PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)

PENDAWA (Pesona Janda Anak Dua)
Chapter 7


__ADS_3

“Pak! Tolong beri saya waktu, sebulan lagi! Saya berjanji akan melunasi semua hutang-hutang, Saya!” Zivanya memegangi pergelangan tangan seorang pria yang sedang mengeluarkan barang-barang nya dari dalam rumah.


Orang itu menatap Zivanya. Ia menyunggingkan sedikit senyumannya. “Maaf! Kami hanya menjalankan tugas, Mbak Zivanya sudah telat dua bulan membayarnya. Dan sekarang, terpaksa kami harus mengsegel rumah ini dan juga butik milik Mbak Zivanya, serta mengambil kendaraan yang Mbak Zivanya miliki.”


“Tolong, Pak. Tolong beri saya sedikit waktu lagi! Kasian kedua anak saya,” kata Zivanya yang terus mengiba.


“Sekali lagi, kamu minta maaf. Kami hanya menjalankan tugas!”


“Hiks! Mommy, kita akan pindah kemana?” Valencia menangis di pelukan Mei, pengasuhnya. Anak kecil itu sudah menggendong tas ransel berwarna pink nya dan juga boneka kecil yang ada di tangannya.


“Kita harus pergi meninggalkan rumah ini secepatnya, sayang. Kita tidak bisa lagi tinggal disini,” kata Zivanya yang duduk berjongkok di depan putrinya yang sedang di peluk oleh Mei itu.


“Tapi kenapa? Kenapa mereka jahat sekali, mengambil rumah kita,” kata Valencia. Membuat Zivanya merasa bersalah.


“Maafkan Mommy, anak-anakku! Mommy melakukan semua ini, demi keselamatan kita. Mommy takut, Danu akan menyakiti kalian karena semua yang kita miliki ini.” Batin Zivanya.


“Silahkan tinggalkan tempat ini!” Setelah beberapa orang dari pihak Bank selesai mengeluarkan semua barang milik Zivanya, anak-anaknya dan juga Mei. Mereka segera di suruh pergi.


Zivanya menarik koper besar, dan juga tas ransel yang juga besar. Begitu juga dengan Mei. Pengasuh Valencia yang sudah seperti adik Zivanya itu, ia juga menarik koper besar.


Nino juga tidak tinggal diam, anak yang berusia 6 tahun itu, ikut membantu Mommy nya membawakan barang yang cukup ringan.

__ADS_1


“Mommy, kita akan kemana?” Valencia bertanya dengan air mata yang terus mengalir.


“Dedek jangan menangis, kakak yakin. Mommy pasti akan memberikan yang terbaik untuk kita,” bujuk Nino. Anak itu mencoba untuk menghibur adiknya, meski ia sendiri juga sedang di rundung kesedihan.


Zivanya dan Mei, memasukan barang-barang mereka ke dalam taxi yang sudah di pesan Zivanya lebih awal.


Dua orang terus mengintai Zivanya dan anak-anaknya. Mereka benar-benar tertipu oleh rencana Zivanya yang pura-pura mengalami kebangkrutan itu.


“Lihatlah sayang! Untung aku tidak jadi menikahinya, jika jadi. Kekasih mu ini akan kesulitan karena mengurus janda itu dan kedua anaknya,” ucap Danu kepada Kinanti.


“Aku tidak menyangka, dia bisa bangkrut secepat ini!”


“Untung saja, dengan uang yang di berikan nya itu, kita sudah berhasil membangun perusahaan, meski perusahaan itu belum berkembang pesat,” ucap Kinanti sambil memeluk lengan Danu.


“Lihatlah! Dia memasuki taxi itu, akan kemana dia membawa kedua anaknya,” kata Danu sambil menujuk ke arah Zivanya dan Mei yang sibuk memasukan barang-barang mereka ke dalam taxi.


“Kita tidak ada lagi urusan dengan mereka, sayang. Jadi biarkan saja,” kata Kinanti. “Lebih baik, sekarang kita kesana dan mengucapkan selamat pada janda itu!” ujar Kinanti.


“Ide yang bagus!” Danu menyalakan mesin mobilnya, lalu ia melajukan mobil itu perlahan ke arah Zivanya berada.


Tin! Danu menghidupkan klason mobilnya tepat satu meter dari tempat Zivanya berdiri.

__ADS_1


Zivanya menatap Danu yang sedang menurunkan kaca mobilnya.


“Daddy Danu!” panggil Valencia saat melihat Danu yang berada di dalam mobil.


“Mau apa lagi kamu?” Zivanya menatap tajam ke arah Danu dan kekasihnya itu.


“Gak mau apa-apa! Cuma mau ngasih selamat atas kehidupan kamu yang baru.” Danu berkata dan juga tersenyum mengejek ke arah Zivanya.


“Aku berharap, hidupmu dan kedua anakmu akan menjadi semakin sulit!” lagi, bukan hanya Danu yang mengejek. Tapi, Kinanti yang berada di sebelah Danu ikut mengolok Zivanya.


“Manusia-manusia jahat! Suatu saat nanti, kalian berdua akan mendapatkan karma atas perbuatan kalian!”


Setelah itu, Zivanya membawa kedua anaknya memasuki taxi. Begitu juga dengan Mei. Mereka segera meninggalkan Danu dan juga Kinanti yang tersenyum puas pada penderitaan yang di alami mereka.


“Kak, siapa perempuan yang bersama Daddy Danu? Kenapa Daddy Danu jadi jahat seperti itu?” tanya Valencia lirih kepada kakaknya.


“Dia itu kekasih Daddy Danu. Daddy Danu tidak berubah jahat, dari awal dia memang sudah jahat!” jelas Nino. Mendengar penjelasan kakaknya, Valencia terdiam.


Valencia anak berusia 3 setengah tahun, sulit baginya untuk menerima semua kebenaran itu.


BERSAMBUNG!

__ADS_1


__ADS_2