
“Valen ikut Daddy Danu boleh? Minap di sana seperti dulu?”
Permintaan Valencia, membuat Arya dan Zivanya saling melempar pandang.
“Izin dulu sama Mommy dan Daddy Arya. Kalau mereka mengizinkan, Daddy akan bawa Valen minap di apartemen malam ini,” kata Danu dengan lembut.
“Daddy, Mommy, boleh gak?” gadis kecil itu menatap Mommy dan Daddy-nya dengan penuh harap.
“Van,” ucap Danu pelan. Pria itu menatap Arya dan Zivanya bergantian.
“Boleh!” sahut Arya tiba-tiba.
“Horee.. Sayang Daddy Arya banyak-banyak!” Valencia berlari dan memeluk Daddy-nya yang duduk di sofa.
“Abeng!” Zivanya hendak protes, tapi Arya memberikan isyarat agar Zivanya tetap diam. Dan akhirnya, Zivanya terdiam.
“Kalau begitu, Daddy pesan taxi. Setelah taxi-nya datang, kita bisa segera berangkat,” kata Danu.
“Kamu mau bawa Valen kesana, apa gak akan jadi masalah sama Kinanti?” tiba-tiba Zivanya angkat bicara. Ia takut, dengan hadirnya Valencia membuat Kinanti salah paham dan curiga, hingga hubungan suami istri itu menjadi renggang.
“Gak akan, dia yang kasih saran ke aku. Buat datang kesini nengokin Valen,” kata Danu jujur.
“Ya udah, terserah kamu. Aku gak mau kalau sampe ada masalah, nama keluarga ku ikut terseret!” ujar Zivanya. Lalu, ia pergi meninggalkan Danu, Arya dan Valencia yang berada di ruang tengah rumah itu.
“Taxi-nya cancel aja. Kamu bawa mobil yang ada dibawah,” kata Arya.
“Aku sama Valen naik taxi aja, Ar.” Tolak Danu.
“Iya, bawa mobil Abeng aja. Lagi pula besok kamu bakal kesini lagi buat anter Valen!” tambah Zivanya yang sudah kembali dari lantai atas sembari membawa tas ransel kecil milik Valencia.
“Tapi, Ar, Van. Aku-“ Arya memotong perkataan Danu dengan cepat.
“Gak ada tapi-tapian. Ini ambil!” Arya melempar kunci mobilnya pada Danu. Dengan sigap, Danu menangkap kunci itu.
__ADS_1
“Makasih ya, kalian berdua emang baik banget,” kata Danu dengan perasaan tidak enak hati.
“Ayo, dad. Nanti kesorean,” kata Valencia yang telah menggendong tas ransel kecilnya.
“Daddy, Mommy.. Malam ini Valen main dulu ya ke tempat Daddy Danu.” Gadis kecil itu mencium punggung tangan Arya dan Zivanya bergantian.
Setelah itu, Danu menuntun gadis kecil itu keluar dari kediaman Arya dan Zivanya. Valencia begitu senang, seakan ia telah melupakan jika Danu pernah menyakiti dirinya, mommy serta kakak nya.
Di jalan, Valencia terus berceloteh ria. “Daddy, boleh tidak kalau Valen minta dibelikan ice cream,” kata Valencia pada Danu.
“Boleh, nanti kita mampir di kedai yang ada di simpangan sana!” tunjuk Danu. Ia mengemudikan mobil Arya dengan pelan.
Kini, sampailah Danu dan Valencia di kedai ice cream. Valencia mengambil 3 cup ice cream pelangi.
“Apa lagi, sayang?” tanya Danu.
“Ini saja, udah cukup kok,” kata Valencia.
.
.
.
Kinanti yang mendengar suara deruan mobil di depan apartemen itu, segera berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Dilihatnya, mobil Ferarri hitam dengan harga selangit terparkir di depan apartemen itu.
Tampak Danu turun dari dalam mobil itu, tapi ia tidak langsung mendekati Kinanti. Membuat Kinanti mengerutkan kening, pasalnya suaminya itu berjalan memutar dan membuka pintu mobil samping kemudi.
Kinanti terkejut, saat melihat suaminya menggendong Valencia dari dalam mobil Ferarri itu.
“Udah pulang, bang.” Sapa Kinanti.
__ADS_1
“Iya, aku bawa Valen kesini,” kata Danu. Ia menggendong Valencia memasuki apartemen. Kinanti mengekorinya.
“Kenapa dia bisa ikut? Apa Mbak Vanya dan suaminya itu yang mengizinkan?” tanya Kinanti.
“Iya, dia ingin ikut. Jadi Arya dan Zivanya mengizinkan,” kata Arya. “Kamu udah masak?” tanya Danu.
“Udah, aku sengaja masak banyak buat kita makan malam.”
Valencia yang di turunkan oleh Danu segera berlari menuju ke kamar Danu. Ia tidak tahu, jika Daddy-nya itu sudah tidak tidur sendiri lagi.
“Daddy, apakah aunty ini akan tidur bersama kita?” tanya Valencia dengan polos. Jujur, anak itu tidak suka dengan Kinanti. Karena menurutnya, Danu meninggalkannya waktu itu karena Kinanti.
“Ya, sayang. Lagi pula, dia bukan aunty. Dia adalah Mommy Valen juga,” kata Danu.
“Mommy Valen? Bagaimana bisa? Bukankah aunty ini yang sudah jahat pada Valen waktu itu?” tunjuk Valen pada Kinanti yang ada di samping Danu.
Serasa di tampar dengan keras, Kinanti hanya bisa menatap sendu pada Valencia. Ia tidak menyangka, jika seorang anak kecil begitu ingat dengan semua kelakuan buruknya.
“Aunty tidak jahat, saat itu dia sama seperti Daddy. Valen sudah memaafkan Daddy kan?” tanya Danu, Valencia pun menganggukkan kepalanya. “Kalau Valen bisa memaafkan Daddy, berati Valen juga harus bisa memaafkan aunty Kinanti. Dan memanggilnya dengan sebutan Mommy,” kata Danu.
“Oh, begitu. Jadi panggilnya mommy juga?” tanya Valencia. “Terus kenapa? Perut Mommy Kinanti buncit seperti itu?” Valencia menunjuk perut Kinanti yang sudah mulai membuncit.
“Hahahaa!” Danu terbahak. “Ada adik kecil didalam perut Mommy Kinanti,” kata Danu sembari menahan tawa.
Mendengar kata adik, Valencia segera berjalan pelan ke arah Kinanti.
.
.
.
BERSAMBUNG!
__ADS_1