
“Mommy!”
Mendengar suara putrinya, buru-buru Zivanya mendorong tubuh Arya dan segera menghapus air matanya.
“Anak Mommy sudah bangun?” Zivanya bertanya dengan suara parau, tangannya masih sibuk menghapus sisa air matanya.
“Sudah dari tadi, tapi Valen malas beranjak,” kata Valen. “Mommy habis menangis?” tanya anak kecil itu, kemudian.
Zivanya menggeleng, “Mana mungkin Mommy menangis, Mommy kan kuat dan tidak cengeng!” Zivanya memaksakan senyumannya di hadapan putri kecilnya itu.
“Mommy bohong! Uncle Arya pasti sudah nakal pada Mommy, kan?”
Arya tersenyum, ia sangat gemas pada Valencia yang masih sangat kecil tapi memiliki otak yang cerdas itu.
“Mommy tidak bohong, sayang. Mommy tidak menangis, sungguh!”
“Mommy mu memang berbohong, Valen. Dia memaksa Uncle untuk menemaninya jalan-jalan, tapi Uncle menolak,” ucap Arya, membuat Zivanya melebarkan matanya. Sedangkan Valencia, gadis kecil itu jadi terkekeh kecil.
“Hehehe.. Mommy seperti anak kecil, masa memaksa Uncle Arya jalan-jalan,” kata gadis kecil itu.
“Nah! Kalau begitu, Uncle harus bertanggung jawab. Uncle harus bawa Mommy Valen jalan-jalan dan jangan lupa, membeli ice cream yang banyak!” ujar gadis kecil itu.
“Val-“ di saat Zivanya ingin menegur putrinya. Arya lebih dulu memotong perkataan Zivanya.
“Siap putri kecil! Uncle akan membawa Mommy mu jalan-jalan dan membelikannya ice cream yang banyak!” tangan Arya mendorong tubuh Zivanya. “Sudah! Sana mandi, aku akan menunggu.” Setelah tubuh Zivanya masuk seluruhnya kedalam kamar, Arya menarik gagang pintu kamar itu. Dan pintunya tertutup.
“Kenapa Mommyku menangis Uncle?” tanya Valencia saat Mommy nya sudah berada di dalam kamar.
“Kenapa Valen bertanya seperti itu?” tanya balik Arya.
__ADS_1
“Valen tau, Uncle sedang berbohong. Mana mungkin Mommy minta jalan-jalan,” kata Valencia sambil menatap Arya dengan serius. “Kenapa Uncle memakai baju Daddy Valen?”
Deg! Arya terkejut mendengar pertanyaan gadis kecil itu, ia tidak menyangka. Bahwa, gadis kecil itu sangat pintar menyembunyikan sesuatu dan sangat cepat mengamati keadaan.
“Kenapa Uncle diam saja? Apakah Valen salah bicara? Mommy menyuruh Uncle memakai pakaian Daddy yang ia simpan. Itu tandanya, Mommy sangat perduli pada Uncle!”
“Hey! Dari mana Valen mengetahui, bahwa Mommy sangat perduli pada Uncle?” Arya duduk berjongkok agar tingginya dapat sejajar pada Valen yang masih kecil.
“Buktinya, Mommy memberikan pakaian Daddy. Tidak kah Uncle tau, bahwa selama ini, Mommy tidak pernah mengizinkan siapapun untuk meyentuh pakaian itu, termasuk Valen dan kakak!”
“Apakah Uncle mau menjaga Mommy kami?” tiba-tiba, Nino keluar dari sudut ruangan yang ada di tempat itu.
“Nino!” Makin terkejut Arya, mendengar suara Nino.
“Uncle menyukai Mommy?” tanya Nino lagi.
“Jujur saja, kami lebih suka Mommy dekat dengan Uncle dari pada Daddy Danu. Oleh sebab itu, tolong jaga kan Mommy untuk kami, kami kasihan pada Mommy. Ia selalu menjaga kami dan melindungi kami sendirian, karena kami, ia harus selalu kesusahan.”
“Uncle berjanji, akan menjaga Mommy kalian!” Arya tersenyum, lalu mengarahkan jari kelingkingnya pada Nino dan Valencia.
“Putra dan putrimu sangat pintar, Valentino. Mereka adalah anak yang jenius.” Batin Arya. Ia tidak menyangka, bahwa kedua anak kecil itu, sudah banyak mengetahui beban perasaan yang di rasakan oleh Mommy mereka.
.
.
.
“Nino dan Valen sungguh, tidak ingin ikut jalan-jalan?”
__ADS_1
“Tidak, Mommy dan Uncle saja. Valen dan kakak tidak ingin melihat Mommy merajuk lagi pada Uncle Arya!” ujar Valencia.
Arya mengulum senyum mendengar ucapan gadis kecil itu. Sedangkan Zivanya, janda itu hanya merengut setelah mendengar celotehan Valencia.
“Mei, aku titipkan anak-anak sama kamu ya! Aku keluar dulu,” ucap Zivanya pada Mei.
“Sipp, mbak. Nikmati aja hari ini, jangan pikirkan anak-anak, biar Mei yang urus!” Mei mengacungkan dua jempolnya pada Arya dan Zivanya.
Zivanya dan Arya segera memasuki mobil, setelah mobil meninggalkan pekarangan rumah itu. Tiba-tiba Rendi datang menghampiri Mei, Nino dan juga Valencia yang masih berdiri di teras rumah.
“Mbak, itu Mbak Vanya sama Abang itu, mau kemana?” tanya Rendi to the point.
“Mereka mau jalan bareng lah!” jawab Mei. “Emangnya kenapa?” tanya Mei. Ia paham dengan maksud ABG yang ada di hadapanya itu.
“Itu bener, tunangan Mbak Zivanya?” tanya Rendi.
“Kalo iya emangnya kenapa? Terus kalo bukan kenapa?” Mei sengaja menggoda Rendi.
“Orang nanya serius juga!” Rendi mendengus kesal.
“Kakak kok kepo sekali sih sama Mommy!” ujar Valencia tiba-tiba.
“Anak kecil, mulutnya pedes banget,” gerutu Rendi.
“Kamu suka ya, sama Mbak Vanya?”
Mendengar pertanyaan Mei, Rendi jadi senyum-senyum sendiri.
“ABG gila! Sukanya sama tante-tante beranak dua.” Setelah berbicara seperti itu, Mei segera menarik tangan Nino dan Valencia dari teras rumah itu, dan meninggalkan Rendi seorang diri.
__ADS_1