PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 108


__ADS_3

Hari-hari berlalu, kini sudah tepat setengah bulan pasca operasi tumor yang di jalani oleh Mei. Keadaan Mei juga sudah jauh lebih baik, tampaknya wanita muda itu sudah mulai menerima dengan keadaan rahimnya yang telah di angkat.


Ia sudah mulai riang kembali, sikap galak dan bar-bar. Bahkan tak segan-segan ia memarahi suaminya yang suka tidak peka dan berubah polos tiba-tiba.


Saat ini, jam menujukan pukul setengah 8 malam. Willy dengan setia menemani Mei, Nino dan Valencia bermain di ruang tengah rumah itu.


Sedangkan Arya dan Zivanya, kedua orang itu sedang asik bercumbu di dalam kamar mereka.


“Eummmm!” suara lembut itu lolos begitu saja dari bibir Zivanya saat Arya melepaskan pagutan bibirnya dari bibir Zivanya.


“Sayang, boleh, ya?” pinta Arya.


“Pinggangku pegal, beng. Sakit,” kata Zivanya. Ia begitu malas malayani suaminya. Perutnya yang sudah besar membuat dirinya sulit bergerak.


“Kan aku yang kerja, yank. Kamu cuman perlu diam aja dan nikmatin,” kata Arya. Tampaknya, pria itu sangat menginginkannya. Baginya, tubuh Zivanya adalah candu untuknya.


“Ya udah deh, terserah kamu aja. Aku nurut,” kata Zivanya. Ia mulai pasrah kepada suaminya itu.


“Yes!” setelah mendapat izin, Arya kembali menggerayangi tubuh istrinya. Ia mencium dan menj*lat di area leher istrinya itu. Membuat Zivanya mend*sah nikmat.


Setelah merasa puas, Arya segera bangkit dan melepaskan semua pakaiannya.


“Auchhh!” Zivanya tampak meringis. Ia merasakan mulas di perutnya.


“Ayo, yank!” ajak Arya. Pria itu segera melepaskan gaun tidur yang di kenakan oleh istrinya itu.


Setelah melepas gaun tidur istrinya, Arya bermain di bukti istrinya yang kencang dan berisi. Ia hendak mengh*sap pucuk bukit itu. Tetapi, Zivanya melarangnya.


“Beng, jangan!”


“Kenapa, yank?” tanya Arya.


“Pokoknya gak boleh!” Arya pun tidak jadi bermain pada kedua bukit yang begitu menatang dan menggoda itu.


“Aku langsung aja deh kalo gitu,” kata Arya. Ia hendak memainkan ubur-uburnya. Tapi sesaat kemudian.


“Auchh, beng. Sakit,” kata Zivanya. Perempuan hamil itu menahan sakitnya dengan cara menggigit bibir bawahnya.


“Abeng, kayak nya aku mau lahiran,” kata Zivanya. Membuat Arya panik.


“Aduh! Gimana ini, yank. Ayo kita kerumah sakit!” Buru-buru Arya turun dari ranjang itu.


“Abeng, mau kemana? Pakek baju dulu, masa mau kerumah sakit kaya gini.”

__ADS_1


“Lupa, yank. Panik aku!” bukannya memakai pakaian, Arya malah mondar-mandir di depan istrinya dalam keadaan polos.


”Abeng!” bentak Zivanya sembari turun dari atas ranjang. Terlihat, Zivanya sedang berusaha meraih pakaiannya.


“Iya, yank!” Buru-buru Arya membantu istrinya memakai pakaiannya.


Setelah selesai, Arya memakai pakaiannya juga. Ubur-ubur yang semula hidup kini menjadi layu. Arya sudah tidak memikirkan hal itu lagi, ia sudah sangat panik.


“Ayo, yank!” Arya menuntun istrinya itu keluar dari kamar.


“Beng, perlengkapan bayinya mana?” tanya Zivanya pada suaminya itu. Ia takut, kalau-kalau suaminya itu lupa.


“Kan udah didalam mobil,” kata Arya. Ia menuntun istrinya dengan sangat hati-hati.


“Bang, Mbak Vanya kenapa?” tanya Willy. Ia segera bangkit dari duduknya dan mendekati Arya yang memapah tubuh Zivanya.


“Perutnya mules, kayaknya udah mau lahiran,” kata Arya.


