PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 87


__ADS_3

“Ibu sama si kembar, ikut mobil kami aja,” kata Zivanya pada ibu Mei. Karena mobil Willy sudah di isi oleh Pak RT, istrinya dan dua tetangga lainnya.


“Beneran gak apa-apa?”


“Iya, enggak apa-apa, bu.” Akhirnya, Ibu Mei dan si kembar ikut mobil Arya dan Zivanya.


Setelah semua siap, mereka semua pun segera meninggalkan desa tempat tinggal ibu dan bapak Mei.


“Yank, keripik ku gak ketinggalan kan?” Tanya Arya, ternyata ia masih saja ingat dengan keripik yang ia suruh beli dengan Mei.


“Udah ku masukin kedalam kardus, di mobil Willy kayak nya,” kata Zivanya.


Tak terasa, kini mobil Arya dan Willy sudah memasuki kawasan kota. Pak RT, Istrinya dan juga dua orang tetangga yang lain menatap dari jendela mobil. Mereka begitu terkesima saat melihat gedung-gedung raksasa pencakar langit.


“Wah.. Mantap betol gedungnya,” kata Pak Tumiran, tetangga Mei yang ikut ie kota.


“Wah, bisa nih numpang foto-foto di depan gedung tinggi. Nanti sampai kampung, kita bisa pamer,” ucap Pak RT. Membuat Willy dan Mei yang ada di kursi depan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


“Kamu dulu kayak gitu gak, Mei? Pertama sampek sini?” tanya Willy seraya menahan tawa. Ia merasa lucu dengan tingkah bapak-bapak dan ibu-ibu yang ada di kursi bagian belakang.


“Mana ada, jangan kan mau kayak gitu. Tersenyum aja gak sempat, baru turun aku dari terminal. Ehhh langsung si jambret orang,” kata Mei. “Nangis kejer aku di bawah pohon beringin, mana hari udah hampir malam. Untung ada Mbak Zivanya yang lewat, dia nolongin aku dan ngajakin aku tinggal di rumahnya.”


“Wah, kasian sekali,” kata Willy. “Coba aku yang ketemu kamu dulu, pasti udah ku culik.”


“Ini yang di culik!” Mei mencubit perut Willy. Membuat Willy meringis kesakitan.


Sedangkan di dalam mobil Arya. Ibu Mei dan anak-anak tertidur. Hanya tinggal Nino yang di kursi bagian belakang yang tidak ikut tidur, tampak pria kecil itu sedang bermain ponsel.


“Nino, jangan lama-lama main ponselnya. Nanti sakit mata,” kata Zivanya. Ia selalu membatasi putranya itu jika bermain ponsel.


“Iya, Mom!” sahut Nino. Anak itu segera meyimpan ponselnya ke dalam tas ranselnya. Setelah itu, ia ikut memejamkan mata di samping adiknya. Ia menarik kepala adiknya agar bersandar pada bahu kecilnya.


Zivanya dan Arya tersenyum melihat perhatian kecil Nino kepada Valencia. Mereka berharap, agar perhatian dan kasih sayang Nino tidak akan berkurang ataupun berubah hingga ia dewasa nanti.


“Sudah sampai, ayo semuanya turun!” ajak Arya setelah mobil yang ia kendarai berhenti di depan rumahnya.

__ADS_1


Pak RT, Bu RT, Pak Tumiran dan juga istrinya, keluar dengan cara berdesakan lewat pintu mobil yang sama. Sedangkan Bapak Mei, keluar dari pintu sebelahnya lagi.


“Aku duluan!” Pak Tumiran menarik tangan Pak RT, agar ia bisa keluar lebih dulu dari dalam mobil.


“Enak aja, sama Pak RT gak mau ngalah. Ku pecat jadi warga desa kapok!”


“Terserah, ini kota bukan desa. Jadi jabatan situ gak ada gunanya!” Pak Tumiran mencebikan bibirnya sembari turun dari mobil Willy.


“Wahh... Besar betol rumahnya, ini mah rumah pak camat di tempat kita, Cuma secuilnya doang,” kata Bu RT sembari berjalan ke arah teras rumah Arya dan Zivanya.


“Ayo, bu, pak, mari masuk.” Zivanya mempersilahkan semua orang masuk ke dalam rumah itu.


Semua orang pun masuk ke dalam rumah itu. Willy yang di bantu Mei, segera mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil. Sedangkan Zivanya dan Arya, mereka masuk lebih dulu bersama Pak RT dan yang lainnya.


“Valencia, ajak Mbak Nana dan Nini istirahat di kamar kamu, ya.” Zivanya menyuruh putrinya mengajak Si kembar Nana dan Nini istirahat di kamar putrinya itu.


“Iya, mom.”

__ADS_1


BERSAMBUNG!


__ADS_2