengan tersenyum kecil.
“Ini hukuman karena Daddy Danu sudah meninggalkan Valencia di jalan waktu itu!” tiba-tiba, Valencia menjewer telinga kiri Danu. Membuat senyuman Arya semakin lebar.
“Auchh.. Sakit sekali, jika seperti ini. Daddy berjanji tidak akan nakal lagi,” ucap Danu. Pria itu pura-pura kesakitan untuk menyenangkan hati gadis kecil itu.
“Daddy Danu, ikut Valen dan Daddy Arya ke rumah ya. Daddy jangan khawatir, Mommy dan Daddy Arya akan memarahi Aunty Mei dan Kak Nino,” kata Valencia pada Danu. “Benarkan Daddy?” Valencia mengedipkan sebelah matanya pada Arya. Membuat Arya menganggukkan kepalanya.
Flashback on
“Dimana Daddy Danu nya?” tanya Arya pada Valencia sembari berjalan ke arah gerbang.
__ADS_1
“Tadi di sana!” tunjuk Valencia. “Tapi, Kak Nino dan Aunty tidak izinkan Daddy Danu masuk.” Adu gadis kecil itu kepada Daddy-nya.
Arya segera menurunkan Valencia dari gendongannya, lalu ia membuka pagar besi itu. Setelah itu, ia menggendong kembali putri kecilnya dan berjalan keluar gerbang.
“Abeng, mau kemana?” teriak Zivanya kepada suaminya itu.
“Nyari Danu! Kamu di rumah aja, aku yakin dia belum jauh kok!” balas Arya. Dengan cepat, Arya yang menggendong Valencia berjalan menyusuri jalanan.
Bukan apa-apa Arya bela-bela untuk mencari Danu. Ia hanya tidak ingin melihat Valencia menangis dan bersedih, ia juga yakin jika Danu memang benar-benar sudah berubah. Buktinya, pria itu sudah mau mengakui kesalahannya dan menyerahkan diri ke kantor polisi. Terlebih lagi, semua harta Zivanya yang ia dapat sudah di kembalikan.
Flashback off
Saat ini, Danu sudah berada di rumah Arya. Tampak ia sedang bermain bersama Valencia, tapi tidak lepas dari pengawasan Arya dan Zivanya.
“Daddy curang! Kembalikan uang belanja milik Valen!” Valen meminta kembali uang-uangnya yang ada di genggaman Danu.
“Valen menangis aja deh, Daddy gak mau ngalah!” ancam Valencia.
“Hahahaha! Iya deh, ini Daddy kembalikan. Dari dulu gak berubah-berubah, cengeng,” ledek Danu. Ia tertawa terbahak sembari berguling di atas karpet tempat mereka bermain.
Terlihat, Valencia ikut tertawa terbahak-bahak.
“Sayang, apa dari dulu mereka emang dekat kayak gitu?” tanya Arya pada Zivanya. Matanya terus memperhatikan kebersamaan putri sambungnya itu bersama Danu.
“Iya, makanya aku gak nyangka banget kalau dia tega nipu aku, bahkan kata Nino, dia pernah ngomong kasar,” kata Zivanya.
“Terus? Kenapa Nino gak dekat sama dia, bahkan kesannya Nino gak suka sama dia.”
“Kalau sama Nino, dari awal dia emang gak dekat. Karena Nino anak nya ya begitu, susah di bujuk beda sama Valen yang mudah deket sama orang,” ucap Zivanya.
__ADS_1
“Semoga, dia beneran bisa berubah. Demi author,” kata Arya sembari menarik Zivanya kedalam pelukannya.
“Semoga aja, kasian Author yang di bikin pusing terus sama tingkah Danu,” balas Zivanya pada suaminya itu.
Mereka berdua terus memperhatikan Valencia yang bermain bersama Danu itu dari sofa yang ada di pojokan ruangan.
Tidak terasa, hari sudah menjelang sore. Danu pun pamit pulang.
“Daddy pulang dulu, ya!” pamit Danu pada Valencia di hadapan Arya dan Zivanya.
“Gak boleh!” timbal Valencia cepat.
“Sudah sore, sayang. Besok Daddy kesini lagi,” kata Danu dengan lembut sembari mencubit pipi Valencia.
“Valen ikut Daddy Danu boleh? Minap di sana seperti dulu?”
Permintaan Valencia, membuat Arya dan Zivanya saling melempar pandang.
Benar saja, dulu Valencia sering ikut Danu pulang ke apartemen nya bahkan bermalam di sana, tanpa Mommy-nya.
Hal itulah yang membuat Zivanya tidak percaya dan tidak menduga topeng yang Danu pakai.
.
.
.
BERSAMBUNG!
__ADS_1