PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 17


__ADS_3

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Zivanya sudah berbelanja di gerobak sayur Kang Udin. Di sana juga, sudah banyak ibu-ibu kompleks lainnya.


“Kang, saya minta kangkungnya dua ikat, tempenya dua papan sama tepung bumbunya satu,” ucap Zivanya kepada Kang Udin.


“Asiyappp, Neng!” Dengan senang hati, Kang Udin menyiapkan semua barang yang di inginkan Zivanya.


Setelah selesai, Kang Udin segera memberikan pesanan Zivanya. Zivanya selalu saja memberi uang lebih pada Kang Udin, hingga membuat Kang Udin selalu tidak enak hati. Tapi, dengan begitu, Kang Udin sangat bersyukur. Dengan uang lebih yang selalu di berikan Zivanya padanya, ia bisa menabung untuk biaya berobat anaknya, Si Oni.


“Neng, ini kembaliannya,” Kang Udin hendak memberikan uang kembalian untuk Zivanya.


“Ambil aja, Kang.”


“Alhamdulillah, nuhun ya, Neng. Berkat Neng, anak Akang bisa berobat,” ucap Kang Udin.


“Emang, anak Kang Udin sakit? Sakit apa?” tanya Zivanya.


“Anak Akang, sakit tumor, Neng,” jawab Kang Udin dengan jujur.


Terkejutlah Zivanya mendengar cerita Kang Udin. Ia tidak meyangka dengan penyakit yang di derita anak Kang Udin, terlebih lagi, anak itu baru berusia 3 tahun.


“Sok-sok nanya, emang bisa bantu!” cibir seorang ibu-ibu.

__ADS_1


“Oiya, kemaren nih si janda, abis beli motor baru loh!” tiba-tiba, ibu Rendi memberikan tahu kepada ibu-ibu lain bahwa Zivanya habis membeli motor.


“Saya heran, dia kan janda anak nya dua. Dari mana coba duit buat beli motor baru,” ucap ibu-ibu lain.


“Dia kan janda gatel, bisa aja gaet laki orang!”


Zivanya yang mendengar semua tuduhan itu menjadi kesal, ia pun tersulut emosi.


“Ehh.. Ibu-ibu, apa sih urusannya sama kalian kalau saya beli motor baru? Emang saya pakai duit kalian? Lagian kalian bilangin saya janda gatel, emang kalian pernah liat saya garuk-garuk!”


“Lagian ya, bilang aja kalau kalian semua iri sama saya, liat tuh! Badan situ, mana perut mana bokong. Makanya bu-ibu, kalau punya body itu di rawat, biar lakinya gak lirik perempuan lain!” ketus Zivanya, setelah itu. Ia segera berbalik, tak lupa, ia pamit pada Kang Udin dan segera pergi meninggalkan ibu-ibu julid yang selalu menganggunya.


Sedangkan ibu-ibu yang masih berada di gerobak sayur Kang Udin, menjadi kesal setengah hidup. Bagaimana tidak, mereka semua kena mental oleh Zivanya.


.


.


.


“Mbak Vanya kenapa?” tanya Mei pada Zivanya yang baru saja pulang, dan meletakan belanjaannya ke atas meja dengan kasar.

__ADS_1


“Kesel banget sama ibu-ibu kompleks, mulutnya kaya kaleng rombeng. Seenaknya nuduh orang tanpa bukti!” omel Zivanya, membuat Mei geleng-geleng kepala.


“Belakangan ini, Mbak lebih suka marah ya, kalo ada yang bilangin Mbak kaya gitu. Biasanya , Mbak selalu diam,” kata Mei. Mengambil kantong kresek belanjaan yang di beli Zivanya, lalu memasukannya kedalam kulkas.


“Mau kemana, Mbak?” tanya Mei sambil melirik ke arah Zivanya yang pergi dari dapur itu.


“Mau ambil ponsel, pengen nelpon Arya!” sahut Zivanya sambil berjalan gontai.


“Mbak makin deket ya, sama Bang Arya. Kenapa gak pacaran aja sih , Mbak. Bang Arya baik, dan yang Mei lihat, dia juga suka sama Mbak.”


“Deket sebatas teman, Mei. Aku sadar diri, aku gak pantas buat dia. Aku ini seorang janda dengan dua anak, sedangkan Arya, dia masih lajang. Dia tampan, kaya, dan lebih pantas mendapatkan perempuan baik, bukan janda seperti aku ini!”


“Gak ada yang gak pantas untuk seseorang, Mbak. Lagian, gak ada manusia yang sempurna, bukankah Mbak Vanya yang ngajarin Mei. Kalau derajat manusia itu sama di mata tuhan. Gak ada perbedaan status, baik Janda, gadis, duda, lajang atapun pria dan wanita.”


Seperti tuli, Zivanya berlalu pergi meninggalkan Mei memasuki kamarnya. Bukannya ia tidak mendengar perkataan Mei, tapi, ia benar-benar merasa tidak pantas memiliki hubungan lebih pada pria yang nyaris sempurna seperti Arya. Tanpa ia tahu, bahwa Arya memang telah mencintainya jauh sebelum ia kenal dengan Valentino.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG!


__ADS_2