
“Beng, Bang Valent!” tunjuk Zivanya, ia menujuk ke arah laptop sambil menyandarkan kepalanya di dada Arya.
Ia menangis, begitu juga Arya. Mereka mengingat kembali kenangan saat mereka bersama Valentino yang periang dan tentunya memiliki selera humor yang tinggi.
Arya membuka Video kedua. Tampak lah Valentino yang masih duduk di tempat yang sama.
“Vanya, Istriku!” Valentino memanggil Zivanya sembari tersenyum. Memperlihatkan lesung pipi nya di sebelah kiri.
“Iya, Bang!” sahut Zivanya lirih. Ia memeluk tubuh Arya dengan sangat keras.
“Aku tau kau rindu, kau kangen. Iya kan? Hahahaa! Jika rindu, kau cukup doakan aku, agar aku tenang di sini.”
“Maafkan aku, ya! Aku pergi lebih dulu, tapi aku sudah menitipkan dirimu dan anak-anak pada orang yang tepat. Dia sahabatku, juga temanmu, iya kan? Dia adalah Arya, orang baik yang sering kau ceritakan, orang baik yang sering menemani saat kau berjualan. Taukah kamu, yank! Dia juga sering menceritakan tentangmu, padaku. Tapi, bukan Valentino namanya, jika langsung peka terhadap sekitar. Aku tidak menyangka, bahwa dia mencintaimu!”
“Sayang, hiduplah bersama, Arya. Aku sangat yakin, dia bisa menjagamu dan anak-anak. Dia mencintaimu, dia menyayangimu, bahkan mungkin rasa cintanya lebih besar dari rasa cintaku ini! Buktinya, ia mampu bertahan dengan kita, mampu menyimpan luka dan rasa sakit itu sendirian. Iya kan?”
“Aku pamit, Yank. Jaga dirimu, selamanya aku mencintaimu! Jangan pernah lelah menjaga anak-anak, meski tanpa aku, masih ada Arya di samping mu. Dia akan membantu, menjaga serta mencintaimu!”
Video itu berakhir, Zivanya semakin terisak begitu juga Arya.
“Beng, Bang Valen!” Zivanya menujuk lagi ke arah laptop itu.
“Sabarlah, sayang. Dia sudah tenang di sana.” Arya memeluk Zivanya dan mengecup pucuk kepalanya berulang-ulang.
__ADS_1
“Maafkan aku yang sempat curiga, Beng. Maafkan aku,” kata Zivanya. Sebelumnya, ia sempat berpikir macam-macam pada Arya. Tapi, setelah melihat video itu, ternyata kecurigaannya salah besar.
“No problem, sayang. Aku juga gak menyangka, Valentino sudah menyiapkan semua ini. Meski ia tidak meminta, aku pasti akan menjagamu dan anak-anak,” ucap Arya.
“Makasih, Beng. Makasih udah mau menunggu aku, menjaga aku dan anak-anak selama ini. Makasih udah bertahan, makasih udah mau berjuang sendirian, aku adalah perempuan yang paling beruntung yang bisa di cintai oleh dua pria hebat seperti kalian.”
.
.
.
Saat ini, Arya dan Zivanya sedang berada di dapur. Arya membantu istrinya memasak untuk makan siang, karena sebentar lagi, Nino, Valencia dan Mei akan tiba dari sekolah.
“Mommy, Daddy!” panggil Nino dan Valencia bersamaan.
“Ya, Boy, gril!” sahut Arya.
Mereka mencium Arya lebih dulu, setelah itu pada Zivanya.
“Mommy habis menangis?” tanya Nino sembari menatap wajah Mommy nya itu.
“Tidak!” kilah Zivanya.
__ADS_1
“Mommy kalian berbohong, Mommy kalian menangis setelah melihat sinetron mertua yang menyiksa menantunya,” bohong Arya. Membuat Zivanya mendelik.
“Benarkah, Mom?” kini Valencia yang bertanya dengan tatapan menyelidikinya.
“Hehehe.. Iya.” Zivanya nyengir kuda saat di tanya oleh anak-anaknya.
“Mommy tidak di izinkan lagi, melihat sinetron itu! Mommy tidak boleh menangis,” kata Nino sambil menatap Zivanya dan Arya secara bergantian.
“Benar, tadi Daddy sudah melarang. Tapi, Mommy kalian keras kepala,” ucap Arya sembari memgompori anak-anak.
“Mommy memang nakal!” Valencia mencubit pipi Mommynya itu, tentu tidak benar-benar mencubitnya. Gadis kecil itu hanya bercanda saja.
“Uh, sakitnya. Valen galak sekali.” Zivanya pura-pura kesakitan dan menangis.
“Hahaha, Mommy bohong. Valen kan hanya menempelkan jari Valen saja, tidak mencubitnya!” ujar Valencia.
Mereka ber empat pun tertawa bersama di dapur itu, sedangkan Mei. Ia juga sangat bahagia, melihat Zivanya bisa di nikahi oleh Arya.
Mei sudah mengetahui, bahwa selama ini, Zivanya hanya berpura-pura bangkrut. Zivanya dan Arya sudah menceritakan semuanya pada Mei.
Tentu Mei terkejut saat tahu, bahwa Zivanya pura-pura bangkrut. Tapi, setelah Arya dan Zivanya menjelaskan nya, berulah Mei paham. Bahwa, semuanya demi kebaikan Nino dan juga Valencia.
BERSAMBUNG!
__ADS_1