
Setelah para saksi dan tamu sudah membubarkan diri, Arya segera menggendong Zivanya menuju kamar. Ia lupa, bahwa ada Nino dan juga Valencia di tempat itu.
“Daddy!” panggil Valencia dari belakang Arya dan Zivanya.
“Aduh, ada tuyul nya,” celetuk Arya.
“Lagian, udah aku bilang gak mau dengar,” kata Zivanya.
“Daddy mau ngapain? Kok gendong Mommy,” kata Valencia. “No! Turunkan sekarang, Mommy berat nanti Daddy sakit pinggang. Biar Valen saja yang gendong.” Mendengar perkataan Valencia. Terbahak lah Zivanya.
“Hahaha. Ayo, Beng. Turunin aku, dengar tuh kata Valen,” ucap Zivanya. Lalu ia berbisik di telinga Arya. “Nunggu malam, Beng. Kamu tahan ya.”
“Dedek, sebaiknya jangan ganggu Mommy dan Daddy, Mommy pasti capek makanya di gendong oleh Daddy Arya, iya kan Daddy?” ujar Nino.
“Hmm.. Betul, Mommy Valen kelelahan, makanya Daddy gendong. Daddy ingin antarkan Mommy beristirahat,” kata Arya. Zivannya masih berada di dalam gendongannya.
“Ayo, Beng. Turunin aku,” kata Zivanya.
“Emm, Mommy lelah,” Zivanya meletakan jari telunjuknya di dagu, seperti memikirkan sesuatu. Lalu, katanya. “Ya sudah, Daddy gendong saja untuk kali ini, besok-besok tidak boleh lagi. Yang boleh Daddy gendong, hanya Valen saja!”
“Ya sudah, sana panggil Aunty Mei. Kalian minta Aunty Mei temani kalian. Daddy mau mengurus Mommy, oke!”
“Oke!” timbal Nino dan Valencia bersamaan, setelah itu. Mereka menyusul Willy dan Mei yang masih berada di lantai bawah.
Arya pun melanjutkan langkahnya dengan pelan. Zivanya masih tetap berada di gendongannya. Saat tiba di depan pintu kamar, Arya mendorong pintu itu dengan kakinya.
“Beng, pelan-pelan dong jalannya, nanti kita jatuh!” ujar Zivanya.
“Jatuh di ranjang, gak akan sakit.” Arya menghempaskan tubuh Zivanya ke atas ranjang.
Arya menaiki tubuh Zivanya, kini tubuh Zivanya berada di bawah Kungkungan tubuh Arya.
__ADS_1
“Pintunya, Beng. Nanti anak-anak datang lagi,” kata Zivanya saat Arya hendak menciumi wajahnya.
Arya bangkit, lalu berjalan dan mengunci pintu kamar itu.
Arya yang sudah tidak sabar, melepas jas yang ia pakai dan melemparnya dengan asal.
“Beng, bukain dulu gulungan rambutku. Jika begini terus, kulit kepalaku bisa copot!” Zivanya memajukan kepalanya pada Arya, agar Arya bisa membantunya melepaskan jepit-jepit rambut yang di gunakan untuk menjepit sanggulan rambutnya.
“Udah lewat magrib, Bang. Mending kita mandi dulu, biar seger,” kata Zivanya.
“Nanti aja mandinya, kita main dulu,” pinta Arya.
“Tapi, aku bau. Aku mau kita ngelakuinnya dalam keadaan bersih!” ujar Zivanya.
Arya meneguk selavinanya dengan kasar. Tapi, ia tetap menuruti keinginan Zivanya.
“Ayuk kita mandi,” ajak Arya.
“Aku duluan, baru gantian kamu.” Zivanya membuka kancing kebayanya dan segera pergi masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Arya seorang diri.
“Kalo kita mandi bareng, bakal lain kejadiannya. Aku gak mau, malam kita di mulai di kamar mandi!” sahut Zivanya dari dalam.
“Aihh. Sulit sekali sih, orang cuma mau ngerasain surga dunia doang juga,” kata Arya sambil berjalan menuju ranjang.
Ia melepaskan pakaiannya, baju dan juga celana. Ia lempar ke sembarang tempat. Kini, ia hanya menggunakan kaos dalam dan juga celana kolor.
“Yank, masih lama gak sih?” teriaknya lagi.
“Sabar sih, orang mandi kok di buru-buru!” Zivanya mempercepat pekerjaan di dalam kamar mandi. Setelah itu, ia segera keluar dengan handuk putih yang melilit bagian tengah tubuhnya.
“Astaga, Beng!” Zivanya terkejut setelah melihat pakaian Arya yang berserakan, terlebih lagi, ia melihat Arya yang duduk di lantai dan bersandar di kaki ranjang dengan hanya mengenakan kaos dalam dan celana kolor saja.
__ADS_1
“Lama banget sih, Yank. Gak tau apa, kalo orang udah gak sabar,” kata Arya sambil memonyongkan bibirnya.
“Segitu gak sabarannya kamu, Beng!”
“Kurang sabarku di mana coba? 7 tahun lebih aku nunggu kamu, kalo bukan nikah sama sahabatku, udah ku tikung dan paksa dari dulu,” gerutu Arya sembari bangkit dari duduknya. Pria itu segera berjalan ke kamar mandi.
Zivanya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Arya yang berubah menjadi kekanak-kanakan itu.
BERSAMBUNG!
.
.
.
Sembari nunggu update, bisa mampir di karya kakak online neng, yang ada di bawah ini ya!
KEMBALI KE MASA SMA
(Tita Dewahasta)
Madya gagal dalam rumah tangganya. Mantan suaminya kemudian menikah dengan mantan baby sitter yang bertahun-tahun bekerja padanya.
Dia pun frustasi dan berandai kembali ke masa lalu untuk memperbaiki keadaan. Dalam sebuah perjalanan, kepala Madya terantuk setir mobil.
Beberapa saat setelahnya, dia kembali ke 18 tahun silam.
Dapatkah Madya memperbaiki hidupnya?
Dan bisakah Madya kembali ke masa sekarang, atau dia akan terjebak selamanya di kehidupan baru masa mudanya?
__ADS_1
Ikuti kisahnya dalam novel 'KEMBALI KE MASA SMA'