PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 51


__ADS_3

Malam itu, Willy mengantarkan Arya dan Zivanya ke sebuah hotel. Di mana tempat di selenggarakan pesta Client penting yang berasal dari Singapura itu.


Zivanya terlihat sangat cantik dengan gaun brukat indah berwarna merah marron yang membungkus tubuhnya. Begitu juga dengan Arya, ia terlihat tambat dengan kemeja putih dan stelan jasnya.


Mereka berdua memasuki tempat di mana pesta itu di selenggarakan. Semua mata tertuju pada Arya dan Zivanya. Termasuk Tuan pemilik pesta yang mempunyai seorang anak gadis. Bahkan, anak gadisnya itu pun ada disana.


Arya menggandeng Zivanya mendekati pemilik pesta. “Selamat malam, Tuan Rawles!” ujar Arya sembari mengulurkan tangannya kepada Pria separuh baya yang bernama Rawles itu.


“Selamat malam, Tuan Arya!” Tuan Rawles membalas menjabat tangan Arya. Setelah itu, beralih pada Zivanya. Zivanya nampak sedikit tersenyum pada Tuan Rawles dan putrinya.


Putri Tuan Rawles mengulurkan tangannya pada Arya. Arya membalas uluran tangan itu.


“Renata!” wanita itu menyebutkan namanya dengan senyum mengembang di sudut bibirnya, matanya terus menatap Arya. Tapi tidak dengan Arya, Arya segera menarik kembali tangannya.


“Kenalkan Tuan Rawles, istriku. Zivanya Anatasya!” ujar Arya mengenalkan istrinya pada Tuan Rawles dan Renata.



Melototlah mata putri Tuan Rawles. Ia tidak percaya bahkan tidak suka dengan apa yang ia dengar.


Renata mencubit lengan Tuan Rawles. “Papi, bagaimana ini? Kata Papi, Arya itu masih lajang. Kenapa ada istrinya, Renata kan capek udah dandan cantik begini!” bisik Renata di telinga Tuan Rawles.


“Papi juga tidak tau, selama bekerja sama dengan papi. Tuan Arya tidak pernah membahas masalah istri dan keluarganya, jadi papi pikir, dia masih lajang.” Tuan Rawles mencoba menenangkan putrinya yang sedikit bar-bar dan pemaksa itu.


Arya dan Zivanya terus menatap Tuan Rawles dan putrinya yang terus berbisik-bisik.


“Beng, kayaknya, cewek itu suka sama kamu,” bisik Zivanya. Wajah Zivanya menujukan ketidak sukaan pada Renata. Mungkin dia cemburu.


“Biarin dia yang suka sama aku, aku kan sukanya sama kamu.” Arya mencubit pinggang Zivanya. Membuat Zivanya terkejut dan spontan menjerit kecil.

__ADS_1


“Auuchh, Beng!”


“Maaf sayang, refleks,” kata Arya sembari mengulum senyum.


Tuan Rawles dan Renata menghentikan pembicaraan mereka. Mereka dan beberapa tamu yang ada di sekeliling tempat itu, mengalihkan perhatian mereka pada Arya dan Zivanya.


“Ada apa, Tuan Arya?” tanya Tuan Rawles.


“Tidak ada apa-apa!” sahut Arya, tangannya yang berada di pinggang Zivanya, sibuk mengusap bekas cubitan yang ia berikan.


Cukup lama, Arya dan Tuan Rawles mengobrol. Putri Tuan Rawles, yaitu Renata mengambil kesempatan untuk mengusik Zivanya. Ia begitu tidak suka melihat Zivanya bersanding dengan Arya.


Renata sengaja mengambil minuman, dan berjalan ke arah di mana Zivanya berdiri dan menikmati sepotong cake yang ada dipiringnya.


Byurr! Renata meyiram gaun bagian depan Zivanya dengan minum yang ia bawa.


“Ahh.. Maaf, saya tidak sengaja!”


Arya yang sedang mengobrol itu, segera menoleh kearah sumber suara.


“Zivanya!” Arya segera bangkit dari duduknya dan menghampiri istrinya yang sibuk dengan gaunnya.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Arya dengan lembut sambil berjongkok di depan istrinya.


“Itu, dia gak sengaja numpahin minuman,” ucap Zivanya sambil memandang Renata yang masih berdiri di hadapannya.


“Sungguh, saya minta maaf. Saya benar-benar tidak sengaja,” kata Renata dengan raut wajah yang pura-pura sedih.


Arya melirik pada Renata sekilas, setelah itu. Ia kembali fokus pada istrinya.

__ADS_1


Ia pun berdiri, dan merangkul istrinya. Ia pergi tanpa pamit kepada Tuan Rawles pemilik pesta. Sudah di pastikan, Arya sangat tidak suka dengan apa yang telah dilakukan oleh putri dari Tuan Rawles itu. Ia tahu betul, dengan sikap Renata. Sedari awal ia melihat Renata yang memandang istrinya dengan tatapan tidak suka.


“Tuan Arya!” panggil Tuan Rawles pada Arya yang berjalan menjauh dari tempat itu dengan menggandeng istrinya.


“Tuan Arya, tolong maafkan sikap putri saya yang keterlaluan kepada istri, Anda,” kata Tuan Rawles.


Arya dan Zivanya menghentikan langkahnya, mereka membalikan tubuh mereka menghadap Tuan Rawles.


“Tidak apa-apa, Tuan Rawles. Saya tahu, bahwa putri anda benar-benar tidak sengaja melakukannya,” ucap Zivanya dengan lembut dan juga sopan. “Kami permisi dulu!”


Arya dan Zivanya segera meninggalkan tempat itu.


Willy yang melihat Zivanya dan Arya berjalan menuju mobil. Segera menyusul.


Mereka segera pulang, di sepanjang berjalan. Zivanya hanya diam saja, perasaan nya tidak senang semenjak bertemu dengan Renata. Ia takut, Arya akan melirik perempuan lain yang lebih baik darinya.


Sedangkan Arya, ia heran dengan sikap Zivanya yang tampak berbeda. Biasanya, wanita itu akan banyak bicara dsn tertawa. Tapi, saat ini. Istrinya itu hanya diam saja dan terlihat murung.


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Arya sembari menarik kepala istrinya agar bersandar di bahunya.


“Gak papa, Cuma ngantuk,” jawab Zivanya dengan singkat.


“Aku tau, kamu lagi nyembunyiin sesuatu dari aku,” kata Arya.


Willy yang menjadi supir mereka juga, menjadi heran. Tadi, saat berangkat. Dua penumpang yang ada di kursi bagian belakang itu sangat berisik sekali, tapi kenapa sekarang diam seperti patung.


“Aku punya salah kah?” tanya Arya.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


__ADS_2