“Aku ke rumah sakit dulu, titip anak-anak ya!”


“Iya, bang. Hati-hati,” kata Willy.


“Daddy, Valen boleh ikut? Valen ingin menemani mommy,” kata Valencia.


“Gak boleh, sayang. Kalau Valen ikut, kasian aunty Mei,” ucap Arya. “Besok pagi aja ya, Valen ke rumah sakit bersama Uncle Willy, Aunty dan kakak.”


.


.


.


Kini, Arya sudah tiba di rumah sakit. Ia begitu kasihan melihat istrinya yang merintih menahan sakit.


“Ya tuhan, tukar rasa sakit istriku sama aku aja. Aku gak tega,” ucap Arya dengar lirih.


“Dokter, saya ingin di temani suami saya,” kata Zivanya pada dokter itu. Kini, Zivanya sudah berada di dalam ruangan bersalin.


Dokter itu mengangguk, dan meminta suster pendamping untuk memanggil Arya yang menunggu di luar ruangan.


“Pak Arya, istri anda minta di temani dengan anda,” kata suster itu pada Arya yang duduk di kursi tunggu dengan bibir yang terus komat kamit seperti mbah dukun yang membaca mantra.


Mendengar itu, Arya segera berlari memasuki ruangan bersalin. Ia mendekati istrinya. Di genggam nya tangan Zivanya yang lemab oleh keringat.

__ADS_1


“Sayang, kamu yang kuat. Kalau sakit, kamu gigit aja aku, kamu jambak atau kamu cakar juga boleh!” ujar Arya dengan wajah cemas nya.


“Auuuuuhh, beng!” pekik tertahan Zivanya. Rasa sakit itu sudah semakin sering datang dengan tempo yang cepat. Yang artinya, jalan lahir sudah semakin terbuka.


“Ibu Zivanya, sudah bukaan sembilan. Kalau sakitnya datang lagi, ibu sudah boleh mengejan.”


“Abeng,” ucap Zivanya lirih. Arya menyeka keringat yang keluar dari pori-pori istrinya.


Kini, Zivanya sudah bersiap mengeluarkan tenaganya. Tangannya mencengkram punggung suaminya.


“1 2 3! Ayo, bu. Sedikit lagi, kepalanya udah keliatan!” ujar dokter dengan semangat.


“Akkkkkhhhh! Abeng!”


“Akkkhhhh!” Arya ikut memekik tertahan saat kuku-kuku panjang istrinya menusuk punggungnya.


“Oekk.. Oekk.. Oekk..!”


“Alhamdulillah,” ucap Arya dan Zivanya bersamaan.


“Allhamdulilah, bayinya cowok, bu, pak. Sehat dan gak kurang suatu apapun,” kata Dokter itu. “Kalau begitu, biar saya bersihkan dulu!”


Setelah bayi itu di bersihkan, Dokter memberikannya pada Zivanya agar bisa di beri ASI pertama.


Arya melongo saat melihat bayi itu mencari-cari pucuk bukit istrinya. “Sayang, kok kamu curang. Aku tadi gak boleh, kok di kasih ke dedek nya?” bisik Arya di telinga Zivanya.


“Kan emang punya dedek bayinya, beng. Kok kamu aneh sih!” Zivanya melirik tajam pada suaminya itu. Sesaat kemudian, lirikan Zivanya berubah jadi pelototan. “Abeng! Bajumu kebalik itu loh!” Zivanya mencubit perut suaminya.


Membuat dokter dan suster yang ada di dalam ruangan itu tersenyum geli. Pastilah dokter dan suster itu berpikir traveling, sebelum sepasang suami istri itu menuju rumah sakit. Pastinya ingin melakukan hubungan layaknya suami istri.


“Hehehee! Aku kan panik yank, mungkin juga dalam nya kebalik juga,” kata Arya tanpa rasa malu.


Makin geleng-geleng suster dan dokter yang mendengar perkataan vulgar yang keluar dari mulut Arya. Sedangkan Zivanya, wanita yang baru saja melahirkan itu hanya tersenyum malu melihat tingkah suaminya.


.


.


.


Bersambung!


*

__ADS_1


Sembari nunggu up, bisa mampir di karya kakak online neng yang ada di bawah ini ya!



__ADS_2