
Arya mengajak Zivanya dan anak-anak pulang. Saat di tengah jalan, Valencia meminta mampir ke kedai ice cream. Dan Nino, meminta untuk mampir ke restoran. Anak itu bilang, ia sudah lapar.
“Daddy, kita beli ice cream dulu, ya. Valen ingin makan ice cream,” kata Valencia dengan senyum mengembang.
“Ya, sayang. Kita mampir ke kedai ice cream yang ada di depan sana!” ujar Arya.
“Mom, bolehkah Nino minta mampir ke restoran atau ke warung makan. Nino lapar,” ucap Nino. Arya dan Zivanya yang mendengarnya saling pandang. Lalu mereka melempar senyum.
“Kita temani Valencia beli ice cream dulu, ya. Abis itu kita cari resto buat makan,” kata Arya sambil melirik kedua anak itu dari kaca spion.
“Ini belum nambah satu lagi, Beng. Kalau nanti nambah, pasti akan semakin ramai dan kamu bisa semakin pusing karena ulah mereka,” kata Zivanya.
“Memangnya kamu mau, punya anak dari aku?” Arya menaik turunkan alisnya.
“Lah! Aku mau nanya, emang kamu gak mau punya anak?” tanya balik Zivanya.
“Mau dong!” sahut Arya cepat. “Asal kamu udah siap buat hamil, aku mau banget.”
“Aku pikir kamu gak mau tadi,” kata Zivanya.
“Daddy sama Mommy bahas apa sih? Kok kayak nya seneng banget!” Valencia yang berada di kursi belakang, seketika menghentikan obrolan Arya dan Zivanya.
“Ahh, Mommy sama Daddy gak bahas apa-apa, sayang.” Zivanya menoleh kepada kedua anaknya itu.
“Nah, kita sampe! Ayo turun Boy and Gril, Daddy!” Arya menghentikan mobilnya di parkiran restoran, kebetulan di restoran itu ada ice cream.
“Yeay! Akhirnya, Valen bisa makan ice cream!” Valencia buru-buru turun dari mobil. Mendahului Kakaknya.
“Dedek, pelan-pelan. Nanti jatuh!” Nino mengingatkan adiknya agar berhati-hati.
Mereka berempat pun memasuki restoran itu. Arya meminta Zivanya memesankan anak-anak lebih dulu.
“Valen, mau apa?” tanya Zivanya pada Valencia.
__ADS_1
“Satu porsi ice cream pelangi yang ukuran besar.”
Zivanya menggeleng-geleng mendengar yang di minta putrinya itu.
“Nino, kamu mau makan apa, sayang?” tanya Zivanya pada Nino.
“Apa saja, Mom. Asal tidak mabuk dan tidak membuat Nino mati!” ujar Nino.
“Hahaha!” Arya tertawa rendah. “Lihatlah, Nino, sayang. Dia persis seperti Valentino, bukan hanya wajahnya tapi juga sifat dan caranya!”
“Nino, Mommy serius. Nanti setelah Mommy pesankan, kamu gak suka,” kata Zivanya. Ia menatap Nino dan Arya secara bergantian.
“Pesankan saja kakak air putih, dia pasti akan menerimanya!” sahut Valencia dengan wajah polosnya.
“Hahaha!” makin tertawalah Arya menyaksikan kejadian itu.
“Valen, tidak boleh seperti itu!” tegur Zivanya pada putrinya.
“Nino serius, Mom. Apa saja, Nino pasti akan memakannya, asal tidak di beri racun,” kata Nino. “Cepatlah, Nino sudah lapar.”
Zivanya segera memesankan makanan untuk mereka semua. Setelah itu, ia memberikan buku menu kepada pelayan. Pelayan itu segera pergi dari hadapan mereka.
“Nino mengingatkan aku dengan Valentino. Dulu, kami selalu bertengkar karena masalah makanan,” kata Arya pada Zivanya, di hadapan anak-anak. “Dia selalu memakan apa saja makanan yang ia temui, sedangkan aku, selalu menahan diri. Aku selalu mengingatkannya untuk menjaga pola makannya, tapi, ia selalu saja ngeyel.”
“Aku juga sering mengingatkan Nino, Beng. Tapi, seperti katamu tadi. Dia sangat ngeyel, persis seperti Bang Val,” ucap Zivanya.
Zivanya dan Arya membicarakan Nino, tapi yang di bicarakan seperti tidak memiliki telinga. Dia tetap saja cuek seolah tidak mendengar apapun. Persis seperti mendiang Valentino.
Bagi Arya dan Zivanya, mengingat semua kenangan Valentino adalah sesuatu yang indah. Valentino akan tetap memiliki tempat di hati mereka masing-masing.
Tidak lama kemudian, makanan yang di pesan oleh Zivanya datang. Pelayan segera menyajikannya.
“Wah, ice cream Valen kelihatan sangat menggoda. Punya kakak juga,” ucap Zivanya sembari menatap ice cream miliknya dan juga ice yang ada di hadapan Nino secara bergantian. Gadis kecil itu menelan ludah, ia membayangkan ice cream pelangi itu memenuhi mulutnya.
__ADS_1
“Kakak, Valen ingin ice cream pelangi ini. Tapi juga, ingin ice cream coklat milik kakak,” ucapnya tanpa berkedip.
“Ambil saja punya kakak, jika Valen mau,” kata Nino. Ia mendorong mangkuk ice cream nya ke hadapan Valencia.
“No! Valen sudah punya sendiri. Jangan ambil bagian kakak!” tiba-tiba Zivanya angkat bicara. Ia tidak ingin putrinya tumbuh menjadi anak yang serakah dan mau menang sendiri karena semua keinginannya selalu di turuti.
Valencia menatap wajah Mommy nya. Raut wajah Mommy nya itu berubah. Ia pun tidak jadi memakan ice cream nya.
“Dan Nino, cepat makan makananmu!” Nino segera memakan makanan yang ada di piring nya.
“Cepat makan bagian Valen!” ujar Zivanya.
“Enggak, Valen udah gak pengen lagi,” ucap Valencia dengan lirih. Hidungnya kempamg kempis menahan tangis. Ia menganggap, Zivanya memarahinya.
Zivanya menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
“Jangan anggap Mommy marah. Mommy tidak marah, sayang,” kata Zivanya dengan lembut. Ia mengusap rambut putrinya.
Arya mendekati Valencia dan Zivanya. “Jangan menangis, nanti cantiknya hilang. Biar Daddy yang suapi, ya!” bujuk Arya.
Arya meraih mangkuk ice cream milik Valencia. Lalu, dengan telaten ia meyuapi gadis kecil itu.
“Kamu dan Nino, makanlah. Biar aku yang urus Valen,” ucap Arya.
“Setelah sampai rumah, aku ingin bicara!” Zivanya berbicara tanpa menatap Arya. Setelah itu, ia membiarkan Arya bersama Valencia.
BERSAMBUNG!
.
.
.
__ADS_1