PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 38


__ADS_3

“Ini!” Arya mengarahkan kotak itu pada wajah Zivanya.


“Ya! Itu apa?” tanya Zivanya sembari menatap Arya dengan tatapan yang sulit di artikan. Yang pasti, Zivanya telah melihat, bahwa yang ada di sampul kotak itu adalah gambar dirinya.


“Gak tauk!” sahut Arya.


Arya pun bangkit dari lantai dan duduk di tepian ranjang. “Salin dulu, nanti kita buka sama-sama,” kata Arya. “Gak usah natap aku curiga kaya gitu, aku juga gak tau apa ini!”


Zivanya diam, tapi ia tetap mengikuti perkataan Arya. Ia segera berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, ia segera duduk di samping Arya, di tepian ranjang mereka.


“Ini, barang yang di kasih Valentino sebelum dia meninggal. Hari itu, dia datang ke kantorku dan kasih ini ke aku.”


Flashback on


Pukul setengah sebelas siang, Valentino datang ke kantor milik Arya. Ia masuk kedalam ruangan Arya dengan membawa bungkusan berwarna hitam. Kotak yang ia bawa itu, di kemas dengan rapi di dengan bungkusan berwarna abu-abu dan bersampul foto pernikahannya dengan Zivanya.


“Hay, Ar. Apakah kau sangat sibuk siang ini?” tanyanya pada Arya yang sedang duduk di kursi kebesarannya.


“Ehh.. Val, tumben kesini ada apa?” tanya Arya. Melihat Valentino yang datang. Arya pun menutup laptopnya dan menyudahi pekerjaannya.


“Ini, aku mau ngasih ini sama, kamu,” kata Valentino sembari menyerahkan bungkusan itu pada Arya.


“Apa ini?” tanya Arya dengan dahi berkerut.


“Bukan apa-apa. Jangan di buka dulu ya,” kata Valentino. “Aku pamit!”


“Loh! Kenapa harus buru-buru, kita makan siang dulu, kebetulan udah hampir waktu makan siang,” kata Arya. Ia heran dengan tingkah sabahatnya yang sangat aneh itu.


“Aku gak punya banyak waktu, aku pamit, ya. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia!” ujar Valentino. Setelah itu, ia pergi meninggalkan perusahan Arya.


Setengah jam kemudian, tepatnya pada pukul 12:15 menit tengah hari. Valentino di kabarkan kecelakaan dan meninggal di tempat.


Dunia Arya serasa runtuh, ia merasa sangat terpukul. Dan ia pun melupakan kotak pemberian Valentino itu.


Flashback off


“Gitu ceritanya, yank,” kata Arya.

__ADS_1


Arya dan Zivanya membuka kotak itu, dan ternyata, isi yang ada di dalamnya adakah sebuah memori card.


“Hanya ini?” Arya menujukan memori card itu pada Zivanya.


Arya bangkit, lalu mengambil laptopnya. Ia memasang memori itu.


Arya membuka laptopnya, dan melihat isi dari memori card yang di berikan mendiang Valentino itu.


“Gak ada isinya,” kata Arya pada Zivanya setelah ia mencarinya tapi tidak menemukan apapun.


“Biar aku coba liat,” ucap Zivanya sembari mengambil alih laptop yang ada di pangkuan Arya.


Cukup lama Zivanya mengecek satu persatu folder yang ada. Hingga, ia menemukan satu folder yang di beri tanda oleh mendiang Valentino.


Zivanya meng-klik pada folder itu, dan muncullah huruf pertama, yaitu huruf A lalu muncul lagi R Y dan A lagi.


Di dalam folder itu, ada dua buah video. Zivanya segera membukanya dan memutar salah satunya.


Di dalam video itu, tampaklah Valentino yang sedang duduk di kursi yang ada di ruangan kerjanya.


Zivanya meletakan laptop itu di atas ranjang. Di hadapan dirinya dan Arya.


“Ar, aku ucapkan terimakasih banyak sudah mau menjadi sahabatku. Orang yang paling pengertian, penyabar dan juga pemaaf. Meski sifat penyabar mu itu membuat mu merasakan sakit. Aku minta maaf, Ar. Karena terlambat mengetahui perasaanmu, kau selalu mengerti aku, Ar. Tapi, aku tidak pernah mengerti dirimu. Aku egois, Ar. Aku egois, aku telah merebut cintamu, wanitamu!”


