PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 86


__ADS_3

“Aku juga banyak duit, yank. Bukan dia aja,” ucap Willy dengan sombong.


“Sombong, Willy Sombong,” cibir Arya. “Lihat, sayang. Dia udah bisa sombong sekarang, kayak nya gak butuh aku lagi selaku abangnya.” Arya berbicara pada Zivanya.


“Mending bang, miskin tapi sombong. Jadi masih punya prinsip hidup!” tegas Willy. Membuat Arya spontan bangkit dari paha Zivanya dan meremas wajah Willy di hadapan ibu dan bapak Mei.


“Hahahaa!” tawa Mei dan Zivanya bersamaan. Sedangkan bapak dan ibu Mei hanya menatap heran dengan kelakuan empat orang itu. Apakah memang begitu kebiasaan mereka? Pikir Ibu dan Bapak Mei.


“Ampun, bang. Willy gak sombong lagi!” Willy menutupi wajahnya yang terasa panas karena remasan Arya.


Setelah mendengar kata ampun dari bibir Willy, Arya segera mundur dan kembali pada istrinya. Tapi tiba-tiba kelakuan Arya membuat Zivanya melongo.


“Sayang, aku laper,” kata Arya, ia mendongakkan wajahnya pada wajah istrinya.


“Beng, kamu baru makan satu jam yang lalu loh! Emang gak malu?”


“Emak siapkan dulu, ya. Tapi apa enggak apa-apa kalau nasinya dingin?” tawar ibu Mei.


“Enggak apa-apa, bu.” Tanpa malu, Arya segera bangkit. Mengikuti langkah ibu Mei menuju dapur. Zivanya ikut bangkit, dan mengikuti suaminya itu. Ia tidak enak, jika membiarkan ibu Mei yang mengurus dan di repot kan oleh suaminya yang aneh.


Setelah Arya, Zivanya dan Ibu Mei menuju dapur. Mei pun pamit kepada bapaknya untuk membeli keripik pesanan Arya bersama dengan Willy.


“Pak, Mei ke rumah Mbok Sarinah dulu, ya. Beliin keripik Bang Arya, takutnya kalau besok gak keburu,” kata Mei. Dan bapak segera mengangguk.


.


.

__ADS_1


.


Keesokan harinya, semua orang sudah bersiap untuk kembali ke kota. Tidak banyak barang yang di bawa oleh ibu dan bapak Mei. Hanya beberapa potong pakaian ganti, selebihnya biar Zivanya yang mengurus.


Saat ini, Valencia dan Nino ikut mobil Daddy dan Mommy-nya. Karena, mobil Willy akan di isi oleh keluarga Mei.


Warga desa di buat kaget, saat Mei yang mengeluarkan mobil Willy dari halaman rumahnya yang luas.


“Terus, yank.. Dikit lagi, mundur mundur dikit. Stop!”


Mei pun segera turun dari mobil itu, “Aku apa kamu yang bawa?”


“Aku aja lah, masa kayak dia. Istri di biarkan menyetir mobil sendiri.” sindir Willy pada Arya.


“Ku tinju muka mu!” ancam Arya.


“Mei, kamu bisa bawa mobil, nak?” tanya bapak Mei.


“Bisa, pak. Kalau gak bisa, gimana caranya Mei antar Nino ke sekolah dan Valencia main,” kata Mei.


Mereka semua sudah siap dan duduk di dalam mobil. Tinggal Arya dan Zivanya lagi yang masih ada di luar mobil mereka.


Tiba-tiba saja, Pak RT dan Bu RT beserta dua tetangga yang paling akrab dengan ibu dan bapak Mei, datang. Mereka sudah membawa tas pakaian masing-masing.


“Kami ikut, pengen liat kota!” teriak Pak RT. Seketika Arya langsung mual dan muntah-muntah.


“Huek huek!” Arya muntah di samping mobilnya.

__ADS_1


“Sayang, kamu kenapa?” tanya Zivanya.


“Bauk dukun nya datang lagi,” kata Arya sembari memegangi perutnya.


“Aduh!” Zivanya menepuk jidat nya.


“Kenapa, mbak?” tanya Willy sembari keluar dari mobilnya.


“Itu, kayaknya Pak RT pakek minyak fambo lagi,” kata Zivanya.


“Aduh, bapak lupa,” kata Pak RT. “Kalau gitu, tunggu sebentar. Bapak ganti baju dulu.” Pak RT segera berlari lagi ke arah rumahnya, untung rumah itu tidak di kunci. Karena ada ibu dan anak Pak RT yang tinggal.


“Bu, tolong minyak wangi suami Ibu tinggal saja, ya. Nanti saya akan ganti,” kata Zivanya dengan sopan kepada Bu RT. Bu RT segera mengangguk sembari tersenyum malu.


“Bang, emang abang tau bauk dukun kayak gimana?” tanya Willy pada Arya, saat sudah tidak mual lagi.


“Tau lah, emang kamu gak ingat waktu kita liat atraksi reog di pinggiran alun-alun dulu. Bauk pawang nya, persis banget kayak bauk Pak RT.” Jelas Arya, ia mencoba membuat Willy mengingat di mana saat mereka menonton atraksi reog.


“Bwahahahaha.. Iya, Willy ingat. Di alun-alun blok M kan ya,” kata Willy.


.


.


.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


__ADS_2