
“Sederhana saja, aku ingin butik yang kau miliki, setelah butik itu menjadi milikku. Maka, aku berjanji tidak akan menganggu kalian lagi,” ucap Danu. Membuat Zivanya muak setengah mati.
“Sudah ku duga! Pria sepertimu adalah pria yang tidak punya malu!” Zivanya mencibir Danu yang ada di hadapannya.
Plak! Danu menampar pipi Zivanya di hadapan banyak orang.
“Untung saja, kau membuka kedok mu sendiri dengan cepat. Jadi aku dan kedua anakku tidak perlu berhubungan dengan pria arogan dan licik sepertimu!” Kata Zivanya sambil memegangi sudut bibirnya yang berdarah.
“Dasar wanita ja*ang!” maki Danu.
“Kau memang pria yang tidak tahu malu! Meminta paksa harta milik orang lain. Terlebih lagi, harta yang ingin kau rampas adalah harta milik anak yatim!”
Orang-orang yang ada di sekitar Danu dan Zivanya yang sedang bertengkar. Tidak ada yang berani ikut campur. Mereka hanya berani menyimak saja.
“Tutup mulutmu!” geram Danu.
“Kenapa? Apakah kau malu jika semua orang mengetahui siapa dirimu?” cibir Zivanya. Ia tidak perduli dengan sudut bibirnya yang terus mengeluarkan darah. “Jika harta itu yang kau inginkan, kau sudah terlambat, Danu! Semua aset yang aku miliki, tidak lama lagi akan di sita oleh pihak Bank!”
Danu terkejut mendengar semua perkataan Zivanya, tapi, ia tidak mempercayai hal itu begitu saja.
“Kau jangan membodohiku, Zivanya!”
“Untuk apa aku membodohi mu? Kau tau, uang yang selama ini sering aku pinjamkan kepadamu, yang katamu untuk modal usaha itu adalah pinjaman dari Bank. Selama ini aku berharap, kau dapat memanfaatkan uang itu, tapi ternyata aku salah. Uang yang aku berikan padamu, ternyata kau pergunakan untuk bersenang-senang bersama lacur mu itu!” Zivanya terus berbicara tanpa jeda. Matanya sudah memerah, tapi sebisa mungkin ia tahan. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Danu.
“Kalau begitu, kau dan anak-anakmu sudah benar-benar tidak berguna.” Danu berbalik, hendak meninggalkan Zivanya.
“Aku sangat bersyukur tidak jadi menikah denganmu! Ternyata, Tuhan masih perduli akan hidupku dan juga kedua anakku.” Zivanya berbicara keras pada Danu yang sudah berjalan meninggalkannya.
Danu hanya bisa pergi dari tempat itu dengan perasaan yang begitu dongkol.
__ADS_1
“Sepertinya dia percaya, tapi bagaimanapun. Aku harus tetap berhati-hati, aku akan meminta bantuan Arya untuk mengurus surat palsu untuk membuat Danu lebih yakin lagi. Aku dan anak-anakku harus segera pindah dari rumah itu,” batin Zivanya sambil memandang punggung Danu yang semakin menjauh.
Setelah itu, Zivanya segera menyusul Mei dan juga kedua anaknya.
“Mommy, bibir Mommy kenapa? Kok berdarah?” tanya Valencia pada Zivanya yang sudah berada di dekatnya.
“Mom, apa Daddy Danu yang melakukan semua ini?” tebak Nino.
Zivanya meloloti Nino, Nino yang di pelototi oleh sang ibu, segera membekap mulutnya sendiri. Ia tidak sadar berbicara seperti itu di dekat adiknya.
“Apa maksud kakak? Apa yang sudah Daddy Danu lakukan pada Mommy?” Valencia menatap wajah kakak dan Mommy nya secara bergantian.
“Tidak ada sayang, Mommy tadi menabrak sesuatu!” bohong Zivanya.
.
.
.
“Hay, Van. Apa kabar? Tumben kemari!” Arya yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya segera berhenti setelah melihat kedatangan Zivanya.
“Hmm.. Yang kamu katakan benar.” Zivanya melempar tasnya, lalu menghempaskan bokongnya pada sofa yang ada di ruangan kerja Arya.
“Tentang apa? Danu?” tebak Arya.
“Ya!” jawab Zivanya singkat.
“Lalu? Apakah kau perlu bantuanku sampai kau harus mendatangi tempat ini?” Arya mencoba menyelidik.
__ADS_1
“Aku memang butuh bantuan mu! Aku ingin, butik, rumah dan juga mobil yang ku gunakan di buat seolah-olah di sita oleh pihak Bank,” kata Zivanya.
“Itu gampang! Aku akan meminta bantuan rekan-rekanku yang bekerja di Bank,” ucap Arya.
“Terimakasih, Arya. Kau memang bisa di andalkan!” Zivanya bangkit lalu memeluk tubuh Arya dengan erat.
Sesaat Arya memejamkan matanya. Mencoba untuk menenangkan detak jantungnya yang tidak pernah normal jika berdekatan dengan Zivanya.
“Sudah cukup peluknya, jangan lama-lama. Kalau aku jatuh cinta sama kamu karena di peluk-peluk, emang mau tanggung jawab?” canda Arya. Zivanya yang mendengar perkataan Arya, segera melerai pelukannya.
“Oiya, setelah semuanya berjalan dengan lancar. Aku ingin membawa anak-anak pindah ke kompleks Anggrek,” ucap Zivanya. “Tolong belikan aku motor matic, Ya!” pinta Zivanya.
Arya gemas dengan tingkah Zivanya yang terkadang seperti anak kecil. Ingin sekali ia mencubit pipi chuby milik Zivanya itu. Tapi, ia takut Zivanya akan marah padanya.
Cukup lama Zivanya berada di kantor itu, akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
“Aku pulang dulu, ya. Kasian anak-anak, terlalu lama menungguku,” ucap Zivanya.
Emuachhh.. Zivanya mengecup lembut pipi Arya.
“Zivanya, sejak kapan kau menjadi centil dan berani seperti ini?” tanya Arya sambil mengusap pipinya yang terasa lembab.
“Sejak aku jadi jomlo, hahahak!” setelah menjawab pertanyaan Arya, Zivanya segera berlari sambil tertawa terbahak.
Arya mengusap pipinya, ia tersenyum sambil memandang Zivanya yang berlari kecil dari ruangan kerjanya.
“Aku percaya, suatu saat nanti. Aku bisa memenangkan hatimu, meski terlambat. Aku akan bersabar menunggu saat itu tiba.” Batin Arya.
BERSAMBUNG!
__ADS_1