Cukup lama Valentino menjeda perkataannya. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskanya perlahan.


Arya yang mendengar dan melihat Video itu, ikut menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya.


“Kau tentu terkejut kan? Expresimu itu pasti sangat lucu saat terkejut. Hehehe!” Valentino terlihat terkekeh di dalam Video itu. “Aku sudah tau, Ar. Aku sudah mengetahui, bahwa gadis yang kau cinta pada pandangan pertama itu adalah Zivanya, istriku.”


Mendengar itu, Arya menatap pada Zivanya sejenak. Sedangkan yang di tatap, sedang menahan isak tangisnya.


“Kau juga pasti tidak menyadari kan? Bahwa foto-foto yang ada di dalam lemarimu hilang sebagian? Hahaha, tolong maafkan aku, aku bukan hanya mencuri wanita mu, tapi juga fotonya yang kau sembunyikan.”


Tampak, Valentino yang ada di dalam Video itu menyeka sudut matanya yang berair, ya! Pria itu menangis.


“Kau sangat pintar, Ar. Demi menjaga perasaan dan kebahagiaanku, kau mengabaikan rasa sakit mu. Kau sembunyikan rasa itu sendiri dalam waktu yang lama, jika hari itu aku tidak datang ke rumah Nenekmu, mungkin sampai saat ini, aku tidak akan mengetahui perasaanmu,” kata Valentino. Saat ini ia benar-benar telah menangis.

__ADS_1


“Ar, aku ingin mengatakan, bahwa aku ingin menitipkan Zivanya dan juga anak-anakku. Aku merasakan firasat, bahwa umurku tidak lama lagi. Aku ingin kau yang menjaga mereka, Ar. Aku hanya percaya padamu! Kau adalah satu-satunya orang yang bisa ku andalkan!”


“Oiya, Ar. Aku sudah mengurus semua pengalihan deposito yang aku miliki atas nama Zivanya. Kelak, aku ingin kau membantunya. Jadikan dia istrimu, jadilah penggantiku, Ar. Raih lah cintamu yang sempat tertunda, aku yakin, dia akan menerima mu.”


“Di dalam memo ini, ada satu lagi Video. Tolong berikan Video itu kepada Zivanya, aku ingin dia mengingat pesan terakhirku.”


“Aku pamit ya, Ar. Maaf untuk segalanya, aku harap kau dapat berlapang d*da untuk memaafkan aku yang sudah menikung nya darimu,” Valentino yang ada di dalam Video itu. Mengedipkan sebelah matanya. “Jaga dia dan juga anak-anakku. Jika dia cerewet, hukum saja dengan cara memukul bokong nya sebanyak 3x.”


Valentino tersenyum, setelah itu Video pertama berakhir.


Tanpa sadar, Arya yang menyaksikan video itu. Ikut menangis. Dadanya terasa sesak, ia tidak menyangka bahwa Valentino sudah menyiapkan segalanya sebelum ia meninggal.


.


.


.


BERSAMBUNG!


.


.


.


Sembari nunggu Up. Bisa mampir di karya Kakak Online, Neng yang ada di bawah ini ya!


Judul: Belenggu benang kusut


Penulis: Tie tik


"Aku tidak pernah menyangka … jika sosok yang selama ini sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri ternyata memiliki perasaan cinta layaknya seorang pria kepada seorang wanita. Dia membuatku berada dalam situasi yang sulit—menjadi ibu tiri sekaligus sahabat dari putrinya sendiri. Aku harus bersandiwara dengan baik dalam belenggu benang kusut yang tidak pasti di mana ujungnya." Anne Malila.


"Sosok wanita di masa laluku hadir dalam dirimu. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan yang sudah lama terkubur ketika melihatmu. Rasa ingin memiliki dan mencintai yang sempat hilang di masa lalu tidak akan aku ulang kembali. Aku harus memilikimu, Anne, karena kamu seperti inkarnasi ibumu di saat dia masih muda dulu." Rudianto Baskoro.


__ADS_1


__ADS_2