PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 60


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


“Mei, kamu masak apa sih?” Arya memasuki area dapur sembari menutup hidungnya.


“Ikan tongkol yang ada di dalam kulkas,” kata Mei sambil membalik ikan yang ada di dalam penggorengan.


“Buang, buang, Mei. Aku gak suka!” ujar Arya.


Mei melongo, ia menatap Arya yang berdiri di pojokan meja makan.


“Buang, Mei!” perintah Arya, suaranya mulai meninggi. Mei begitu terkejut, ia segera mematikan kompor dan memindahkan ikan goreng yang belum matang itu.


Mei menjadi ketakutan, baru kali ini Arya bicara kasar padanya. Biasanya, suami kakak angkatnya itu selalu berbicara lembut.


Setelah memindahkan ikan itu, buru-buru Mei mencuci penggorengan yang habis ia pakai untuk menggoreng ikan itu sebelumnya.


Zivanya turun dari lantai atas, ia melihat Mei yang beberes di dapur dengan wajah memerah. Sepertinya Mei sedang menahan tangis.


“Mei, kamu kenapa?” tanya Zivanya. Ia paham betul dengan Mei, jika gadis itu diam seperti itu. Pasti telah terjadi sesuatu.


“Gak papa, Mbak,” jawab Mei pelan. Ia melirik Arya yang masih berdiri di pinggiran meja makan.


Zivanya melihat kearah pandangan Mei. Ia melihat suaminya berdiri sembari menutup hidung.


“Kamu kenapa, Beng? Ngapain di situ?” tanya Zivanya.


“Itu, aku abis marahin Mei. Pagi-pagi udah bikin perutku mual,” kata Arya sambil menujuk Mei. Ia menatap tidak suka pada Mei.

__ADS_1


“Bikin mual kenapa, Beng?” tanya Zivanya pada suaminya itu. “Mei, ada apa sih?” Zivanya beralih bertanya pada Mei.


“Mbak nyuruh Mei goreng ikan yang ada di kulkas kan?” mata Mei mulai berkaca-kaca.


“Iya, terus kenapa?” tanya Zivanya. Ia menatap suaminya dan juga Mei secara bergantian.


“Bang Arya marah, Mbak. Suruh buang ikannya,” kata Mei. Gadis itu menangis, ia begitu terkejut dan juga takut melihat expresi Arya yang tidak seperti biasanya.


“Benar kaya gitu, Beng?”


“Iya!”


“Kenapa kamu marahin Mei, Cuma karena ikan?” tanya Zivanya. Seakan meminta penjelasan.


“Kan aku udah bilang, aku mual. Aku gak suka, tapi dia diam aja, ya udah aku marahin!”


“Udah ah. Aku gak jadi sarapan, aku berangkat ke kantor sekarang aja.” Arya meninggalkan area dapur itu, tangannya masih menutup hidung bengirnya.


.


.


.


“Kinanti, kamu datang lagi!” Arya menatap wajah istrinya yang pucat dari balik jeruji besi itu.


“Iya, Bang. Aku bawa makanan untuk kamu,” ucap Kinanti dengan lirih. Hatinya begitu sakit melihat keadaan orang yang ia cintai itu.

__ADS_1


Polisi penjaga membuka pintu tahanan Danu, Danu di beri waktu 10 menit untuk mengobrol dengan istrinya.


Pria berbaju tahanan warna biru tua itu, segera keluar dan menghampiri istrinya. Kinanti meletakan rantang makanan yang ia bawa ke atas meja. Ia memeluk tubuh Danu dengan erat untuk mencurahkan rasa rindunya. Setiap akhir pekan, ia akan mengunjungi suaminya itu dan membawakan makanan ala kadarnya.


“Jangan menangis, jadilah wanita yang kuat demi anak kita. Lihatlah Zivanya, dia mampu bertahan selama ini untuk kedua anaknya, tanpa suami. Bahkan suaminya meninggal, bukan di tahan sepertiku!” Danu mengusap air mata Kinanti.


“Jika ini hukuman untuk kita, aku juga ingin menebusnya, Bang. Aku ingin disini, bersamamu,” ucap Kinanti di tengah isak tangisnya. “Kita melakukan semuanya bersama-sama, jadi kita berdua juga harus menebusnya bersama juga!”


“Hust!” Danu meminta Kinanti diam, ia meletakan jari telunjuknya di bibir istrinya itu. “Apa kamu lupa? Ada anak kita disini! Biarlah aku menebus dosa dan ke khilafan ini sendirian, kau cukup bertahan di luar sana dan menjaga anak kita.”


Semakin terisaklah Kinanti, melihat suaminya yang bersungguh-sungguh untuk berubah, ia pun harus bisa untuk membenahi diri. Ia juga ingin menjadi wanita yang baik-baik, agar kelak anaknya lahir dan tumbuh menjadi sosok yang baik pula. Tidak seperti dirinya dan Danu.


“Waktunya sudah habis!”


“Kamu pulang lah! Aku minta, kamu jaga anak kita baik-baik!” Danu mengecup kening Istrinya dengan lembut.


“Kamu jaga kesehatan disini, Bang. Aku janji, akan buat kamu bebas secepatnya!” Kinanti melepaskan pelukannya.


“Aku harus temuin Mbak Vanya, barangkali dia mau bebasin Bang Danu.” Guman Kinanti. Ia pun berjalan meninggalkan lapas itu sambil mengusap air matanya yang terus menetes.


.


.


.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


Abang-abang, Mbak-mbak, Om-om dan juga tante-tante. Yuk, yang punya vote hari senin yang enggak ke pakai, boleh di sumbangkan buat Arya dan Zivanya!


Biar tambah semangat, iyeeaaa kan? Mweheheee.


__ADS_2