PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 88


__ADS_3

Keesokan harinya, Zivanya dan Mei mengajak semua orang jalan-jalan ke mall. Semua orang begitu senang, terutama si kembar Nana dan Nini. Mereka begitu bahagia sekali, karena Zivanya menyuruh mereka memilih pakaian yang mereka inginkan.


“Nana, Nini. Kalian boleh pilih apapun yang kalian inginkan,” kata Zivanya. “Jangan takut dan sungkan, ya.”


“Mbak!” panggil Mei, ia tidak enak hati dengan Zivanya. Kebaikan Zivanya sudah tidak terhitung untuk keluarganya.


Mulai dari membawanya tinggal bersama, memberikan gaji seorang ART yang besar, memberi kebebasan di rumah. Bahkan sudah membantu keluarga Mei membangun rumah di kampung, meskipun rumah itu belum sepenuhnya jadi dan belum bisa di tempati. Kini, malah membelanjakan ibu dan adik-adiknya, bahkan tetangganya yang di kampung pun ikut di belanjakan oleh Zivanya.


“Ini free, Mei. Jangan sungkan, anggap ini rezeki buat si kembar,” kata Zivanya.


Mei segera memeluk tubuh Zivanya, ia menangis. Ia merasa jadi orang yang paling beruntung karena bisa mengenal Zivanya. “Hiks.. Mei beruntung banget, bisa ketemu sama mbak yang baik.”


“Jangan menangis, Mei. Malu,” kata Zivanya. Ia membalas pelukan gadis yang berasal dari desa itu.


Ibu Mei juga tampak begitu bersyukur. Anak nya bisa mengenal orang yang begitu tulus seperti Zivanya.


“Makasih banyak, ya. Nak Vanya,” kata Ibu Mei.


“Udah-udah, ayo kita belanja lagi!” teriak Zivanya heboh.


“Mom, Valen mau beli boneka yang ada di sana!” tunjuk Valencia pada rak boneka yang berjejer.


Tak terasa, hari sudah semakin siang. Zivanya, Mei dan yang lainnya sudah puas berbelanja. Kini, mereka sudah bersiap hendak pulang.

__ADS_1


“Wah, aku punya banyak baju baru. Nanti sampai kampung, aku bisa pamer sama ibu-ibu pengajian,” kata istri dari Pak Tumiran.


“Ya ampun, itu namanya ria. Gak boleh begitu,” kata Bu RT. “Dari pada pamer sama ibu-ibu pengajian, mending pamer sama temen-temen arisan.” Tambah Bu RT.


Ibu Mei tersenyum kecut setelah mendengar perdebatan kedua ibu-ibu itu. Sedangkan Zivanya dan Mei hanya menepuk jidat mereka.


.


.


.


“Will, gimana? Semua persiapannya lancar kan?” tanya Arya. Sebenarnya bukan niat bertanya, tapi lebih ke arah mengingatkan bahwa pernikahannya hanya tersisa tiga hari saja. Jadi, mau tidak mau, siap atau belum nya. Semua harus segera di selesaikan.


“Masalah makanan, biar Zivanya yang urus. Dia pasti udah hubungin orang,” ucap Arya.


Kedua orang itu, kini sedang berada di resort VALE'S hotel. Gedung hotel bintang lima yang menjulang tinggi dan berdiri kokoh. Dulu hotel itu tidak sebesar dan seramai sekarang, tapi berkah campur tangan Arya selama kurang lebih 7 tahun. Kini, hotel itu semakin besar dan semakin maju.


“Kamu selesaikan semuanya, ya. Aku mau balik ke perusahaan dulu,” kata Arya.


“Iya, bang!” timbal Willy. Arya pun segera bergegas kembali ke perusahaannya. Sedangkan Willy, setelah di tinggal oleh Arya, ia kembali fokus mengawasi orang-orang yang bekerja mengurus aula hotel yang akan di jadikan tempat resepsi pernikahannya dan Mei.


“Mas, yang ini tolong di benerin lagi, ya!” ujar Arya kepada salah satu pekerja.

__ADS_1


“Iya, tuan,” kata pekerja itu dengan sopan.


Willy terus berjalan, ia mengamati hasil kerja para pekerja yang sudah ia dan Arya tunjuk untuk mengurus semuanya.


Saat ia sedang berjalan di pojokan ruangan, tepat di tempat dua orang pekerja yang sedang mengecat bagian pojok ruangan itu. Tiba-tiba tangga yang di gunakan pekerja itu goyang.


Byurrr! Ember cat yang ada di tangan pekerja itu terjatuh, dan mengenai dan tertumpah di punggung Willy.


“Emakk!” teriak Willy, membuat seluruh pekerja terkejut. Ternyata orang yang sudah menumpahkan cat itu.


“Huwaaa.. Sialan!” maki Willy. Mendengar kalian Willy, pekerja itu segera turun dan memohon maaf dari Willy.


“Tuan, tuan tolong maafkan saya. Saya benar-benar tidak sengaja,” kata pekerja itu dengan wajah ketakutan.


“Saya mohon, jangan pecat saya,” kata pekerja itu lagi.


“Udah sana kerja lagi!” Tatapan tajam Willy membuat seluruh pekerja kembali pada pekerjaan masing-masing.


“Tuan, maafkan saya,” kata pekerja itu lagi.


“Saya tidak menyalahkan kamu, kembali lah bekerja!” ujar Willy dengan nada datar. Sepertinya, pemuda itu sudah kembali ke satelan awal. Yaitu, pria dingin dan kaku.


“Terimakasih, tuan!” pekerja itu segera membereskan cat yang sudah tumpah di lantai itu, sebelum mengering. Sedangkan Willy, pria itu tampak berjalan ke arah lift yang menuju ruangan paling atas gedung itu. Yaitu, ruangan pribadi Arya saat datang ke tempat itu.

__ADS_1


“Sialan, kotor kan bajuku! Gak bisa di biarkan, aku harus minta ganti rugi sama Mei. Gara-gara mau nikahin dia, aku sampe harus menanggung beban hidup ini.” Gerutu Willy yang sudah berada di dalam lift.


__ADS_2