
Seminggu kemudian.
Keadaan kediaman Arya semakin ramai setelah hadirnya Baby Arvan. Arya sering kali heboh sendiri, membuat Zivanya begitu bahagia.
Seperti saat ini, Arya sedang menimang-nimang bayinya yang baru berusia delapan hari.
Saat ia sedang asik menimang Baby Arvan, tiba-tiba saja. “Ahhh! Baby Boy daddy pap rupanya,” kata Arya, Arya pun segera meletakan putra kecilnya.
Dengan telaten, Arya menggantikan popok Baby Arvan dan memakaikan bedongnya. Zivanya yang baru saja keluar dari kamar mandi, tersenyum cerah saat melihat Arya yang tampak begitu perhatian dan penuh kasih sayang.
“Makasih buat semuanya, beng. Aku benar-benar beruntung,” kata Zivanya sembari duduk di tepian ranjang. Tepat di sisi suaminya.
“Aku yang begitu beruntung memiliki kamu, sekarang aku benar-benar bahagia. Aku punya kamu dan tiga anak yang begitu manis, kamu adalah wanita yang sangat luar biasa, wanita yang hebat dan juga kuat. Kamu dan anak-anak adalah segalanya untukku!” Arya memeluk istrinya itu dengan erat.
“Kalau aku di suruh milih satu hal aja di dalam hidup ini, aku akan memilih kalian, beng. Itu semua udah cukup, aku gak mau apa-apa lagi.” Zivanya membalas pelukan suaminya itu.
.
.
.
Keesokan harinya, di meja makan. Arya, Zivanya, Willy dan Mei sedang berdiskusi.
“Bagusnya hari apa?” tanya Willy pada Arya, Mei dan Zivanya.
“Kalau tiga hari lagi gimana?” ujar Mei.
__ADS_1
“Emang gak kecepatan, Mei?” tanya Willy.
“Ya enggak lah, kan syukuran Aqiqah aja kan?”
“Iya juga sih, lagian yang mau aqiqah cuman Baby Arvan. Nino dan Valencia kan udah,” kata Arya. “Ya udah, kalau gitu kita atur acara mulai hari ini. Buat hewan Aqiqah nya kita serahin aja sama pak ustadz. Biar mereka yang urus buat bagikan sama warga, kita lepas tangan.”
Akhirnya, semua setuju jika aqiqah Baby Arvan di laksanakan besok lusa. Maka, Willy dan Arya segera mempersiapkan segalanya. Acara syukuran itu akan di adakan di rumah itu dengan mengundang warga kompek elit daerah tempat Arya berada dan juga para anak yatim piatu dari panti asuhan.
Tak terasa, dua hari berlalu. Kini tiba saatnya dimana syukuran aqiqah Baby Arvan di laksanakan.
Arya dan Zivanya tampak begitu bahagia, mereka menyantuni anak yatim yang hadir. Senyum bahagia tak luntur-luntur dari bibir keduanya.
“Terimakasih untuk semua yang sudah hadir di acara syukuran aqiqah anak ketiga kami. Kami selaku kedua orangtua mereka, begitu mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada kalian, dan juga mengucapkan syukur kepada tuhan.”
“Semoga semua yang telah hadir di acara syukuran sederhana ini, di berikan tuhan rezeky yang berlimpah dan juga selalu di berikan kesehatan. Amin!”
Setelah selesai acara salam-salaman dan berbagi untuk seluruh anak yatim yang hadir. Semua orang pun membubarkan diri.
Kini, tinggalah Arya, Zivanya, Willy, Mei, Danu, Kinanti dan juga anak-anak. Serta beberapa pelayan yang sudah di sewa oleh Willy untuk bersih-bersih di rumah itu.
“Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar,” ucap Zivanya.
“Mbak, Mei boleh minta sesuatu gak?” Mei tiba-tiba angkat bicara.
“Minta apa, Mei?” tanya Zivanya dengan serius.
“Arvan biar Mei yang urus, Mbak kan sehat, kuat, dan lahiran normal terus. Jadi, mbak dan Bang Arya bikin aja lagi,” kata Mei dengan wajah serius.
__ADS_1
“Iya, mbak. Willy juga setuju!” sahut Willy.
“Aku juga siap, yank. Kita bikin adik buat Nino, Valen dan Arvan!” ujar Arya.
“Nino juga mau kok, punya adik lagi!” sahut Nino.
“Valen juga, kalau bisa sih Valen mau minta tiga lagi!”
Melotot lah mata Zivanya mendengar semua perkataan itu. Ia pikir, dirinya ayam yang bisa dengan mudah bertelur, menetas, bertelur dan menetas lagi dengan mudah hingga banyak.
“Di pikir, aku ternak ayam apa, ya?!”
“Bwahahahahaa!” semua orang tertawa serempak termasuk Danu dan Kinanti.
*TAMAT
Zivanya : Sejak awal aku begitu percaya, bahwa TUHAN sangatlah adil. Dia pemberi segala, dia yang menggariskan takdir hidup mati seseorang. Mungkin di awal, ia memberiku ujian yang begitu berat. Tapi, ujian itu adalah awal dari perjalanan indah yang akan aku dapatkan.
Kini, aku begitu bahagia dengan kehadiran suami, ketiga anakku dan juga orang-orang baik yang mengelilingi ku. TUHAN maha adil, maha benar dan maha mengetahui. Jika kalian mendapatkan sebuah ujian, jangan anggap itu suatu kesialan ataupun kutukan, tapi jadikan ujian itu sebagai pembelajaran, dan pegangan. Bahwa, akan ada kebahagian atas kesedian yang pernah kau dapatkan!
***
Neng ucapkan banyak-banyak terimakasih, untuk semua yang udah membaca karya ini dari awal sampai akhir. Yang udah sempatkan membaca karya yang di sebut beberapa orang sebagai 'SAMPAH' ini!
Neng bangga dengan sebutan karya 'SAMPAH' ini. Neng perpikir sendiri, Neng nulis sendiri. Meskipun sempat DOWN karena kata-kata 'SAMPAH' itu. Akhirnya, Neng berhasil menyelesaikan karya ini!
Sekali lagi, Neng ucapkan terimakasih banyak🙏
__ADS_1
MATER THANKS YOU ALL! ALAPIU😘