
“Wah! Ini mobil siapa, Na?”
“Bagus banget, gimana rasa naik nya ya, Ni?” tampak anak kembar yang sepertinya baru pulang mengaji, mengusap-ngusap mobil Arya dan Willy.
“Kok di rumah kita rame, apa yang punya mobil ini ada di rumah kita?” tanya Nana pada Nini, saudara kembarnya. Kedua anak itu adalah adik kembar Mei yang berusia 7 tahun.
Nana dan Nini segera berjalan menuju rumah mereka. Kedua anak itu sangat senang saat melihat kakak mereka pulang.
“Teteh pulang!” teriak Nana dan Nini. Mereka berdua berlari dan memeluk kali Mei.
“Kalian abis ngaji?” tanya Mei. Gadis itu mencium pipi adiknya bergantian.
“Wah, wajah kakak itu sangat mirip! Apakah mereka itu duplikat?” Valencia menatap takjub pada Nana dan Nini.
“Wah, adik kecil ini cantik banget. Kulitnya putih kayak susu!” Nini mendekati Valencia dan mencubit pipi Valencia dengan gemas.
“Auchh.. Aunty, kakak ini nakal sekali,” Valencia meringis lalu mengadu pada Mei.
“Ni, jangan nakal. Dia mau menangis, lihatlah pipinya berubah merah,” kata Nana sembari memeluk tubuh Valencia.
“Ni, Na, dedek ini adalah anak dari bos, Teteh. Tolong jangan di jahili,” ucap Mei dengan lembut.
“Maaf, teh, Nini gak sengaja. Abisnya dedek itu cantik sekali, seperti boneka india,” kata Nini. Sungguh, gadis kecil itu tidak bermaksud untuk mencubit pipi Valencia.
Valencia tersenyum setelah mendengar dirinya di sebut cantik seperti boneka india. Gadis kecil itu pun mengajak Nana dan Nini masuk kedalam kamar.
“Kakak duplikat, yuk ikut Valen.” Valen menuntun si kembar masuk kedalam kamar yang memang milik si kembar.
“Hah! Kamu tidur disini? Terus kami tidur dimana?” tanya Si kembar serempak.
“Mana Valen tau, Aunty Mei yang menyuruh Valen tidur disini. Sebenarnya, Valen juga ingin tidur bersama Daddy dan Mommy saja. Tapi, Aunty Mei tidak mengizinkan!” ujar Valencia.
“Apa itu Aunty? Obat nyamuk?” tanya Nana dengan wajah serius.
“Apa ya, Aunty? Valen juga tidak tau, tapi Mommy menyuruh Valen untuk memanggil Aunty Mei dengan sebutan Aunty!” Valencia meletakan jadinya di dagu. Tampak, gadis kecil itu memikirkan apa itu Aunty.
“Ni, apa Aunty? Obat nyamuk itu kan? Kenapa dia manggil Teteh kita autan?” tanya Nana pada Nini.
__ADS_1
“Ck.. Bukan autan, tapi Aunty. Aunty itu bibik, atau tante!” Tiba-tiba Nino keluar dari dalam selimut yang ada di ranjang itu. Membuat Nana dan Nini terperanjat kaget.
Sepertinya, Nino yang ingin memejamkan mata merasa terganggu dengan keributan si kembar dan adiknya.
“Ehh, jurig!” tunjuk Nini.
“Apalagi jurig?” tanya Valencia.
“Setan, itu jurig artinya setan,” kata Nana.
“Oh, ghost!” Valencia mengangguk.
“Apalagi itu ghost?” tanya Nana dan Nini serempak.
“Ghost ya setan, juling yang kalian katakan tadi!” sahut Nino dengan wajah bantal nya.
“Apanya yang juling? Matanya ghost?” tanya Nini.
“Sudahlah, lupakan aja!” Nino bangun dan duduk di ranjang itu.
Mendengar adiknya yang hendak mencari ice cream nya, Nino bangun dan membuka kotak makanan dan jajanan adiknya itu. Setelah ia mengambilkan ice cream milik adiknya itu, ia segera memberikannya.
“Makasih, kakak. Sayang kakak banyak-banyak!” Valencia mengambil ice cream itu, dan membaginya pada Nana dan Nini.
“Ini apa?” tanya Nana dan Nini.
“Ini ice cream, enak banget,” kata Valen sembari menyodorkan cup ice cream nya pada Nino. Nino segera mengambil dan membuka ice cream itu.
Valen pun mengajak si kembar main di luar, saat itu hari sudah sore. Jam sudah menunjukan pukul 16 sore.
“Ini yang namanya ice cream, enak banget, Na.”
“Iya, Ni. Selama ini kita taunya cuman es balon dan es lilin, paling-paling di sekolah jualan es tontong,” kata Nana sembari tertawa.
Ketiga anak kecil itu berjalan menuju halaman rumah, dimana Zivanya, Arya, Willy dan Mei duduk di atas amben bambu di bawah pohon rambutan.
Memang di halaman rumah Mei yang luas banyak di tumbuhi pohon buah-buahan. Seperti, mangga, kedondong dan rambutan.
__ADS_1
“Na, Ni. Kalian ambil jajan nya dedek Valen?” tegur Mei pada kedua adiknya. Ia takut, kedua adiknya itu mengacak-acak barang Valencia dan Nino yang ada di dalam kamar.
“Enggak, Teh. Ini di kasih dedek,” kata Nana dan Nini.
“Valen yang kasih, Lagian kan kemaren Daddy beliin banyak,” kata Zivanya dengan wajah polosnya.
“Tadi pas ambil, box nya di tutup lagi gak?” tanya Mei.
“Gak tau, tadi kakak yang bukain,” kata Valen menjawab pertanyaan Mei.
“Sini si kembar, duduk di dekat Mommy!” Zivanya memanggil kedua adik Mei. Dan meminta kedua anak itu duduk di dekatnya.
Kedua anak itu bukan mendekat papa Zivanya, tapi mendekati kakak mereka.
“Teteh, mommy itu apa?” tanya si kembar kepada kakaknya.
“Mommy itu ibu,” kata Mei pada adik-adiknya.
“Mei, jangan-jangan nanti anak kita kembar kayak adik kamu.” Celetuk Willy.
Buk! Arya yang berada di belakang Willy, memukul kepala Willy dengan botol minuman yang ia pegang.
“Auuhh, sakit bang!” pekik Willy.
“Kalau ngomong di filter, banyak anak-anak. Nikah belum udah mikirin anak!”
“Hehee, maaf,” ucap Willy.
“Sana kenalanan dulu sama Mommy, Daddy dan Kak Willy.” Mei menyuruh kedua adiknya bersalaman dengan Arya, Zivanya dan Willy.
.
.
.
BERSAMBUNG!
__ADS_1