
Setelah membayar semua barang yang di ambil dan di makan oleh Arya. Termasuk semua air mineral ya sudah si buka, Willy segera berlari mengejar Arya dan Zivanya yang sudah berjalan menjauh menuju jalan kearah sungai.
“Mei, tega banget sih ninggalin aku,” kata Willy pada Mei yang berjalan mengikuti Arya dan Zivanya.
Tak terasa, mereka ber empat sudah sampai di tepi sungai. Zivanya sangat senang, ia dan Arya sangat menikmati pemandangan yang ada di sekitar tempat itu.
“Sayang, hati-hati. Nanti jatuh,” kata Arya pada Zivanya yang berjalan di atas batu yang ada di pinggiran sungai.
“Mei, air nya seger banget. Jadi pengen mandi,” kata Zivanya. Kini, perempuan itu duduk sembari bermain air.
“Warga sini sering mandi di sini kok, mbak. Bahkan mencuci pakaian,” kata Mei.
“Yank,” Zivanya menatap suaminya penuh harap.
“Gak boleh!” Arya yang mengerti dengan apa yang di inginkan istrinya itu, segera melarangnya.
“Sebentar aja,” kata Zivanya.
“No! Kamu lagi hamil, tempat ini di pinggir hutan. Lagi pula, aku gak mau kamu mandi di tempat terbuka kayak gini!”
Mendengar larangan suaminya, Zivanya hanya bisa diam dan cemberut. Akhirnya, ia hanya duduk diam di atas batu besar.
“Hust!” panggil Willy pada Mei.
“Kenapa?” tanya Mei.
__ADS_1
“Lihat tuh!” Willy menunjuk pada Arya dan Zivanya yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada. “Rasain, dia di ambekin sama Mbak Vanya.” Willy tersenyum puas. Ia yakin sekali, setelah ini. Arya pasti akan mendapatkan balasan atas apa yang di lakukan Arya padanya di warung tadi.
“Seneng bener,” kata Mei.
“Seneng lah, itung-itung karma atas perbuatan Bang Arya tadi,” kata Willy.
Sedangkan di batu besar tempat Zivanya duduk. Ia tidak berbicara lagi sepatah katapun. Ia benar-benar ingin mandi di sungai itu. Walaupun hanya sebentar saja.
“Sayang! Kamu marah?” Arya mendekati istrinya itu. Tapi, Zivanya malah melongos. Ia membuang muka.
“Sayang, bukannya aku egois. Tapi tolong pikirkan kandungan kamu, disini hutan loh! Lagian kita bukan warga sini yang udah biasa sama lingkungan,” kata Arya.
“Mei,Willy, kita pulang yuk!” ajak Zivanya pada Willy dan Mei.
Mei dan Willy mengangguk, Zivanya pun segera turun perlahan dari batu besar tempatnya duduk. Arya mengikutinya.
“Gak mau!” Zivanya terus berlari kecil menyusuri jalanan, Arya yang di belakangnya terus mengejar. Sedangkan Mei dan Willy mengikuti mereka berdua dari belakang dengan pelan.
“Wil, kita harus gimana?” tanya Mei pada calon suaminya itu.
“Biarin aja mereka kejar-kejaran kaya film india. Kita nonton aja, nanti kalau kita ikut campur malah di semprot!” ujar Willy. Kedua anak manusia itu pun, berjalan santai sembari bergandengan tangan.
“Yank, jangan lari-lari nanti jatuh,” kata Arya pada istrinya itu.
“Yank, hati-hati!
__ADS_1
“Yank, inget kandungan kamu!”
Karena kesal istrinya tidak mendengar perkataannya, Arya pun berteriak dengan keras. Membuat Zivanya terperanjat kaget dan spontan menghentikan langkahnya.
“Zivanya! Keras kepala banget sih! Kalau mau mandi di sungai, sana mandi. Di bilangin susah banget!”
Bukan hanya Zivanya yang kaget, Mei dan Willy yang ada di belakang Arya juga menjadi begitu terkejut.
“Hiks.. Kamu marahin aku, beng,” kata Zivanya. Wanita itu tiba-tiba menangis. Membuat kemarahan Arya lebur begitu saja.
“Sayang, maafin aku. Aku gak sengaja,” ucap Arya. Ia segera menarik tubuh Zivanya kedalam pelukannya. “Maafin aku, ya!”
Lama Arya membujuk Zivanya, dan akhirnya wanita hamil itu luruh juga. Entah apa yang dikatakan oleh Arya, sehingga Zivanya kembali tersenyum cerah.
“Gendong, mau?” tawar Arya. Dan Zivanya segera mengangguk.
Arya pun segera menjongkokkan tubuhnya, agar Zivanya dapat dengan mudah naik ke punggungnya dan menjangkau lehernya.
“Sialan, kirain bakal lama marahnya,” gerutu Willy sembari menatap jengkel pada Arya yang kembali berjalan dengan menggendong Zivanya di punggungnya. Bukannya mendapat kepuasan, Willy malah di buat semakin dongkol dengan pasangan Arya dan Zivanya yang semakin mesra di depan matanya.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG!