
“Hentikan!” teriak seseorang yang baru saja tiba.
Ibu-ibu yang memegangi pergelangan tangan Zivanya dengan paksa, segera melepaskannya setelah mendengar teriakan orang yang baru tiba itu.
“Beng!” Zivanya berlari dan langsung menghambur ke pelukan orang itu, yang tak lain adalah Arya. “Aku takut,” ucap Zivanya lirih.
“Duh kan! Dia malah meluk laki-laki lain!”
“Dasar jal*ng emang!”
“Apa yang kalian semua lakukan kepada calon istri saya?” teriak Arya dengan geram.
“Janda yang Akang sebut sebagai calon istri ini! Kepergok berbuat mesum sama Akang ini!” ujar seorang ibu-ibu.
“Enggak, Beng. Tolong percaya sama aku,” Zivanya berucap lirih.
“Aku percaya sama kamu, kamu tenang dulu,” kata Arya sambil mengusap air mata Zivanya.
“Apa buktinya? Kalau Zivanya menggoda pria itu dan berbuat mesum?” tanya Arya.
“Kami lihat dengan mata kepala kami sendiri!”
“Iya, betul.” Warga lain ikut menimpali.
“Saya akan telpon polisi ke tempat ini sekarang juga!” Arya pun mengeluarkan ponselnya lalu segera menghubungi polisi.
Semua orang termasuk pekerja PLN itu tersenyum mengejek kepada Arya yang sangat terburu-buru menelpon polisi.
“Cup sayang, udah jangan nangis lagi. Udah ada Uncle Arya di sini, dia pasti lindungi Mommy kalian,” bujuk Mei pada Nino dan Valencia yang terus menangis.
“Valen takut, Aunty. Kasian Mommy, mereka memarahi Mommy,” ucap Valen dengan berlinang air mata.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, polisi datang ke rumah itu.
“Ada apa ini, Pak Arya?” tanya komandan polisi yang datang.
“Amankan tempat ini! Jangan biarkan seorangpun kabur, sebelum semua masalah ini selesai!”
“Baik, Pak Arya!”
“Aku ingin lihat, siapa sebenarnya yang menggoda siapa.” Arya merangkul Zivanya masuk kedalam rumah dan di ikuti oleh beberapa polisi serta para warga yang ada di tempat itu. Tanpa tertinggal, Pekerja PLN itu ikut masuk dengan percaya diri.
“Kamu tunggu di sini sebentar,” ucap Arya sambil menundudukan Zivanya di atas sofa. Setelah itu, ia pun berjalan ke arah kamar Valen dan Nino. Tak lama kemudian, ia kembali dengan laptop yang ada di tangannya.
“Kalian dengar semuanya! Setiap sudut rumah ini, telah di lengkapi dengan CCTV. Jadi, semua yang terjadi, terekam jelas di dalam komputer ini!”
Terbelalak lah mata si pekerja PLN itu. Ia tidak meyangka, rumah yang begitu sederhana, bisa di lengkapi dengan keamanan CCTV.
Ia pun hendak menyelinap pergi dari tempat itu, tapi aksinya ketahuan oleh Arya.
“Amankan pria itu!” perintah Arya pada anggota polisi.
Arya pun segera memutar rekaman CCTV yang ada di laptopnya. Terlihat jelas di dalam rekaman itu, siapa yang menganggu siapa.
Semua warga yang ada di tempat itu, menundudukan kepalanya. Mereka menjadi ketakutan.
“Bawa pria ini, dan penjarakan dia dalam kurun waktu yang lama!”
“Tolong, tolong maafkan saya. Saya khilaf, saya melakukan semua itu karena saya menyukai Mbak Zivanya,” kata Pria itu memohon pada Arya.
Tapi, Arya tak mendengarkan permohonan pria itu sama sekali. Ia malah sibuk mengurus Zivanya yang terus menangis.
“Mei! Kemasi pakaian anak-anak, malam ini juga kalian harus pindah!” perintah Arya pada Mei.
__ADS_1
“Baik, Bang.” Mei segera membawa Nino dan Zivanya menuju kamar untuk mengemasi pakaian mereka.
“Ada yang sakit? Di mana dia menyentuh?” tanya Arya dengan lembut pada Zivanya.
“Di sini!” Zivanya menyentuh wajahnya dan juga lehernya.
Cup.. Cup.. Arya menciumi wajah Zivanya di depan Warga yang masih ada di tempat itu.
“Sudah, aku udah ngilangin bekasnya. Jangan di ingat lagi,” ucap Arya.
Warga yang menghakimi Zivanya hendak membubarkan diri. Tapi, Arya menghentikan langkah mereka.
“Jangan coba-coba untuk pergi meninggalkan rumah ini!”
“Kalian semua harus menerima akibat dari perbuatan kalian. Aku ingin, yang sudah menunggak pembayaran sewa rumah kalian masing-masing, segera melunasi nya besok pagi!”
Mendengar perkataan Arya, maka terkejutlah semua warga yang sudah menghakimi Zivanya itu.
“Siapa kamu? Berani memberi peringatan kepada kami?” cecar seorang ibu-ibu kepada Arya.
“Tidak perlu kalian tau. Yang pasti, jika kalian tidak bisa membayar uang sewa besok pagi, bersiaplah untuk angkat kaki dari rumah kalian.”
“Beng, Ka-“ Belum lagi Zivanya menyelesaikan kata-katanya. Tapi, Arya sudah lebih dulu memotong.
“Udah cukup semuanya. Biar mereka tau, siapa kamu sebenarnya. Agar mereka gak semena-mena sama kamu,” kata Arya.
“Kalian semua sudah boleh pergi. Ingat untuk melunasi hutang kalian besok pagi, karena pemilik komplek ini, tidak akan memberikan kesempatan.”
Mendengar perkataan Arya, para warga baik perempuan maupun pria, menjadi ketar ketir sendiri.
BERSAMBUNG!
__ADS_1