PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 90


__ADS_3

Hari ini, adalah hari pernikahan Willy dan Mei. Kedua anak manusia itu sudah duduk di hadapan penghulu, bahagia, gugup, dan takut tengah di rasakan oleh kedua anak manusia itu.


Tibalah saatnya Willy mengucapkan janji suci di hadapan semua orang yang menghadiri acara sakral itu.


“Sudah siap?” tanya Bapak Penghulu.


“Sudah, pak,” jawab Willy.


“Kalau begitu, jabat tangan saya,” kata Bapak penghulu.


“Saya nikahkan dan saya kawin kan engkau, saudara Willy Permana bin Firman dengan Meilani binti Kuncoro. Dengan emas kawin yang tersebut di bayar tunai.”


Bukannya membalas, Willy malah mengikuti perkataan Bapak Penghulu itu. “Saya nikahkan dan saya kawin kan-“


“Willy, salah!” tegur Arya. Ia segera memotong perkataan Willy itu.


Berulang kali Willy mengulangi ikrar janji suci itu. Hingga akhirnya, ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan. Zivanya dan Arya yang berada di samping Willy, membantu mengusap keringat jagung yang keluar dari pori-porinya.


“Bismillah, kamu pasti bisa! Udah kamu niatin kan?” Zivanya mencoba mengurangi rasa gugup pemuda yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri itu.


“Iya, mbak,” kata Willy dengan lirih. Tangannya terus bergetar. Bukan hanya dirinya, tapi juga Mei.


Keluarga Mei pun sudah was-was dan ikut khawatir. “Bagaimana ini, bu?” bisik Bapak Mei.


“Kita ulangi sekali lagi,” kata Bapak Penghulu sembari tersenyum kepada Willy yang begitu gugup.


“Saya nikahkan dan saya kawin kan engkau, saudara Willy Permana bin Firman dengan Meilani binti Kuncoro. Dengan emas kawin yang tersebut di bayar tunai.”

__ADS_1


“Saya terima nikah dan kawinnya, Meilani binti Kuncoro. Dengan emas kawin yang tersebut di bayar tunai!” balas Willy dengan lantang.


“Bagaimana saksi? Sah?”


“Sah!”


“Alhamdulillah!” semua orang mengucap syukur.


“Hiks.. Bang, mbak!” Bukannya memeluk istrinya, Willy malah menangis dan memeluk Arya serta Zivanya.


“Jangan menangis, Will,” kata Arya sembari membalas pelukan itu.


“Makasih, bang. Makasih udah mau mengurus Willy, menjaga Willy hingga Willy sebesar ini,” kata Willy dengan dada yang kempang kempis. Pemuda itu begitu emosioal. “Tanpa abang dan nenek, mungkin Willy gak akan menjadi seperti ini.”


“Sudah, jangan menangis. Malu sama yang lain, lihatlah istrimu. Masa memeluk kami, istrinya di abaikan,” kata Zivanya. Tampak, Zivanya ikut meneteskan air mata.


“Biarin, mbak. Biar mereka semua tau, kalau Willy gak punya malu,” kata Willy sembari menyeka air matanya.


Tampak, sebagian orang yang hadir ikut menitikan air mata. Mereka merasa haru melihat kebersamaan Arya dan Willy. Dua orang yang tidak memiliki ikatan darah, tetapi bisa saling merangkul, menyayangi dan melindungi.


“Berhentilah menangis, peluk dan cium istrimu. Lihatlah, dia juga ikut menangis,” bisik Arya. Willy mengangguk, ia segera melepaskan pelukannya dari Zivanya dan Arya.


Tampak, pemuda itu menghapus air matanya dan mendekat pada Mei. Ia memeluk tubuh Mei. “Makasih ya, Mei. Udah mau nerima aku jadi suami kamu,” kata Willy.


“Aku juga makasih, karena kamu juga udah mau menerima aku apa adanya,” ucap Mei.


Willy mendekatkan wajahnya pada wajah Mei, ia hendak mencium bibir Mei. Tapi, sebelum hal itu terjadi. Arya lebih dulu menarik jas hitam bagian belakang Willy.

__ADS_1


“Will, tahan dulu kenapa? Tunggu malam!” ujar Arya. Ia tidak ingin, Willy melakukan hal itu di hadapan semua orang.


“Aishh.. Tadi kan abang yang bilang, suruh peluk dan cium Mei!” timbal Willy. Membuat mata Arya melotot dan mulutnya ternganga lebar.


“Kapan aku bilang?”


“Tadi, abang bisik-bisik. Abang bilang sama Willy kalau abang suruh Willy berhenti nangis, terus suruh peluk dan cium Mei. Iya kan?”


“Astaga Willy! Bukan cium kayak gitu, tapi kayak gini!” Arya menjadi geram dengan tingkah Willy, jadi ia mempraktekan apa yang ia katakan pada Willy tadi. Ia menarik Zivanya kedalam pelukannya dan mencium kening Zivanya dengan lembut.


“Nah, kayak gitu, Willy!”


“Beng, aku malu,” ucap Zivanya lirih.


“Sultan mah bebas,” bisik Arya pada Istrinya itu di hadapan semua orang.


“Mei, aku udah paham. Ayo kita ulang!” Willy kembali mendekati Mei. Tapi, Mei malah mendorong tubuh Willy. Ia menjadi begitu malu karena tingkah suaminya itu.


Penghulu, orangtua Mei, Arya, Zivanya dan seluruh saksi yang hadir. Hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah polos dan bodoh Willy.


.


.


.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


__ADS_2