PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 64


__ADS_3

Zivanya begitu terkejut dengan apa yang ia lihat. “Abeng..!” teriaknya, tatapan Zivanya sulit di artikan.


Arya begitu terkejut, buru-buru ia memakai kemejanya dan menjatuhkan sesuatu yang ia pegang.


“Sa-sa-sayang, ko-ko-kok kamu kesini?” tanya Arya dengan tergagap. Ia takut sekaligus malu pada istrinya.


“Sejak kapan kamu kaya gini, Beng?” tanya Zivanya sembari mendekat kepada meja kerja Arya. Arya tidak menjawab, membuat Zivanya menjadi kesal.


“Willy!” teriak Zivanya dengan keras.


“Iya, mbak!” Willy yang bersembunyi di balik tembok ruangan itu, segera keluar. “Matilah aku.” Guman Willy.


“Will, sejak kapan Abeng kaya gini?” tanya Zivanya kepada Willy sambil memandang suaminya yang menundukkan kepala.


“Udah hampir sebu-“ perkataan Willy terpotong.


Arya berlari kedalam kamar yang ada di dalam ruangan itu dan segera masuk ke kamar mandi.


‘Huekk.. Huekk..’


“Tuh kan! Kumat lagi,” guman Willy.


Buru-buru Zivanya menyusul suaminya yang berada di dalam kamar mandi. “Beng, kamu sakit?” tanya Zivanya dengan lirih. Ia memijat tengkuk suaminya.


“Sayang, kayanya aku mau mati deh,” ucap Arya dengan lirih. “Aku makan banyak banget, tapi gak pernah kenyang. Terus makanannya selalu keluar lagi.” Arya duduk di bawah wastafel. Tubuhnya lemas.


“Kamu ngomong apa sih, Beng? Kamu mau aku jadi janda dua kali?” Zivanya memeluk lengan suaminya itu.


“Aku takut, aku takut.. Selama ini aku sengaja pergi pagi dan pulang malam. Karena kalau malam, mual aku pasti udah hilang. Jadi, kamu gak bakalan tau kalau aku sakit,” kata Arya.


Zivanya tertegun setelah mendengar semua perkataan suaminya. Tapi, ia merasa ada yang janggal. Ia pun mengajak suaminya pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan.


Sembari tersenyum, Zivanya mengancingkan kemeja suaminya. “Emm, kita ke rumah sakit, ya!”

__ADS_1


“Kalo aku di vonis sakit keras dan sekarat, kamu jangan tinggalin aku, ya!” Arya menatap istrinya dengan tatapan sedih.


“Aku gak akan ninggalin, kamu Beng. Meskipun kamu sekarat, aku bakal terus di samping kamu.” Zivanya memeluk tubuh suaminya.


Zivanya segera membersihkan wajah suaminya yang belepotan oleh ice cream. Ia mencuci wajah suaminya dengan sangat hati-hati.


“Oiya, tadi aku tanya, sejak kapan Abeng kaya gini?”


“Udah sebulan, sejak aku sering berangkat ke kantor subuh-subuh!” sahut Arya.


“Will, Mbak mau bawa Abang kamu ke rumah sakit. Kamu beresin ini semua, ya!” pinta Zivanya pada Willy sembari menujuk meja kerja Arya.


“Iya, Mbak!” sahut Willy.


“Will, mie ayam ku jangan di buang. Nanti aku balik lagi kesini!” tunjuk Arya pada semangkuk mie ayam ati ampelanya yang ada di atas meja.


Willy menepuk jidat nya, ia menatap lesu pada meja kerja Arya. Pasalnya, meja itu di penuhi dengan bungkusan snack dan makanan lainnya. Mulai dari makanan pedas, sampai ke manis. Dari minuman dingin sampai minuman hangat.


Pantas saja, siapapun tidak boleh masuk kedalam ruangan itu kecuali Willy.


Kini, Arya dan Zivanya sedang menuju rumah sakit. Arya terus merengek pada Zivanya yang sedang menyetir. “Sayang, kita pulang aja, yuk. Aku takut, kalau aku sakit keras gimana?”


Zivanya tidak menggubris ucapan serta rengekan suaminya itu. Ia fokus menyetir. Tapi, sesekali ia menatap suaminya dengan ekor matanya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 menit, akhirnya mobil yang di kendarai Zivanya berhenti di parkiran rumah sakit X. Zivanya memaksa Arya untuk turun.


“Ayo, Beng!” Zivanya menarik paksa tangan Arya. Agar mau keluar dari dalam mobil.


“Kita pulang aja, aku takut,” kata Arya.


“Ya udah, sana pulang. Tapi aku pastiin, kamu bakalan nyesel!” Zivanya melepaskan tangan suaminya. Ia berjalan sendirian menuju rumah sakit.


Melihat istrinya yang tampak marah, Arya terpaksa turun dan mengejar istrinya itu. Jadi, mau tidak mau, berani tidak berani. Ia harus menjalani pemeriksaan.

__ADS_1


“Sayang, tunggu!” teriak Arya.


Zivanya sedikit menyunggingkan senyumnya. Entah apa yang dipikirkan oleh wanita itu, yang pasti bukan memikirkan rencana buruk ya!


“Selamat siang, Dokter!” sapa Zivanya sembari memasuki ruangan Dokter yang akan memeriksa kondisi kesehatan Arya.


“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” tanya Dokter itu dengan ramah.


Wanita separuh baya itu tersenyum ramah kepada Arya dan Zivanya.


“Saya mau memeriksakan kesehatan suami saya,” kata Zivanya.


Dokter itu segera memeriksa kondisi Arya. Setelah selesai, dokter itu beralih pada Zivanya.


“Sekarang, giliran Mbak nya yang diperiksa,” ucap Dokter itu.


Makin tersenyum lebar lah Zivanya. Membuat Arya yang sudah duduk di kursi keheranan.


Entah apa yang di bicarakan Zivanya dan Dokter itu. Membuat Arya kesal karena lama menunggu.


“Sayang, udah belum? Aku udah lapar lagi?” tanya Arya dari balik kain pembatas ranjang pasien yang ada di ruangan itu.


“Udah, Beng. Sabar, jangan teriak-teriak. Malu!” Zivanya berjalan dan menghampiri suaminya.


Dokter meminta Arya dan Zivanya duduk di hadapan kursi kebesarannya itu. “Selamat ya, se-“ belum selesai dokter itu berbicara. Arya memotongnya lebih dulu.


“Gak punya pikiran, minta colok nih mata dokter. Orang sakit di kasih selamat!” Arya melongos dan hendak pergi dari ruangan itu.


Mendelik lebar lah sepasang mata Zivanya setelah mendengar perkataan kasar suaminya. Sedangkan dokter separuh baya itu hanya tersenyum kecut.


BERSAMBUNG!


Oeii.. Beri Neng jejak kepemilikan yak, ehh salah. Jejak like coment maksudnya!

__ADS_1


Hahahak!


__ADS_2