
“Mei, kita disini kan masih dua hari lagi. Gimana kalau kamu ajak kami jalan-jalan?” ujar Zivanya. Ia ingin sekali melihat sekeliling desa itu.
“Boleh, mbak. Nanti kita main ke sungai aja, yang gak begitu jauh dari sini,” kata Mei.
“Kalo kita pergi ke sungai, anak-anak gimana?” tanya Arya, ia begitu berat untuk meninggalkan Valencia dan Nino.
“Ada Nana dan Nini, Bang. Lagipula, Emak kan gak kemana-mana,” kata Mei.
Setelah mendengar perkataan Mei, barulah Arya setuju. Akhirnya, mereka ber empat pun segera bersiap.
“Mau bawa bekal enggak?” tanya Mei pada Willy, Arya dan Zivanya.
“Gak usah, deh. Malah repot,” kata Zivanya.
“Ya udah, kita berangkat sekarang aja,” ucap Mei. Ia pun berjalan lebih dulu dan di ikuti Willy , Zivanya dan Arya.
Ketiga orang itu, mengikuti langkah Mei menelusuri jalanan kampung yang menuju ke arah sungai.
“Jauh gak Mei?” tanya Arya. Pasalanya, sudah hampir 15 menit mereka berjalan melewati rumah-rumah warga. Tapi, belum ada tanda-tanda akan sampai ke sungai.
“Gak jauh lagi, udah deket kok,” kata Mei. Tampak, Zivanya sudah mulai berkeringat.
“Sayang!” Arya menatap Zivanya, lalu ia menunjuk warung yang ada di pinggiran jalan.
“Beli minum, beng,” bisik Zivanya pada suaminya. Sepasang suami istri itu pun berbelok arah, membiarkan Mei dan Willy berjalan berdua saja.
Zivanya dan Arya kini duduk di kursi yang ada di teras warung. “Bu, minta air mineralnya dua sama ini!” Arya menarik sebungkus keripik talas yang di gantung penjualnya di depan warung nya.
Arya membuka bungkusan keripik itu, “Sayang.. Ini apa, enak banget,” kata Arya sembari mengunyah sekeping keripik talas yang ada di tangannya.
“Coba sih, beng,” kata Zivanya. Zivanya ikut mengambil keripik yang ada pada suaminya.
__ADS_1
“Bu, ini apa?” tanya Arya pada pemilik warung.
“Hah?” Pemilik warung memandang wajah asing Arya dan Zivanya. Setelah itu, ia melirik bungkusan keripik yang ada di tangan Arya.
“Itu keri-“ perkataan pemilik warung terpotong oleh Mei dan Willy yang baru saja datang.
“Oh, disini rupanya! Mampir ke warung gak ngajak-ngajak,” kata Willy, tangannya bergerak meraih botol air mineral milik Arya. Ia membuka tutup botol air itu dan menegak isinya.
“Ahh.. Seger!” Willy ikut mendudukan bokongnya di bangku yang ada di depan Arya.
Arya yang merasa pedas, asin, manis dan gurih di lidahnya. Segera meraih botol air mineralnya.
“Sayang, airku!” rengek Arya seperti anak kecil.
“Air apa?” Zivanya yang sedang berbicara pada Mei, segera menoleh pada suaminya.
“Ini, kayak nya di minum sama Willy!” tuduh Arya. “Aku gak mau tau, pokoknya ganti!” Arya marah-marah pada Willy, mood nya tiba-tiba berubah.
“Kenapa kamu minum?” Mei mencubit bahu Willy.
“Kamu lupa? Dia kan lagi hamil,” ucap Mei.
“Bukan hamil, tapi sindrom!” Willy membenarkan perkataan Mei yang salah.
“Sayang, aku mau pulang,” kata Arya, membuat Zivanya menghela napas panjang. Wanita itu tampak memejamkan matanya sejenak.
“Bang, Willy ganti, ya. Emm, atau ganti sama yang lain,” ucap Willy. Ia mencoba bernegosiasi pada Arya.
Arya tampak berpikir, setelah itu ia mengangguk. “Kamu ganti, tapi isinya harus sama kayak airku yang kamu minum tadi!” ujar Arya, membuat Willy tersenyum senang.
“Air mineralnya, bu!” pinta Willy kepada pemilik warung.
__ADS_1
Ibu pemilik warung itu memberikan sebotol air mineral pada Willy. “Terus gimana nih, bang?” tanya Willy setelah air mineral itu ada di tangannya.
“Kamu minum, sampe isi botol itu sama kayak punyaku tadi!”
Willy membuka tutup air mineral itu, dan menegak isinya sedikit. “Udah, bang!” Willy menutup kembali botol itu dan memberikannya pada Arya. Ia pikir, masalah air itu akan berhenti sampai di situ, nyatanya Arya malah sengaja mengerjainya.
“No! Masih terlalu banyak,” kata Arya sembari mendorong botol air mineral itu.
Willy menegak air itu kembali. “No, jadi terlalu sedikit, Will. Tadi gak sedikit itu!”
Willy kembali meminta botol air mineral yang baru kepada pemilik warung, pemilik warung itu memberinya kembali.
“Kedikitan lagi, Will!” sampai beberapa kali, Willy mengganti botol air mineral itu. Hingga akhirnya, Willy mulai kesal karena selalu salah. Perutnya sudah begah karena terlalu banyak meminum air mineral, ia ingin membuangnya tapi Arya tidak memperbolehkan.
“Bang, segimana tadi isinya? Aku kembung ini!” teriak Willy dengan kesal, ia tidak perduli dengan orang-orang yang datang dan berbelanja di warung itu.
“Udah, ganti yang baru aja! Aku gak mau minum sisa kamu!” ujar Arya, membuat Willy serasa ingin menangis di buatnya.
“Ya tuhan! Kalau bukan abang sekaligus bosku, sudah kubunuh lalu ku buang ke kubangan kerbau.” Geram Willy sembari menatap jengah pada Arya.
“Sabar, sayang,” ucap Mei sembari mengusap punggung Willy.
“Bu, saya ambil ini lagi, dua. Jadi semua jajanan dan air mineralnya, adik saya yang bayar,” kata Arya kepada pemilik warung. Pemilik warung itu pun mengangguk. “Sayang, ayo kita ke sungai!” ajak Arya pada Zivanya. Zivanya pun mengangguk, wanita itu mengulum senyum saat memandang wajah Willy yang begitu dongkol.
“Huwaa.. Bang Arya jahat banget!”
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG!
Jangan bosen yak! Ceritanya mulai monoton!