
“Nah! Sekarang kita tinggal di sini!” Zivanya menarik kopernya menuju sebuah perumahan.
Ia mengeluarkan kunci rumah dari dalam tasnya. Dan segera membuka pintu rumah itu.
Rumah yang lebih besar jika di bandingkan dengan rumah yang ada di sekitarnya. Rumah sederhana yang bernuansa abu-abu. Tapi, jika di bandingkan dengan rumah yang mereka tinggali sebelumnya, rumah itu tidak ada apa-apanya.
“Mom, kenapa rumahnya seperti ini?” tanya Valencia. Gadis kecil itu enggan untuk menginjak lantai rumah itu.
Zivanya hanya diam, ia menatap sedih pada putra dan putrinya.
“Dedek, di sini kayaknya enak. Coba lihat! Ada pohon mangga dan tanaman stroberi,” kata Nino. Nino meletakan tasnya, lalu berlari menuju halaman rumah yang luas itu. Ia memetik dua buah stroberi yang sudah matang, dan memberikannya pada Valencia.
Valencia tersenyum, lalu ikut meletakan tasnya. Ia pun bergandengan tangan dengan Nino, lalu berjalan ke arah tanaman stroberi.
Zivanya tersenyum, ia yakin, lambat laun kedua anaknya pasti akan terbiasa dengan kehidupan sederhana yang kini ia pilih.
Sore harinya, Zivanya dan Mei sedang sibuk berkutat di dapur. Mereka sedang membuat makanan untuk makan malam.
“Mei, biar saya yang kerjakan. Kamu liatin aja anak-anak, jangan biarkan mereka main terlalu jauh, ya!”
“Iya, mbak.” Mei segera meninggalkan dapur dan segera menuju depan untuk mengawasi anak-anak Zivanya yang sudah seperti keponakannya sendiri itu.
.
.
.
“Mei, sekarang kehidupanku sudah tidak seperti dulu.” Kata Zivanya sambil membereskan piring kotor bekas mereka makan malam.
“Maksud, Mbak Zivanya?” tanya Mei yang pura-pura tidak paham.
__ADS_1
“Aku tau, kamu paham apa maksudku.”
“Jadi, mbak ingin saya pergi dari sini,” ucap Mei dengan raut wajah sedih.
“Aku tidak bisa menggajimu seperti dulu lagi, Mei. Aku sudah bangkrut, aku berharap, kamu bisa secepatnya mendapatkan pekerjaan yang baru!” Zivanya meletakan piring yang ia pegang itu kembali ke atas meja.
“Aku tidak perlu di gaji lagi, mbak. Gaji yang selama ini mbak berikan padaku, sudah lebih dari cukup. Kini, ibu dan bapakku sudah hidup enak di kampung. Itu semua, berkat Mbak Vanya,” Mei meraih dan menggenggam tangan Zivanya.
“Aku akan tetap di sini, mbak. Jika mbak makan, maka aku akan ikut makan, dan jika mbak lapar. Maka, aku juga siap kelaparan. Mbak Vanya sudah seperti malaikat untuk keluargaku, sungguh jahat, bila aku meninggalkan mbak di dalam keadaan yang buruk seperti ini!”
Air mata Zivanya mengalir dengan deras, ia tidak meyangka. Bahwa, Mei akan begitu setia kepadanya. Dalam hati, Zivanya berkata. “Aku memang tidak salah menilaimu, Mei. Kamu gadis yang baik, tidak sia-sia aku membawamu pada tiga tahun yang lalu.”
Flashback on
“Hiks.. Bagaimana ini? Kemana aku harus pergi? Semua uang dan barangku hilang di rampok.” Seorang gadis dengan pakaian lusuh sedang duduk di bawah pohon besar di pinggir jalan. Tampak gadis itu sedang menangis sambil memeluk lututnya, sedangkan hari sudah hampir gelap.
Zivanya yang kebetulan lewat di jalan itu, menghentikan laju mobilnya. Ia turun dari mobilnya, lalu menghampiri gadis muda yang sedang menangis itu.
Gadis itu mendongakkan wajahnya, ia menatap wajah Zivanya yang begitu cantik dengan pipi chuby nya.
“Saya di rampok,” lirih gadis itu.
“Lalu, kamu dari mana dan mau kemana?” tanya Zivanya dengan lembut.
“Saya dari kampung ke sini mau cari pekerjaan,” jawab gadis itu.
“Kamu bisa mengasuh?” tanya Zivanya lagi kepada gadis yang jika di lihat Zivanya masih berumur belasan tahun itu.
“Bisa, kebetulan di kampung, saya sering mengasuh anak tetangga yang di tinggal bekerja.”
“Kalau begitu, kamu ikut saya, ya! Saya punya dua anak yang masih kecil,” ucap Zivanya. “Apa kamu mau?” Gadis itu pun mengangguk lalu menyeka air matanya.
__ADS_1
Zivanya membawa gadis itu ikut bersamanya, dan menjadi pengasuh bagi Nino dan juga Valencia. Pengasuh itu adalah Mei.
Flashback off
“Terimakasih, Mei! Kamu sangat baik, saya senang bisa kenal dan memiliki saudara seperti kamu,” Zivanya memeluk erat tubuh Mei. Mei pun membalas pelukan itu.
.
.
.
Malam harinya, Zivanya sedang membaca novel online yang ada di aplikasi ponselnya. Saat ia sedang asik membaca cerita bergenre romantis, tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel itu.
“[Yank, kamu udah pindah?]” tanya seseorang melalui pesan singkat.
Zivanya terkekeh membacanya. “[Dih, yank apaan? Pala loe peyank?]” balas Zivanya.
“[Udah, aku sama anak-anak dan juga Mei udah pindah tadi siang.]” balas Zivanya lagi.
“[Emang gak boleh manggil SAYANK? Sekarang kan kamu jomlo! Hehee,”] pesan dari orang itu lagi, yang ternyata dari Arya.
“[Ingat! Sekarang kamu gak perlu kerja, tiap bulan aku bakal kirim uang ke rekening kamu. Kamu dan anak-anak tinggal nikmatin aja hari-hari kalian!]”
“[Iya, makasih ya! Udah mau aku repotin terus menerus.]”
“[Jangan sungkan, kamu bukan orang lain! Kamu dan anak-anak adalah amanah dari mendiang Valentino yang harus aku jaga.]”
Centang biru, tapi tidak lagi di balas oleh Zivanya. Setelah membaca pesan terakhir dari Arya, Zivanya mematikan ponsel itu lalu segera memejamkan mata.
BERSAMBUNG!
__ADS_1