PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 55


__ADS_3

“Aku pikir, hanya aku yang gila. Ternyata kamu lebih gila lagi, Zivanya!”


Danu segera mendekati Zivanya, di lepasnya tali yang di gunakan untuk mengikat kaki dan tangan Zivanya.


Di peluknya tubuh itu dengan erat. “Sebesar itukah rasa bencimu padaku? Sampai-sampai kau ingin menghabisi nyawamu dari pada di sentuh olehku?” Danu mencium kening Zivanya.


Setelah itu, ia segera menggendong tubuh Zivanya dan membawa Zivanya keluar dari kamar hotel itu. “Bertahanlah, aku bakal bawa kamu ke rumah sakit,” ucap Danu. Ia berjalan meninggalkan hotel itu dengan tergesa-gesa ke arah mobilnya yang ada di parkiran.


Danu melajukan mobilnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Ia takut, keadaan Zivanya semakin memburuk. Kini, ia benar-benar merasa bersalah dan menyesal. Ternyata, Zivanya benar-benar wanita yang baik yang tidak mudah di taklukan oleh pria.


Beberapa belas menit kemudian, mobil Danu berhenti di depan rumah sakit. Ia segera membawa Zivanya turun dan masuk ke dalam rumah sakit.


“Dokter! Dokter!” Danu berteriak sembari membopong tubuh Zivanya.


.


.


.


“[Bang, Mbak Vanya dari tadi siang gak pulang. Katanya pamit jemput Nino di sekolah, sedangkan Nino pulang di antar gurunya udah jam 1 lebih. Mei udah coba hubungi Mbak Vanya, tapi nomernya gak aktip!]” Mei menghubungi Arya, karena hari sudah malam. Tapi, Zivanya yang pergi belum juga kembali.


“[Aku pulang sekarang!]” Arya yang berada di seberang telpon menjadi panik.


Ia segera mematikan sambungan telpon itu, dan pergi menuju kamar penginapan milik Willy.

__ADS_1


Brak! Arya membuka pintu kamar Willy dengan kasar. Willy yang sudah tidur menjadi terkejut.


“Willy, kita kembali ke Kota A sekarang!” ujar Arya dengan panik.


“Ada apa ini, Bang? Kenapa abang panik?” tanya Willy sembari memakai jaketnya.


“Istriku hilang!”


“Apa?” Willy ikut terkejut setelah mendengar jawaban Arya.


Mereka berdua pun segera bergegas kembali ke Kota A. Padahal, mereka baru saja tiba di Kota C itu pada pukul 5 sore. Tapi, mereka harus kembali lagi ke Kota A malam itu juga.


“Di mana kamu, sayang? Apa yang terjadi?” Arya terus mencoba untuk menghubungi nomer Zivanya. Tapi, nomer itu tidak dapat di hubungi sama sekali.


.


.


.


“Bangunlah Zivanya, demi anak-anakmu. Aku berjanji, akan mengembalikan semua harta rampasan yang aku ambil darimu. Aku akan mempertanggung jawabkan perbuatanku, tapi kumohon bangunlah!” Danu menggenggam jemari Zivanya.


Danu sangat menyesali perbuatannya, bahkan pria itu kini sedang menangis. Terlihat dari wajahnya yang memerah dan sudut matanya yang terus berair.


“Aku pulang dulu, ya. Aku akan mengambil semua harta yang ku rampas darimu. Sekaligus pamit kepada Kinanti dan calon anakku,” ucap Danu. Pria itu menyeka sudut matanya. “Ku harap, kau cepat segera sadar. Ku mohon maafkan aku, ya. Aku janji, setelah aku mengembalikan harta itu. Pertemuan itu akan menjadi yang terakhir.”

__ADS_1


Danu melepaskan genggaman tangannya, lalu bangkit dari kursi yang ada di samping ranjang pasien. Ia keluar dari ruangan itu, dan pulang ke apartemennya.


Kini, Danu sudah berada di apartemennya. Kinanti di buat bingung dengan sikap Danu yang semakin aneh, di baju yang di pakai Danu juga terdapat bercak merah darah yang sudah mengering.


“Honey, untuk apa semua berkas-berkas itu?” tanya Kinanti.


“Aku akan mengembalikannya pada Zivanya.” Danu menatap wajah Kinanti yang pucat, lalu memeluk tubuh Kinanti.


“Maafkan aku, maafkan aku.. Aku harus pergi, sudah cukup aku menjadi seorang pecundang dan pengecut selama ini bahkan menjadi bully-an para readers. Aku akan pergi untuk menebus semua kesalahanku, ku harap kau mau menungguku bersama anak kita,” ucap Danu dengan lirih.


“Maksudmu apa Honney?” tanya Kinanti sambil menatap wajah Danu yang memerah.


“Aku hampir membuat Zivanya kehilangan nyawanya,” ucap Danu.


“Apa?” Kinanti terkejut mendengar pengakuan suaminya itu.


“Sekarang, aku harus pergi. Tunggu aku kembali, ku harap kau dan anak kita baik-baik saja meski tanpa aku!” Danu mengusap perut Kinanti. Kinanti menangis, ia merasa haru karena Danu mau mengusap perutnya dan mengatakan anak 'kita' pada bayi yang ada di dalam kandungannya. Tapi, ia juga merasa sedih dengan Danu yang pamit pergi untuk menebus semua kesalahannya. Yang artinya, Danu akan pergi dalam kurun waktu yang cukup lama.


BERSAMBUNG!


.


.


.

__ADS_1


No Bully lagi! Lihatlah, dia tersakiti karena di Bully!


__ADS_2