PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 43


__ADS_3

Brak! Setelah sampai rumah, Zivanya keluar mobil lebih dulu dari Arya dan kedua anaknya.


“Mommy masih marah sama Valen,” kata Valencia lirih.


“Mommy marahnya gak akan lama.” Arya menggendong Valencia dan membawa anak itu masuk ke dalam rumah. “Ayo, Nino!”


Nino mengikuti Arya yang menggendong Valencia memasuki rumah.


“Nino, Mommy mu kenapa?” tanya Mei pada Nino yang berjalan sembari menundukkan kepalanya.


“Tadi, dedek kayak biasanya. Minta makanan punya Nino, terus Mommy marah lagi,” kata Nino.


“Valen, sini sama Aunty!” Mei mengambil alih Valencia dari gendongan Arya.


“Mei, kenapa Vanya bisa marah kayak gitu?” tanya Arya pada Mei.


“Mbak Vanya gak mau, Valen jadi kebiasaan, Bang.” Mei membawa Valen masuk ke dalam kamarnya.


Arya segera menyusul Zivanya yang lebih dulu menuju kamar. Ia di buat terkejut dengan Zivanya yang membanting pintu.


Brak!


“Astaga, Vanya!” Arya mempercepat langkahnya menuju kamar.


Saat ia tiba di kamar, Zivanya sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Yank, kamu kenapa sih?” tanya Arya dengan lemah lembut.


“Gak papa,” ucap Zivanya.

__ADS_1


“Kamu jangan marahin Valen kaya gitu, dia masih kecil,” kata Arya. Ia tidak mau melihat Valencia bersedih.


“Aku gak marahin, aku cuma kasih pengertian sama dia. Tapi, dia gak ngerti-ngerti.” Zivanya bangkit dan merubah posisi duduknya.


“Dia masih kecil, yang. Umurnya baru 4 tahun,” belum selesai Arya berbicara. Zivanya sudah memotongnya.


“Justru karena dia masih kecil, harus di ajarin dari sekarang. Kalo di ajarin waktu dia udah mulai dewasa, bakal susah buat berubah!” Ujar Zivanya dengan suara yang agak tinggi. Terlihat dari wajahnya, bahwa ia sangat kesal.


“Aku tuh udah sering ajarin dia buat gak serakah, buat gak selalu maksain kehendak. Mungkin saat ini, dia ada sama kita, yang selalu bisa nurutin kemauan dia. Tapi suatu saat, dia bakal dewasa, dia bakal hidup di lingkungan luar dan gak semua orang bisa nurutin kemauan dia!” Zivanya memejamkan matanya untuk mengurangi kekesalannya. “Dia perempuan, Beng. Aku takut!”


“Aku tau kamu khawatir, aku tau kamu takut. Tapi, Valencia masih terlalu kecil. Dia belum bisa menerapkan semua yang kita ajarkan. Dia butuh waktu untuk menerapkan itu semua,” ucap Arya. Ia mendekati Zivanya, lalu menarik Zivanya kedalam pelukannya. “Jangan terlalu keras sama anak-anak, gak baik buat pertumbuhan mereka.”


“Nasip baik gak selamanya bisa kita miliki, Beng. Mungkin saat ini kehidupan kita baik, tapi gak tau kedepannya,” ucap Zivanya. Hatinya mulai melunak.


“Mom, Daddy. Maafkan Valen!” Valen memasuki kamar Mommy dan Daddy-nya. Gadis kecil itu mendekat dan minta maaf.


“Valen janji, gak akan ulangi lagi!” Zivanya mengarahkan jari kelingkingnya pada Valencia.


“Janji, kalau Valen ingkar lagi kayak tadi. Mommy boleh tarik telinga Valen!” Valen menyatukan kelingking kecilnya pada kelingking Mommy nya itu.


“Valen sayang sama Mommy,” Valencia memeluk Zivanya. Zivanya mendekap tubuh mungil itu, di cium nya pucuk kepala Valencia berulang-ulang.


“Ehemm.. Daddy gak di sayang nih!” ujar Arya.


“Sayang dong!” Valencia melepas pelukannya pada Zivanya. Lalu, beralih pada Arya.


Zivanya tidak memarahi putrinya, melainkan menegur. Karena, kebiasaan anak yang suka meminta barang ataupun sesuatu milik orang lain itu tidak baik. Meskipun barang itu milik saudara sendiri, maka dari itu, kebiasaan meminta milik orang lain harus di hilangkan sejak ia masih kecil. Jangan di biarkan terbiasa, karena kebiasaan itu akan terbawa hingga ia dewasa, dan menyebabkan anak itu tumbuh menjadi anak yang keras kepala dan ingin menang sendiri.


.

__ADS_1


.


.


Di sebuah hotel yang ada di pulau Bali.


“Honey, ayo dong!”


“Aku gak mau, aku lagi gak pengen!” Danu menolak Kinanti yang sedang menggodanya.


“Kita udah lama gak lakuin itu, loh!”


“Iya, tapi aku beneran lagi gak pengen,” kata Danu. Ia mendorong tubuh Kinanti yang nyaris polos itu dari hadapannya. Lalu, ia bangkit dari atas ranjang dan menuju sofa yang ada di ruangan kamar itu.


Danu mengambil sebatang rokok dan juga korek yang ia letakan di atas sofa itu. Ia membakar ujung rokok itu, lalu mengh*sapnya.


Kinanti yang merasa di abaikan, segera mendekati Danu. “Honey!” panggil Kinanti dengan manja.


“Stop! Kenapa kamu gak ngeri juga, aku capek, aku lagi gak pengen bermain. Kenapa sih, semua perempuan itu menjengkelkan!”


Danu membuang rokok yang ada di tangannya ke lantai. Setelah itu, ia pergi meninggalkan Kinanti.


“Kenapa kamu berubah begini, Honey! Cuma karena janda itu gak bersama kamu lagi, kamu jadi selalu marahin aku,” ucap Kinanti. Ia sangat mencintai Danu, tapi tampaknya, Danu yang dulu juga mencintainya telah berubah.


“Kamu berubah sama aku setelah janda itu pergi,” kata Kinanti sambil memandang punggung Danu yang keluar dari pintu kamar hotel mereka.


BERSAMBUNG!


Kabur sebelum di protes! Wkwkwk

__ADS_1


__ADS_2