
Saat ini, Arya, Zivanya dan anak-anak sudah berada di pusaran makam Valentino.
“Val, aku datang bersama Zivanya dan anak-anak,” kata Arya. Ia mengusap nisan itu. “Kami rindu, Val. Rindu padamu. Sudah hampir tujuh tahun berlalu, tapi rasanya, baru kemarin kita bercanda, bertengkar dan menghabiskan waktu bersama. Aku sangat rindu padamu.”
“Terimakasih atas segalanya, Val. Aku berjanji akan menjaga Zivanya dan anak-anak. Mereka milik kita, milik kita, Val.” Arya menjeda ucapannya. Mencoba menghilangkan sesak di dadanya. “Aku tidak menyangka, kita selalu saja menyukai barang yang sama, bahkan wanita pun, kita menyukai dan mencintai wanita yang sama,” Arya mencoba tersenyum di tengah-tengah isak tangisnya.
Setelah meluapkan perasaannya pada nisan mendiang Valentino. Arya mundur, memberi ruang untuk Zivanya dan anak-anak.
“Aku tidak ingin banyak bicara, Bang. Tapi, aku ingin mengucapkan sesuatu padamu, bahwa aku sangat berterimakasih. Kini, aku tidak hanya memiliki putra dan putri yang cerdas darimu, tapi juga memiliki pria hebat di samping ku, Arya, sahabatmu, Bang!”
“Aku mencintaimu, Bang. Sampai saat ini, tapi aku juga mencintai sahabatmu, selamanya kalian akan mengisi hatiku di tempatnya masing-masing.” Zivanya mengusap air matanya, lalu membiarkan putra dan putrinya mencurahkan perasaan mereka.
“Daddy, Nino datang. Nino rindu pada Daddy, Nino janji Dadd, akan menjaga dedek Valen dan Mommy, serta menghormati Daddy Arya.” Nino mengusap nisan sang Daddy. Lalu, menaburkan bunga di atasnya.
“Valen datang, Valen sangat sayang pada Daddy.” Valencia benar-benar memeluk nisan mendiang Daddy-nya itu. “Valen ingin memberi tahu pada Daddy, bahwa sekarang Valen memiliki Daddy Arya. Dia sangat baik dan sayang pada Valen, kini, Valen tidak perlu iri lagi pada teman-teman Valen yang punya Daddy. Karena Valen juga sudah punya!”
“Dadd, sudah dulu, ya. Valen, Kakak, Mommy dan Daddy Arya akan pulang. Kapan-kapan, kami akan mengunjungi Daddy lagi. Daddy baik-baik ya di sana, Valen sangat sayang sama Daddy.” Gadis kecil itu mencium batu nisan Valentino.
__ADS_1
Arya dan Zivanya merasakan haru yang luar biasa. Jika saja kecelakaan naaz itu tidak menimpa Valentino, mungkin sekarang semua ini tidak akan terjadi.
Kecelakaan mobil yang terjadi saat itu, dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Dan salah satunya adalah Valentino. Kecelakaan itu terjadi akibat truk pengangkut barang berat melaju dengan kecepatan tinggi dan hilang kendali. Kebetulan, mobil Valentino yang berlawanan arah sedang melaju dengan kecepatan sadang, saat Truk itu mendekat, Valentino tidak sempat menghindar dan terjadilah kecelakaan beruntun. Bukan hanya mobil Valentino yang tertabrak, tapi juga ada beberapa pengendara sepeda motor lainnya.
Zivanya dan Arya sangat terpukul setelah mengetahui kecelakaan maut itu, terlebih lagi, Valentino meninggal di tempat kejadian. Tapi, Zivanya dan Arya hanya bisa belajar ikhlas dan berlapang d*da. Karena sejatinya, jodoh, umur, ajal dan takdir seseorang sudah di gariskan oleh TUHAN. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalani takdir yang sudah di gariskan oleh-NYA.
.
.
.
Kini, Danu dan Kinanti sedang berada di pantai. Panorama pantai kuta Bali yang sangat memanjakan mata, air laut yang biru serta pemandangan yang indah membuat para pungujung sangat menikmati pesona alam itu. Tapi, tidak bagi Danu. Kini, pria itu selalu bersikap beda dari biasanya, ia sering kali murung dan menjadi pemarah.
“Kamu sendiri aja, ya! Aku capek, aku tunggu kamu di sana!” Danu berjalan meninggalkan Kinanti di tempat itu.
“Ihhh, Danu kenapa sih! Akhir-akhir ini dia aneh banget. Semua ini pasti karena Zivanya, apa sih lebih nya janda itu dari aku!” Kinanti menghentakan kakinya ke pasir tempatnya berpijak.
__ADS_1
Sedangkan Danu, kini pria itu membaringkan tubuhnya di kursi santai yang panjang. Pikirannya selalu kacau, bayangan wajah Zivanya yang tersenyum selalu terlintas di kepalanya.
Ia tersenyum sendiri saat mengingat kenangannya bersama wanita yang sudah ia sakiti itu. Dimana Zivannya yang merajuk jika dia telat datang, Zivanya yang akan berteriak jika di jahili olehnya, Zivanya yang akan tertawa jika melihat hal lucu yang ia lakukan. Tapi kini, semua itu tinggal kenangan, jangan kan untuk bertemu dengan dirinya, melihat wajahnya saja, Zivannya sangatlah jijik.
“Ini semua salahku, aku terlambat menyadari!” batin Danu. Ia memandang langit biru yang ada di atasnya.
BERSAMBUNG!
.
.
.
Tolong jangan juliti, Neng. Nanti Neng bisa berada di fase terluka lagi!
Wkwkwk!
__ADS_1