
Kini, Arya, Willy, Zivanya, Mei dan anak-anak sudah sampai di kampung halaman Mei.
Mobil Arya dan Willy berhenti di depan rumah yang masih bata merah. Rumah kecil yang di halamannya di tumbuhi pohon kedondong.
Mei bersama anak-anak turun lebih dulu dari dalam mobil, ibu dan bapak Mei yang mendengar keramaian di luar rumah. Segera keluar untuk melihat ada apa? Mereka begitu terkejut sekaligus senang saat melihat putri mereka pulang.
“Ayo sayang, kita turun. Ini rumah Aunty, maklum ya rumah nya kayak gini,” ucap Mei sembari menuntun Valencia menuju teras rumahnya.
Baru saja mereka menginjakan kaki di teras rumah itu, ibu dan bapak Mei keluar dari rumah itu. Jadi, Mei segera melepaskan tangan Valencia.
“Ya allah, Mei. Kamu pulang nak!” teriak ibunya Mei.
“Mak, iya. Mei pulang,” Mei memeluk ibunya dengan erat.
“Ini siapa? Kok cantik betul?” Ibunya Mei mencomel pipi Valencia.
“Ini anak Mbak Vanya, majikan Mei di kota, Mak,” kata Mei.
Dengan percaya diri, Willy yang turun dari mobil dengan menarik koper pakaian. Berjalan mendekat ke arah Mei dan ibu, bapak Mei berada.
Tapi, saat sudah dekat. Ia teringat perkataan Mei saat masih di jalan. Spontan, Willy menghentikan langkahnya dan hendak berbalik arah. Ia hendak berlari dan kembali ke tempat Arya dan Zivanya berada.
“Galak, galak banget. Siap-siap nanti pas sampai di sambut sama golok,” itulah kata-kata Mei yang di ingat oleh Willy.
Mei yang melihat Willy berbalik arah, segera memanggilnya. “Yank, mau kemana? Kok balik lagi?” teriak Mei.
__ADS_1
“Ehh, anu emm itu. Aku nunggu Bang Arya sama Mbak Vanya aja,” kata Willy sembari berjalan cepat. Ia menyeret koper yang ia pegang ke arah mobilnya lagi.
“Mei, dia siapa? Kok kayaknya ketakutan kayak gitu?” tanya ibu Mei.
“Oh, itu pacar Mei. Tadi di jalan, Mei takutin,” kata Mei sembari tersenyum. “Mungkin karena liat bapak, makanya dia balik lagi.”
“Kok karena liat bapak?” heran Bapak Mei.
“Iya, karena Mei bilang kalau bapak galak banget,”
Sedangkan di samping mobil itu. Zivanya dan Arya menatap heran pada Willy. “Will, kamu kenapa? Kok balik lagi?” tanya Zivanya.
“Hehee.. Willy kesananya bareng Mbak dan Bang Arya aja, ya! Willy takut,” kata Willy dengan jujur.
“Takut sama apa?” tanya Zivanya heran.
“Mau sama anaknya, tapi takut sama bapaknya. Gimana sih kamu, Will? Gak di restuin kapok!” Arya semakin menakut-nakuti Willy.
Akhirnya, Willy mengikuti langkah Arya dan Zivanya. Zivanya dan Arya segera menyalami ibu dan bapak Mei bergantian.
“Salam, pak, buk. Saya Zivanya,” ucap Zivanya dengan sopan. Begitu juga dengan Arya.
Willy ikut mendekat, ia menyalami tangan ibu Mei lebih dulu. “Salam, Bu. Saya Willy,” kata Willy.
“Salam, kamu pacarnya Mei?” tanya ibu Mei. Willy mengangguk pelan. Setelah itu, ia hendak kabur dari tempat itu. Ia takut dengan bapak Mei yang berkumis tebal dan wajahnya yang terlihat garang.
__ADS_1
“Mau kemana kamu?” Arya menarik lengan Willy dan meminta Willy menghadap Bapak Mei.
“Bang, Willy takut,” lirih Willy.
“Jadi ngelamar atau kita pulang sekarang.” Ancam Arya. Ia kesal dengan sikap Willy yang penakut dan seperti anak kecil itu.
“Jadi, bang.” Willy segera berbalik. Ia memegang dan mencium tangan bapaknya Mei.
“Salam, pak. Nama saya Willy,” ucap Willy dengan suara kecil.
“Salam.. Semoga kalian semua betah, ya.” Kata bapak Mei dengan ramah. Mei yang berada di tengah-tengah ibu dab bapaknya itu mengulum senyum.
Setelah bersalam-salaman dan mengenalkan diri, Mei ngajak semua orang masuk. Ia menjadi bingung akan menempatkan semua orang beristirahat dimana. Pasalnya, kamar di rumah itu hanya ada 3. Kamar ibu bapaknya, kamarnya dan juga kedua adik kembarnya.
“Buk, Nana dan Nini tidur di kamar ibu dan bapak nya. Biar kamar mereka nanti di tempati Mbak Vanya dan Bang Arya,” bisik Mei pada ibunya saat ia dan ibunya sedang berada di dapur.
“Iya, tapi itu pacar kamu tidur dimana?”
“Suruh tidur aja di ruang tengah,” kata Mei dengan enteng.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG!