PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 103


__ADS_3

“Sayang, ayo pulang, Danu orangnya arogant!” teriak Arya dengan kencang. Membuat Kinanti dan Zivanya keluar dari kamar.


“Ada apa, beng?” tanya Zivanya yang keluar kamar bersama Kinanti.


“Aku mau pulang, Danu main pukul-pukul aja! Enggak mikir,” kata Arya dengan wajah jengkel. Danu yang di katakan tidak mikir, hanya diam saja. Ia berdiri dengan air muka yang begitu tenang di hadapan Zivanya, Arya dan Kinanti.


“Honey, kamu apain?” tanya Kinanti, tapi Danu hanya menggeleng.


“Enggak mikir kenapa? Danu kenapa kok bisa mukul kamu?” Kata Zivanya sembari memegangi tangan Arya yang terus memegangi perutnya yang terkena bogem mentah Danu.


“Enggak tau, aku lagi susun itu! Tiba-tiba dia marah. Bilangin aku, kalo ngomong gak di filter,” kata Arya.


“Hah? Benar yang di bilang Willy, kamu kayak ular selain lidahnya bercabang dua, pintar juga berkelit,” kata Danu tiba-tiba. “Hati-hati, nanti anakmu lahir jadi tukang bohong kayak kamu sekarang!” Danu sengaja Menakut-nakuti Arya.


“Willy ngomong apa lagi sama kamu?” tanya Arya dengan tatapan menyelidik. “Sayang, bener kah yang di bilang Danu. Kalo aku suka bohong, nanti anak kita jadi suka bohong?”


“Iya, karena sikap dan sifat anak itu. Tergantung orang tuanya,” kata Zivanya sembari melirik Danu dan Kinanti. Membuat Danu dan Kinanti tersenyum.


“Kalo gitu, aku gak bohong lagi. Tadi, emang mulutku gak di filter,” kata Arya mengakui kebohongannya.


.


.


.


Hati-hati berlalu, kini perut Zivanya sudah membesar. Arya semakin posesif di buatnya, bahkan pria itu tidak ingin lagi pergi bekerja. Ia tidak mau meninggalkan istrinya barang sebentar saja, istrinya pergi ke kamar mandi pun, ia akan ikut.


“Abeng, berangkat sana! Aku gak apa-apa, lagian kan ada Mei. Aku belum mau lahiran juga, ini kan baru masuk 9 bulan,” kata Zivanya. Jujur saja, ia sedikit risih dengan perlakuan suaminya itu. Kemana-mana harus di antar dan di temani. Bahkan kamar mereka pun sampai di pindahkan kelantai bawah, dengan alasan takut ia akan kelelahan atau terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti terjatuh dari tangga dan membahayakan keselamatan dirinya dan juga bayinya.

__ADS_1


“Aku kan udah bilang, aku gak mau kerja, aku gak mau ke kantor, aku gak mau ninggalin kamu barang sebentar aja,” kata Arya sembari menciumi perut buncit Zivanya.


“Seriusan, beng. Aku gak apa-apa, aku sehat dan insyaallah bakal lahiran normal kok,” ucap Zivanya. Ia ingin membuat suaminya itu mengerti.


“No! Aku tetep di rumah, jagain kamu dan juga anak kita!”


“Emuachh emuchh! Eummm anak nya daddy!” dengan gemas Arya memeluk dan menciumi perut istrinya. Melihat suaminya yang begitu kekeuh, Zivanya hanya bisa mengusap rambut suaminya dan membiarkan Arya 1x24 jam berada di sisinya.


“Dulu, waktu kamu hamil Valencia. Aku juga gak kerja kayak gini, cuman aku bisanya awasin dari jarak yang cukup jauh. Aku gak berani dekat-dekat, takut kamu berpikir macam-macam,” kata Arya. Perkataan nya itu begitu mengejutkan Zivanya.


“Iya kah, beng?” tanya Zivanya sembari terus mengusap rambut suaminya itu.


“Iya, bahkan waktu kamu melahirkan. Aku sempat minta dokter keluar buat mengadzani Valencia,” kata Arya lagi.


“Kok aku gak tau?” tanya Zivanya.


“Jelas kamu gak tau, saat itu kamu lagi bersiap di pindahin ke ruang rawat,” kata Arya. “Kamu ingat gak? Waktu itu, aku datang bawa buah dan bubur? Itu aku udah dari pagi di sana, aku bawa setangkai bunga mawar juga. Tapi, karena takut, bunganya aku simpan di dalam jas, sampe penyet. Hehee!”


“Aku kan takut, takut kamu marah dan ilfeel. Makanya cukup jadi pengagum rahasia aja,” kata Arya.


“Ulu-ulu, kasiannya suamiku!” Zivanya menjadi begitu terharu dengan semua perjuangan yang di hadapi suaminya itu dalam proses waktu yang panjang.


.


.


.


“Will, bisa gak sih kamu jangan dekat-dekat terus! Aku risih,” kata Mei kepada suaminya.

__ADS_1


“Tapi kenapa?” tanya Willy yang selalu di marahi oleh Mei.


“Enek aku tuh liat muka mu! Udah sana pergi!” usir Mei sembari melemparkan bantal kepada suaminya. “Kamu cari aja kamar lain, atau tidur di lantai juga boleh.”


Deg! Hati Willy begitu sakit setelah mendengar perkataan istrinya. Ia diam sembari berlutut mengambil bantal yang di lemparkan istrinya itu. Setelah itu, ia keluar dan memilih turun ke lantai bawah dan tidur di atas sofa yang ada di ruang tengah.


Di ruang tengah itu. Ternyata ada Zivanya dan Arya yang sedang menonton tv.


“Will, kamu kenapa?” tanya Zivanya.


“Di usir lagi, mbak. Gak tau apa salahku, di marahin mulu. Kalau kayak gini terus, makin gak tahan aku. Ku tinggal otw cari istri baru, biar dia puas sekalian,” kata Willy. Sepertinya, pemuda itu benar-benar sudah kehilangan akal karena tingkah dan sikap istrinya yang berubah 120°c.


“Will, jangan ngomong kayak gitu. Gak baik!” tegur Arya.


“Alah, kalo dia dulu emang gak beneran suka sama Willy. Kenapa dia mau Willy ajak melangkah sejauh ini!” Willy duduk di karpet yang ada di lantai. Kepalanya ia sandarkan di kaki sofa. “Pakek bilang nyesel pula nikah sama Willy, di kira Willy apaan? Gini-gini juga, masih banyak loh perempuan yang mau sama Willy.”


“Oh, jadi kamu mau selingkuh! Iya, bang?” teriak Mei yang baru saja turun dari lantai atas karena merasa haus.


.


.


.


BERSAMBUNG!


Jangan lupa, like, coment, dan gift yang ihklas yak🙏


*

__ADS_1


Sembari nunggu update, bisa mampir di karya kakak online neng yang ada di bawah ini, ya!



__ADS_2