
“Mei!” pekik Willy dengan kencang. Ia segera melempar tas yang ada di tangannya dan segera menghampiri istrinya yang sudah tidak sadarkan diri itu.
“Mei, bangun Mei! Kamu kenapa kayak gini?” Willy mengusap darah yang keluar dari hidung istrinya.
Mei tidak sadarkan diri di lantai kamar itu, dengan darah yang keluar dari area bawah dan juga hidungnya. Membuat Willy panik di buatnya.
“Mei!” Willy memeluk tubuh istrinya itu. Ia begitu khawatir, ia juga menyesal karena telah memarahi istrinya itu.
“Astaga! Mei kenapa, Will?” pekik Arya saat melihat kondisi Mei.
“Gak tau, bang. Tadi dia baik-baik aja, tapi pas aku liat dia udah kayak gini!” Willy segera mengambil selimut untuk membalut tubuh istrinya itu. Ia pun segera membopong tubuh itu keluar kamar.
“Mei pendarahan,” ucap Zivanya. Terlihat, Zivanya langsung menangis. Dengan pelan ia mengikuti Willy menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa itu.
“Sayang, bertahan! Aku bakal bawa kamu kerumah sakit,” kata Willy sembari memasuki mobil.
“Beng, aku ikut!” pinta Zivanya pada suaminya itu.
“Nino gimana? Dia sendirian di rumah,” kata Arya.
“Telpon aja Danu, minta dia buat jemput Nino. Aku pengen nemenin Mei,” ucap Zivanya sembari menangis.
Akhirnya, Arya segera menghubungi Danu. Agar Danu menjemput Nino yang sedang tidur sendirian di dalam kamarnya.
Arya segera mengendarai mobilnya yang membawa Mei dengan kecepatan tinggi. “Sayang, ikat bawah perut kamu!” ujar Arya. Ia takut, sesuatu terjadi pada kandungan istrinya yang sudah masuk usia 9 bulan itu.
“Bang, tolong tambah kecepatannya lagi! Willy takut, bang!”
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Arya, Zivanya dan Willy yang membawa Mei sampai di rumah sakit. Mereka segera turun tergesa-gesa dari dalam mobil. Arya membantu Willy membopong tubuh Mei masuk ke dalam rumah sakit itu.
Terlihat, Zivanya dan Willy terus menangis. Mereka takut terjadi hal yang tidak di inginkan pada Mei.
“Bang, gimana ini? Kenapa dokter lama sekali keluarnya,” kata Willy. Pemuda itu terus meremas jemarinya sendiri. Matanya memerah, ia begitu menyesali perbuatannya. Jika tahu akan jadi seperti ini, ia pasti tidak akan memarahi dan mengusir istrinya itu.
Lebih setengah jam dokter dan suster menangani Mei di dalam ruangan UGD. “Bagaimana ini dokter?” tanya salah satu perawat pada dokter yang menangani Mei itu.
“Saya akan periksa sekali lagi, semoga kali ini hasilnya negative!” ujar Dokter itu. Tampak, kening dokter itu terus berkerut.
Sedangkan di luar ruangan itu. Arya, Zivanya dan Willy begitu cemas.
“Gimana ini? Mei kenapa sebenernya?” Zivanya memeluk pinggang Arya. Tampak, tubuh Zivanya terus bergetar. Ia tak henti-henti nya menangisi keadaan Mei.
“Sabar, berdoa sama tuhan. Semoga keadaan Mei baik-baik,” kata Arya.
Setelah lama menunggu, akhirnya dokter keluar dari ruangan UGD tempat Mei di tanganni.
“Dengan keluarga pasien?” tanya dokter itu pada Arya, Zivanya dan Willy.
“Saya suaminya,” kata Willy.
“Kami kakak nya,” kata Zivanya pula.
“Bisa ikut ke ruangan saya,” kata Dokter itu. Arya, Zivanya dan Willy segera mengangguk dan mengikuti langkah dokter itu memasuki ruangan nya.
“Apa yang terjadi pada istri saya, dokter?” tanya Willy dengan tidak sabaran.
__ADS_1
“Maafkan saya, dengan berat hati saya harus menyampaikan berita ini,” ucap Dokter itu. Dokter itu menatap wajah ketiga orang yang ada di hadapannya itu bergantian. “Istri bapak menderita kangker. Ada tumor ganas di dinding rahim nya, hingga menyebabkan dia mengalami pendarahan hebat!” jelas dokter itu.
“Hahaha! Gak mungkin dokter, ini semua pasti salah. Gak mungkin dokter,” kata Willy. “Hiks.. Bang, mbak. Ini semua salah kan? Gak mungkin!” bibir pemuda itu tertawa keras, tapi air matanya terus menetes.
"Hiks.. Gak mungkin, ini gak mungkin. Ya tuhan, Mei," ucap Zivanya. Setelah mendengar penjelasan dokter, tangis Zivanya semakin menjadi.
“Ini lah kebenarannya, pak. Saya juga berharap, semua ini salah!”
Buk! Buk! Willy memukul wajah dokter itu dengan membabi buta.
“Willy, jangan kayak gini! Kontrol emosimu!” Arya menarik tubuh Willy dari hadapan dokter itu. Di peluknya tubuh Willy yang mulai melemas.
“Dokter itu pasti salah, bang,” ucap Willy dengan lirih sembari menunjuk dokter yang ada di sampingnya.
"Iya, dokter itu salah. Tolong tenangkan dirimu,." Arya mengusap pungung adiknya itu.
.
.
.
BERSAMBUNG!
*
Sembari nunggu up, bisa mampir di karya kakak online Neng yang ada di bawah ini, ya!
__ADS_1