
Kini, Arya dan Zivanya sudah berada di warung pecel yang ada di pinggir jalan.
“Kenapa sih! Kamu selalu milih tempat kayak gini, Yank?” protes Arya.
“Makanannya enak,” kata Zivanya sambil memakan pecel yang ada di piringnya.
Arya menatap isi piring nya sudah lama tapi tetap utuh dan belum tersentuh olehnya.
“Ayo di makan, biar kita bisa cepet pulang,” kata Zivanya.
Mendengar perkataan Zivanya, Arya segera menyedok pecel sayur yang ada di piringnya. Baru saja sendok itu akan masuk ke dalam mulutnya. Tiba-tiba saja, perut Arya di buat bergejolak karena melihat orang lewat sambil membuang ludah di pinggiran jalan.
“Huek huek!” Arya memegangi perutnya yang terasa mual.
“Beng, kamu kenapa?” Zivanya meletakan piringnya ke atas bangku.
“Aku mau makan di rumah aja,” kata Arya setelah ia memuntahkan isi perutnya.
“Iya, tapi kenapa?” Tanya Zivanya.
“Lihat orang itu!” tunjuk Arya. “Aku gak bisa, Yank. Aku gak bisa makan di tempat kaya gini, aku bukan Valentino!” ujar Arya. Membuat Zivanya terkejut, pasalnya Arya membawa-bawa nama almarhum Valentino.
“Apa hubungan semua ini sama Bang Valent?” Zivanya berkata agak keras pada Arya.
__ADS_1
Arya menatap sejenak manik mata Zivanya yang menunjukan rasa tidak suka setelah mendengar perkataannya. Setelah itu, Arya mengeluarkan uang seratus ribu lalu meletakannya di atas meja warung pecel itu. Lalu, ia berjalan meninggalkan Zivanya di warung itu ke arah mobilnya.
Melihat Arya yang sudah memasuki mobil, Zivanya mengejarnya dan ikut masuk.
“Beng, aku minta maaf,” kata Zivanya.
“Aku yang harusnya minta maaf, gak seharunya aku bawa-bawa nama almarhum Valentino,” ucap Arya. “Tapi, sungguh Zivanya. Aku bukan Valentino yang selalu bisa nurutin semua kemauan kamu, mungkin kalau hal lain, aku akan turuti. Tapi enggak dalam hal konsumsi makanan.”
“Maafin, aku!” Zivanya menundukkan kepalanya.
“Aku akui, aku suka waktu kamu ajak makan di warteg. Tapi yang perlu kamu ketahui Zivanya, gak semua makanan bisa aku konsumsi dan cerna dengan baik. Atau, kamu mau aku kembali ke rumah sakit?”
“Enggak, Beng. Maafin aku, aku janji gak akan mikirin perut aku sendiri lagi. Aku bakal perhatiin kesehatan kamu,” kata Zivanya dengan mata berkaca-kaca.
“Jangan nangis, aku gak suka!” Arya menarik Zivanya kedalam pelukannya. “Aku takut, Yank. Aku takut di operasi lagi dan mati, aku gak mau ninggalin kamu lebih dulu kaya Valentino.” Arya membelai rambut Zivanya dengan lembut.
.
.
.
“Kamu dari mana lagi?” tanya Kinanti pada Danu. “Pasti dari nyari janda itu lagi, Ya?” tuding Kinanti sambil bersendekap dada di harapan Danu.
__ADS_1
“Kamu bisa gak sih! Gak usah nuduh-nuduh aku terus, aku capek dan butuh istirahat,” kata Danu sambil mendorong tubuh Kinanti agar menjauh dari hadapannya. “Mending kamu pulang, aku pengen istirahat!” ujar Danu mengusir Kinanti.
“Kamu ngusir aku?” Kinanti menatap tidak suka pada Danu.
“Kalau kamu gak mau di usir. Stop gangguin aku, aki bener-bener capek, Kin!”
“Ini semua pasti karena jada itu, aku harus cari dia dan bikin perhitungan!” Kinanti mengepalkan tangannya. Ia pikir, Zivanya masih berhubungan dengan Danu secara diam-diam di belakangnya.
Kinanti meninggalkan apartemen Danu dengan perasaan kesal. Ia pergi untuk mencari keberadaan Zivanya.
Sedangkan Danu, ia segera melepaskan sepatunya lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang.
“Aku kenapa sih? Liat Kinanti serasa darah tinggi. Perasaan dulu gak kayak gini,” ucapnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
Cinta, cinta yang hadir terlambat di hati Danu, membuat ia kehilangan segalanya. Ia baru menyadari perasaannya pada Zivanya, setelah wanita itu pergi jauh dari pandangannya, bukan hanya pandangannya tapi juga dari kehidupannya. Akankah rasa kehilangan membuat ia menyesali segalanya, atau malah menumbuhkan ambisi yang lebih jahat di dalam jiwanya?
BERSAMBUNG!
.
.
.
__ADS_1
Sembari nunggu up, bisa mampir di karya Mak online neng yang ada di bawah ini ya!